reva…

Hanya doa yang mendidih pada Altar Gereja ini dibulan yang basah oleh riuh rincik hujan.
Kau menerawang jauh melihat lintasan-lintasan kemauan dicakrawala semesta
jangan biarkan api cinta di dalam lampu kandil padam biarkan tetap abadi didalam genggamannya
Matahari pagi yang kilau membangunkan bunga-bunga di taman hati
Biarkan cinta itu tumbuh menyeruak keangkasa luas.
Biarkan angin membawanya kemana ia suka.

Diatas langit jiwaku.

Jakarta.2006.
l a n g i t j i w a

Iklan

penyair….

penyair..
kamu bertapa pada langit malam
mencari kata-kata pada dasar hatimu
menguras tinta pada lautan jiwamu

bersama mata pena pada tanganmu
mengores rembulan
agar tercipta ruh
pada kata-kata puisimu

melayang diri,
tak bersuara.
hanya suara rasa datang dari dalam jiwa dan hati.
untuk membuka pintu yang didalamnya tersimpan berjuta makna dan arti .

bersama ribuan anak panah kata
turun dari langit malam
menghujam hati
tercipta sudah kata-kata,yang kau tulis pada setiap baris demi baris.pd mlm ini.

sidoarjo…….( langitjiwa )

bersama kita sore ini…

nak..
hari ini berdua kita bersama
melewati jalan ini
hanya untuk melihat puncak gunung Arjuna
katamu gunung itu indah sekali
aku jawab iya
keindahan itu berasal dari Cinta sang Tuhan..

kita bersama berdua
menaiki ini sepeda
menelusiri jalan sore ini

nak..
erat sekali kamu rangkul punggung ayah
bersatu jiwamu dan jiwaku..
hatimu hatiku
menatap cakrawala Cinta sang Tuhan
terberkahi pada sore ini

sesekali kau hisap es lilinmu
terjatuh tetesan kebajumu

jalan masih panjang
doa ayah akan selalu ada dalam dirimu
kelak kau akan mengantikan aku

sore ini kita bersama
menaiki ini sepeda berdua
cerita sore ini akan ku’jadikan kata-kata sajakku dalam hati’ku
dan akan aku ambil tinta dari lautan cinta pada jiwaku.

karena empat tahun yang lalu Sang Tuhan menciptakan kamu
dan mengeluarkanmu dari rahim yang terkasih

cepat sedikit,ayah.pintamu
karena bunda hari ini berulang tahun..

kupacu laju sepeda jenki’ku
terpa angin kau punya rambut
wangi tercium

semakin jauh gunung arjuna dari pandangan
mataku matamu..

sore ini kita bersama
membawa cinta
untuk kita berikan kepada yang terkasih
bundamu…….

sepanjang jalan juanda………

oh..dewi persik…….

jendela kamar pagi ini terbuka dengan lebar bisa aku melihat gunung arjuna.seperti biasanya udara dalam kamar terganti oleh udara pagi dimana kamar sudah pengap oleh asap rokok.
seperti biasanya melihat si’upik bersenda gurau dengan adiknya. Ya mereka adalah buah hati aku yang memberi kekuatan dalam diri ini. Baca lebih lanjut

aku terkapar oleh waktu..

laju ku’pacu sepeda motorku
tak’ku hiraukan lampu merah menyala
matahari bersinar cerah
tepat diatas kepala’ku

deru mesin
deru nafas
berlomba mengejar waktu
waktu dikejar
ia berlari lebih garang
siapa kamu dan siapa aku

waktu melibas hari
aku dan kamu..
tergesa-gesa saat terbangun dari kasur kita
untuk menyosong sang waktu
ah..!
satu kedipan mataku
waktu sudah bergerak cepat

melangkah pada pintu
ia sudah berlari didepan jalan gang
berlari menuju pada jalan
ia sudah raib entah kemana…

tiba-tiba…
bergetar handphone dalam saku depan celana jeansku
terpaku sejenak
karena getaran itu
menghentakan raja kecilku..

menepi pada jalan
wow…
sms dari yang terkasih

“mas,sudah satu jam aku tunggu kamu.cepat sedikit..yah..?”
cepat ku’tancap gas
berlomba dengan waktu
karena mendung sudah menghiasi langit siang ini…..

laju’ku..laju…
selip sana selip sini
goyang sana goyang sini
brak..!!!
mata berkunang-kunang

“sayangku,siang ini aku terkapar oleh waktu………..”

gelap………

langitjiwa……..

Allah..Allah..Allah..

Allah…
Allah…
Allah…

pelan terdengar
sayup-sayup
menelusuri
lembah rasa jiwa

hening…
membelah Qalb
terdiam pancaindera

Hu…Alllah
Hu…Allah
Hu…Allah

bergerak…
menari pada langit Hu….
sunyi pada kesadaran ingsun

pelan…
pelan…

Allah…
Allah..
Allah..

hilang…
hilang…
hilang..

ingsun berdiam pada Hu…

langitjiwa……..