Tragedi Al Batros

Malam yang semakin layu
jatuh terkulai pada ranjang sepi
wajah yang kini semakin purba di sisa usia,tertawa terkikik…,melihat penyair kecil memutar waktu,memunggut kembali masa kanak-kanak.

Dibawah deras hujan,
bercelana kolor dan bertelanjang dada,ia terus berlari mengiring bola membelah lapangan Al batros.
Liuk sana,liuk sini.
Dengan gocekan ala Maradona,melewati tiga pemain lawan.
Tubuhnya yang kecil kini berhadapan dengan sang penjaga gawang.
Tipu sedikit kekiri !
Secepat kilat ia lesakan bola

Gol!!!

melonjak aku kegirangan
saking senangnya aku
celana kolor berwarna biru tua tak tahan getaran,mendarat mulus pada hamparan tanah becek Al Batros.

Lari,aku lari (sambil menahan dingin)
wajahku memerah layu
hilang,dibalik pohon Mahoni.

Hujan yang semakin deras
petir menyambar-nyambar
Kini,hanya celana kolor berwarna biru tua mengigil ketakutan di tengah lapangan tak bertuan.

Penyair kecil menghela nafas panjang. Lalu,tersenyum haru.
Memandangi kembali foto dirinya yang imut-imut saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

warung akringan cak Mat,Juanda.22.Nov.08

Memahat Kata

Kata-kataku membatu!
Menjadi batu hitam pada dasar hatiku
Sepanjang malam kuselami
mengangkut bongkahan demi bongkahan batu kata.

Pada tepian bibir telaga cinta
disana kupahat dan kuukir namamu
walau luka pada jari jemariku semakin mengangga

Sebelum ayam jantan berkokok membangunkan waktu shubuh
kata puisi sudah kupancangkan dilembah hatimu.
Disana,bait demi bait kata puisi
namamu terukir bersama darahku.

saat kau membaca kata puisiku
Aku sudah meninggalkan telaga cinta
menuju negeri tak bertuan
Disana aku akan memahat batu nisanku sendiri.

Sunan Kalijaga

Compang camping jiwa menuju lembah Cinta
bertapa pada keheningan rasa,menusuk jiwa pancaindera.
semak belukar tumbuh merabat pada tubuh, diam membisu menyatu pada alam semesta.
Semesta bersinar sudah menyaksikan seorang begudal mencuci: jiwa panca indera dan qalbnya pada sungai kehidupan.

langitjiwa

Bila Saja

Dibawah sumpah atas Nama Tuhan.
aku sematkan cincin emas dilingkar jari manismu yang terukir;namamu,namaku.
Kelak itu akan menjadi kenang

Di wajah senja yang memerah jingga kita berdua menikmati secangkir teh di beranda depan rumah,sesekali kita bertatapan tanpa ada yang mau kita katakan.Hanya dengan bahasa rasa dihati untuk memaknai percakapan mata kita.
Kini,wajah kita telah usang pada sisa usia yang semakin matang pada pohon kehidupan.
Helai demi helai rambut memutih,
serupa kapas pada pucuk-pucuk pohon randu.
Melihat dirimu pun aku harus sedekat mungkin.
Karena apa? Mata sudah tak awas daya pengelihatannya,seperti membaca peta buta dibola matamu

Rumah kecil ini menghadap pematang sawah
setiap pagi tiba,cahaya matahari menusuk jendela kamar bersama angin pagi yang menderu untuk membersihkan sisa-sisa nafas kita
( itulah salah satu kegiatan kau dan aku menikmati rasa syukur kepadaNya)

Rumah yang dulu ramai dan gaduh oleh tingkah anak-anak
Kini,tinggal sepi tergores pada dinding waktu.
Anak-anak telah menjalani kehidupannya masing-masing.
kita akan selalu merindukan kedatangan mereka bersama buah hatinya
Dimana pada rumah kecil ini sepi akan tercerai berai, oleh tingkah polah cucu-cucu kita yang selalu mengemaskan.

Kini,kau dan aku,Hanya bisa tersenyum kala
mengingat tiga puluh tahun yang lalu. Saat aku pinang kau dibawah sumpah atas Nama Tuhan untuk menjadi istriku dan eyang bagi cucu-cucu kita.

malam ini jari jemari tanganku menangis,bila saja kata-kata ini kutulis saat aku sudah uzur pada sisa usiaku.Semoga.


langitjiwa.

Membaca dan Mengeja

saat aku menulis ini
matamu menatap penuh arti kata-kata yang kugoreskan.
kau mengeja kata demi kata dalam rasamu untuk mencapai puncak bunyi.
(mengingatkan aku kembali pada masa kanak-kanakku dulu.Membaca dan mengejapun masih aku lakukan sampai saat ini)
sayangku,apa yang kau baca pada kata-kata puisiku,masih dalam proses mencari bentuk dan masih jauh perjalanannya.

kau tersenyum
Lalu,kau mengusap peluh yang membasahi kerut-kerut diwajahku.
wajah yang kini hanya sepenggal kisah,usang disisa usia.
serupa:dedaunan yang letih tergantung pada ranting yang rapuh.

lihat,cahaya lampu kandil membuat bayangan tubuh kita menjadi lukisan dinding pada rumah kecil ini dengan ladang hujan yang tak terlalu luas dibelakangnya,disana kau menghabiskan waktumu untuk menyulam helai demi helai benang wol untuk kau jadikan sebuah celana kecil bagi jabang bayi kita kelak.
Semoga bola matanya mirip dengan bola matamu yang indah
yang selalu bercahaya menerangi setiap langkah perjalanan hidupku.

malam yang semakin sunyi kuakhiri kata puisiku
dimana kata yang selalu kutemui dan kuambil pada celah-celah batu yang tersembunyi dihatiku.
lembaran demi lembar kertas putih sudah kulipat dengan rapih dan
kusimpan dalam keranjang.
Esok malam akan kutulis kembali kata puisiku
yang akan membuat bergetar hatimu,merontokan rasamu.
hingga kau tertidur dalam pelukan kata-kataku!

langitjiwa

Menunggu Hujan Reda

senja yang semakin layu
tak kuat menahan bulir bulir airmata langit
tumpah deras menghanyutkan rasaku untuk segera pulang
jarum jam dinding tertawa terkikik…
melihat seraut wajah gelisah
terdampar pada gelap malam
yang telah menelan senja tersayang

kantin Mahoni09

Takut

bunyi petir mengelegar!
sepi tercerai berai
gendang telingaku bergetar
jiwaku mengigil,merontokan rasaku.
aku berlari dengan cepat
sembunyi dibalik jubah ibu
aku kira itu bunyi terompet Sangkala yang akan melipat bumi malam ini!

Juanda.20109.