Luka Jiwaku.

Menatap bulan purna dilangit kerinduan.
Sungguh membawa pikiran hatiku kedalam celah dinding kesunyian.
Haruskah aku tersiksa seperti ini,Jane.
Karena cinta,berapa banyak airmata yang tumpah
mengelora,menghantam dinding jiwaku.
Dinding jiwaku bukan batu karang yang kokoh untuk saat ini,Jane.

lalu,
Deru angin malam telah menghempaskan diriku pada ujung dunia ini.
Melintas jagad,menuju kau berdiam diri dilembah hutan sepi malam
Yang dimana mengalir mata air cintamu.
Untuk kureguk dengan kedua tangan,untuk kualiri kedalam bibirku,bibirku bergetar.
Rasanya mengalir jauh kedalam peredaran darahku
Panas pada jiwaku hilang tersiram oleh mata air cintamu.
Inginku tenggelamkan tubuhku pada mata air cintamu,Jane.
Karena Jiwaku untuk saat ini sudah terlalu panas merah membara.
membakar habis jiwaku.
Karena aku tak mau jiwaku habis terbakar menjadi debu kegelisahan.
Mungkin inilah sebuah luka dan duka jiwaku
Yang telah menghianati ketulusan cintamu.

l a n g i t j i w a

Iklan

Coretanku

Di bibir senja
Masih kau duduk ditepi sungai merah,mengantar matahari menuju peraduan.
Dimana ia akan merebahkan tubuhnya di barat wajah sang bumi.
Kemudian,tubuh kecilmu tersinari mata bulan. Maka bayangmu menari-nari di arus sungai merah,menciptakan lukisan jiwa yang tercipta dari cahayanya.

Ketika itu pula kesunyian datang,daun-daun tertunduk. lalu,menyembunyikannya di celah batu hitam yang terselimuti oleh hijau lumut kerinduan.

Angin malam menerpa wajahmu,kau tak bergerak.Diam.

Ketika itu,aku melihat tubuhmu terbaring dibawah rindang cahaya bulan purna. Sambil kau genggam sapu tangan berwarna biru.
Sapu tangan terlepas dari genggam tanganmu.
Terbang bersama Ruhmu menuju lembah Jabarut.
Dan hinggap pada ranting pohon KeAbadian.
Dimana aku telah menantimu.

l an g i t j i wa

Ruang Kamar,Ruang Jiwa,Ruang Pencarian

Ruang kamar ini tidak terlalu luas,disini aku menghabiskan malam sepi untuk mengembara mencari kata-kata. Di sudut kamarku ada lemari cermin terbuat dari kayu jati, sudah cukup lama ia berdiri di sudut kamar ini.
Di atasnya tergantung sebuah fotoku,saat aku masih berusia tujuh tahun.Wajahku mirip dengan ayahku.
Setiap aku memandang fotoku,aku selalu teringat ayah. Yang dimana ia selalu menemaniku untuk melihat bintang-bintang di langit malam dari balik jendela kamar ini.
Kadang aku melihat ayah dari balik bantal gulingku,ia menghabiskan malam dengan menulis sajak atau apa saja yang ayah suka,pasti ayah akan menulisnya. Sesekali dihisap rokok kreteknya dalam-dalam sambil memainkan jari jemari ayah pada lembaran kertas putih yang agak sedikit buram warnanya.

Kadang tergoda aku untuk bertanya kepada ayah.
Untuk apa ia menulis ditengah malam sepi bersama waktu yang telah menjadikannya mengembara di hutan kata-kata.
” Anaku,aku menulis bersama jiwa dan hatiku untuk mengali hakikat kata-kata yang teranugrahi dariNya. Bagai pejalan CintaNYa mencari hakikat kesejatian hidup. Ia arungi samudera jiwanya untuk mencapai pada pintu kesejatian diri.Ia menempa diri di kedalaman IlmuNYa,di samudera TahuidNYa.
Begitu pun ayah,menempa diri di tengah malam sepi untuk menciptakan sebuah kata-kata yang tertiupi oleh ruh kesejatian kata-kata itu sendiri.
Pejalan Cinta dan begitu pun ayah sedang menuju sebuah proses mencari bentuk. Bagai kepompong didalam balutan kulitnya,dimana kelak kupu-kupu itu akan terlahir dengan indah. Beraneka warna pada sayap-sayapnya begitupun dengan bentuk tubuhnya.Akan tercipta keindahan yang hakiki.
Berdiam diri pada keheningan malam untuk mencari bentuk adalah sebuah proses yang harus dijalani,walau itu berliku dan mendaki untuk menujunya.”

” Seperti sajak Cinta yang akan ayah tulis ini.
Sudah berulang kali ayah menulisnya,tetapi kata-katanya tak akan pernah habis untuk dituliskan.Selalu ada yang baru. Dan ayah berusaha untuk menulisnya kembali dalam bentuk yang lain.
Itulah sebuah proses dalam pencarian bentuk yang ada didalam diri.
Begitupun engkau,kelak bila mata pena ditanganmu untuk memulai menulis yang ada di dalam jiwa dan hatimu,menulislah. Di saat itulah sebuah proses pencarian bentuk sudah mulai engkau lakukan. Lakukanlah!

l a n g i t j i w a

Pesan Untukmu

Bila jasadku terbaring pada tanah bumi
beri aku sejuta doa,jangan kau beri aku satu tetes airmata kesedihanmu.
karena airmata yang jatuh di tanah makamku,akan membuat aku tersiksa oleh ratap tangisan hatimu.
Sayangku,
Lambain tangan Sang Malaikat Maut telah menari-nari di ruang jiwaku.
Untuk menjemput Ruhku
menuju Kepada AlifNYA

l a n g i t j i w a

Aku Bertanya kepadamu,Siapakah Aku?

Pada awalnya aku hanya setetes mani,lalu tersimpan pada induk rahim Ibuku.
Maka,setelah melewati masa sembilan bulan berada dikandungan Ibuku.Aku lahir.
Sebelum aku lahir bapak sibuk mencari sebuah nama yang bagus dan bermakna untuk diriku.
Bapak teringat Sabda kanjeng nabi untuk memberi nama-nama yang baik dan bagus untuk sijabang bayi,bila ia kelak terlahir di alam dunia ini.

lalu,
Bila aku sudah bernama,nama diberi oleh kedua orang tuaku.
Lalu,aku pun bertanya kepadamu.
Siapakah aku saat aku belum mempunyai nama?Nama belum tercipta untuk diriku.
Saat aku masih berada didalam rahim ibuku?
Siapakah sejatinya aku?
Bersama malam dihutan sepi,aku menunggu jawabmu.

l a n g i t j i w a

Galeri

Photographer :Rarindra Prakarsa

Camera : Canon EOS Rebel XT
**
I live in Jakarta, Indonesia. Serious amateur since 1995 and A semipro photographer since 2002.

Any question about commercial use, buy artprints or any questions about photography please send me email.

And also I will answer anything about Indonesia if you will traveling to my country. Its really a beautiful and versatile country to anyone who love to photograph unique cultures, landscapes, and anything that not available in other places in the world. Bali is small part of it.

Saya fotografer Indonesia yang tinggal di Jakarta. Hanya seorang semipro yang suka memotret anak-anak, nuansa pedesaan, kaum marginal.

**
” Menikmati hasil karya foto dari Rarindra membawa saya memasuki ke sebuah dunia yang lain.Sungguh,foto-fotonya begitu sangat bercerita.”langitjiwa

l a n g i t j i w a