Dosa

di hamparan pagi
para pejalan CintaNya
menyanyikan tembang Cinta
dimana untuk memetik bunga Kerinduan pada pagi ini
dengan nyanyiannya telah membangunkan jiwaku dari tidur panjang
dimana terlelap pada peraduan tadi malam.
ketika sukma terbang melayang
menembus pada alam mimpi
hai,
pejalan Cinta,
bawa jiwaku.
bawalah aku !
bawalah aku !
bawalah aku !
bersama tembang cintamu untuk kucium wangi bunga kerinduan padaNya
karena jiwa dan hatiku telah begitu tandus
karena rasa keakuanku telah menguras habis pada mataair cintaku dan melayukan bunga kerinduanku padaNya

sebentar lagi bulan Ramadan,dibulanNya
aku ingin membakar ,
membakar!
jiwa panca inderaku
mencuci hatiku
menuju fitriNYa.

dan teruslah kau nyanyikan lagu CintaNya,hai pejalan cintaku.
karena aku mahkluk yang begitu kurang ajar sangat!
karena tak tahu harus mengucap syukur barang sejenak,
terbuang sia-sia.
terlalu banyak memikirkan keelokan tubuh dunia
yang telah menyilaukan matahatiku
dan membakar jiwaku

mata bulan menangis
matahari berduka
alam semesta terdiam
melihat jiwa dan hati mendusta padaNya

hai,pejalan Cinta!
ajari aku dengan baik dan benar
untuk mengucap kata syukur
pada sisa usiaku ini.
ajari aku.

l a n g i t j i w a

Makan Bersama DenganNya

tolong cepat sedikit,
siapkan piring bersama lauk pauknya
jangan lupa sambal terasi kesukaanku
harum wangi
mengoda cacing-cacing dalam perutku

bersama jari jemari kusendok nasi dalam bakul
untuk mengisi tenaga pada tubuh kecil ini

rejeki pada hari ini adalah berkah
eit! tunggu dulu!
jangan lupa ucap bismillah
dengan Bismillah kita makan bersama denganNya.

l a n g i t j i w a

Coretanku

hai…,neng!
sudah larut malam,belumkah kamu pulang?
si upik menunggumu,di depan pintu pengharapan.
sudah berapa yang kau dapat malam ini.
tak cukupkah dengan tamu yang datang malam ini
jangan kau biarkan tubuh indahmu di grogoti oleh angin malam
biarkan para pencari nikmat birahi malam ini untuk belajar tirakat,
untuk menahan hasrat mengila.

pulanglah,neng!

rebahkan dirimu,nikmati malam istirahatmu
dan,
bermimpilah dengan indah
biarkan dirimu bermain dengan mimpi-mimpi itu,
jadikan sebuah sketsa didalam ruang mimpimu
untuk kau ciptakan sebuah kisah hidup
dimana kau dan aku sebagian dari skenario cerita yang panjang,
dan kita tak tahu dimana akan berakhir cerita ini.
sudahlah,neng!?
malam semakin larut,sebentar lagi subuh tiba
dimana suara azan akan dilantunkan oleh para kekasih Tuhan.
rokok’ku sudah mulai habis
aku pamit dulu,
selamat malam,neng!
salam buat si upik di rumah,
salam manis dariku.

*warung kopi semampir .feb.2008.

Merah Putih

dibawah kibaran bendera merah putih
laki-laki itu berpesan kepada seorang bocah,
” lihat,darah sudah membasahi tubuh dan bajuku ini
tanah air ini mencium wangi darah para pejuangnya
kutitipkan padamu kain berwarna merah putih ini yang telah terbasahi oleh darahku,agar kelak itu menjadi saksi sejarah.
saksi,betapa heroiknya pertempuran pada kota ini.”
laki-laki itu menghembuskan nafasnya

Tahun berganti tahun

Di sebuah desa pada timur negeri ini
seorang laki-laki tua memandang batu nisan,yang terselimuti oleh hijaunya lumut
“hai,pahlawanku.
tanah air telah merdeka,
tanah air kita adalah belahan jiwa
kemerdekaannya adalah cahaya cinta
Dan,
kemerdekaan bagai sebuah jiwa,jiwa yang tercurahi oleh cahaya cinta.
bukan cahaya kegelapan yang membelengu jiwa,yang dimana pada akhirnya mati !”

masih kusimpan kainmu itu yang dahulu kau titipkan padaku.
masih tersimpan dengan baik,kurawat dan kujaga.
merah putih.

Merdeka!!!

l a n g i t j i w a

Dik

Sedang apa kau,dik?
aku disini sedang menulis tentang dirimu pada beberapa lembar kertas putih ini.
sungguh,kerinduan begitu datang dengan cepat mengoyang-goyang daun-daun cinta pada hatiku.
ah! dik,kamu tahu bila malam tiba,sambil ku posisikan fotomu yang tertanam pada bingkai berwarna coklat itu,kuhadapi tepat pada wajahku,lalu,aku memulai untuk menulis,menulis bersama jiwaku.

Biarkan tercipta pada malam ini,sebuah sajak,atau sebuah cerita pendek tentang apa saja,dik.
agar tak sunyi pada hati dan jiwaku.
hihihi…,coba kalau kamu ada disini,dik. tuh! lihat!dua pasang kunang-kunang menari di pucuk-pucuk ialalang,sinar cahayanya begitu indah ditemani olah cahaya bulan purnama,yang jatuh pada ruang jiwaku,dik.

malam ini,
jam dinding mengodaku,dengan detaknya ia membawa aku terus melaju menelusuri keheningan pada malamnya,dan gerimis hujan jatuh sudah mengisi telaga kerinduanku padamu.
ah!dik,maaf bila kata-kataku terlalu gombal.

selamat malam,dik.
esok malam aku sambung kembali.

( sambil berjalan menuju pada ranjang tidurku,yang tak akan pernah habis untuk menjemput mimpi bila malam telah tiba )

l an g i t j i w a