WOMEN’S POETRY

O women’s poetry to whom the word should be pronounced when the nib shot, stuck on the door-key.
And also to the foot of the street has been asked to immediately arrive at the front of a painting of the living, because the liver is the language of honesty question, or I stay dust diceruk your eyes!

O women’s poetry, so pat seven boys die in your hands. And the city is burning, gedunggedung collapse, children choked river that flows toward the sea, and the fire of anger puingpuing batangbatang the merangas melt.
And the season has given khabar that the word should be in the wake before the sun blew up your breasts!

O women’s poetry, on the lush full moon light eyes have been implied in the mengema dzikirdzikir sin fly ash, which we express are like Adam and Eve story written for our own

Iklan

Night Feast

I looked in your eyes bleary
Eyes flew over the restless sea of rolling waves. Creating silence hit the air waves.
Everything slowly pushed implied, express a decision we had to split up.
And the universe was asleep, resting in the arms of eternity leave our dreams are broken whisper embedded in sand.

( langit, 2908211 )

Breasted sea field that stores confidential and will not talk

Under water flying from the sky
My body is a foggy walk on air
I’m like an old tree Rengas
As if forgetting the time to rest in its own

It’s like the story of the past
Who for centuries tried to get up
Finding the door of the latter
Like the wailing wall I was banging on the remaining power
For expectations to soar

And to all the upright love should go far
Learning to smell the scent of summer in this month
Hot as cries of wild birds
And the sky was filled with dreams
But, I do not know how to fly

Each is touched by the light of my eyes
Growing looming grief and longing of love
If re-blossomed at the heart of the world’s salt
Which gives flavor and color to life

Goodbye,
Breasted sea field that stores confidential and will not talk
Sands of time have been eroded to a constant change
Love is not enough of them have even gone and re-

Now, before writing rhymes kusudahi most restless
Want to smell my chest, hear your heart degub
There, I feel there are thousands of children shepherd plays the tambourine
And I will melt in there, in the song of your soul

(Langit, August 2011. I saw thousands of arrows shot blocking sunlight)

KEPADA KAU, LAUT YANG BERDADA LAPANG YANG MENYIMPAN RAHASIA DAN TAK MAU BERBICARA

Dibawah air yang beterbangan dari langit
Tubuhku berjalan diatas udara yang berkabut
Aku seperti pohon rengas tua
Seolah-olah lupa waktu beristirahat dalam dirinya sendiri

Ini seperti cerita masa lalu
Yang berabad-abad mencoba bangkit
Mencari pintu yang terakhir
Seperti tembok ratapan aku memukul-mukul dengan sisa tenaga
Untuk harapan-harapan yang membumbung tinggi

Dan kepada cinta harus segenap ihklas pergi jauh
Belajar membaui aroma musim panas di bulan ini
Panasnya seperti teriakan dari burung-burung liar
Dan langit pun penuh dengan impian-impian
Tapi, aku tidak tahu bagaimana untuk terbang

Setiap yang tersentuh oleh cahaya mataku
Tumbuh menjulang duka dan rindu pernyataan kasih
Jika bersemi di hati kembali itulah garam dunia
Yang memberi rasa dan warna pada kehidupan

Selamat tinggal,
Laut yang berdada lapang yang menyimpan rahasia dan tak mau bicara
Pasir waktu telah terkikis untuk sebuah perubahan yang konstan
Cinta saja tak cukup meskipun dari mereka telah pergi dan kembali

Kini, sebelum kusudahi menulis sajak yang paling gelisah
Ingin ku membaui dadamu, mendengar degub jantungmu
Disana aku merasakan ada ribuan anak gembala memainkan tamborin
Dan akupun lebur didalam sana, didalam nyanyian jiwamu

( LANGIT, Agustus 2011. Aku melihat ribuan anak panah melesat menghalangi cahaya matahari )

PADA CATATAN TERAKHIR

Gadis,

Menutup pintu, dan memulai memainkan beberapa lagu

Sesaat menarik sebilah mata pisau

Dalam diam ia berdoa

Dan menangis menatap mata pisau

Mengingat bagaimana sebuah pisau

Mengantarkan ke titik ini di tempat pertama

Mengingat rasa tajam dan aroma darah memercik

Berlari dengan kehidupan dari satu yang ia cintai

Kau mengingat tatapan dingin kekasihmu

Dan, kau teringat nuansa pipi yang dingin dan mati di pemakaman

Lagu-lagu berakhir

Dan kau menghujam dada kiri

Pada catatan terakhir

Mengakhiri semua selamanya…

( langit kober, 2010 )

BETAPA IMPIANKU PADAMU MELUBUK HATI

Betapa impianku padamu melubuk hati.
Susah payah kami jadi sama asingnya, jiwaku pun kini akan dibinasa pula, yang malang satu ini, takut sepi menjadi.

Tiada berharap bakal terkembang layar.
Cuma ini jarak, putihnya sunyi dalam ketakberdayaan kehendakku ini sengal kecemasan rinci terdengar.

( RAINER MARIA RILKE ) Penerjemah : DUDY ANGGAWI