kepada: Pelangi Anakku

andra
dinding tergores warna-warni krayon anakku
garis memanjang,patah-patah
lingkaran,putus-putus,titik-titik

pada sudut kamar lemari jati tua diam seribu waktu
di atasnya tergantung foto ayah terbingkai kenang
mata ayah terukir pada matamu
mata yang siap menatap kejam dunia

kamar ini tak terlalu luas
serupa sangkar berjeruji duri kawat
ah..! itu dinding pucat!
sebelum aku lempar kwas penuh dengan warna-warni rasa

Pelangi anakku,tunggu bapakmu
sedang menampung tetes-tetes rejeki
untuk membelikan mobil-mobilan terbuat dari kayu nangka
Bapakmu ini hanya seorang kuli angkut kata

*ketika aku menulis ini subuh dini hari nyanyian pejalan cinta melantun memanggil jiwa-jiwa untuk segera membasuh jiwapancindera yang sudah semakin berkarat
– ayah-170709

Iklan

KEPADA:BUNDA,CINTAKU PADAMU MAHA

3992903-md

purnama telah hadir di atas kepalaku
ia seperti kekasih tiba di stasiun tak bernama
telanjang kaki menyusur lorong waktu
memungguti helai demi helai kenang
yang teronggok di atas meja loket tak bertuan
tak ada jadwal berikutnya di wajah dunia yang memerah membara.panas
setapak tapak usia sejengkal maut
bila tahu begini ingin kembali menjadi bayi
dalam rahim ibu mendekap tubuh Tuhan

malam semakin letih
desau angin menusuk mata jendela kamar
dinding kamar pucat tergores tanda demi tanda.lurus
ini tanda ke 13 dari ujung matapena bunda
setetes tinta jatuh ke lantai
gema bunyinya mengusik jiwa sepi

kau sibak rambut panjangmu
menarinari di wajahku
kucium wangi rambut emasmu dalam pangkuan rasa
kau tersenyum:senyummu merontokan angka-angka dalam kalender
pada angka 14 pada kalender tua
ada makna yang tersirat dan tersurat
kau membaca,mengeja katakata tergaris tebal
setebal doa pada malam-malam sepi
dan tubuh kecilmu terkulai pada hamparan sajadah biru
sajadah menampung tetes-tetes cinta
yang menjadikan air bah mengulung semesta
hanyut dalam pelayaran yang maha jauh
jauh…mengarungi samudera hidup
melawan gelombang meninju kilat
menampar asa membanting keluh

gelas-gelas perjamuan pecah menghantam dinding karang
serpihannya terbang melesat menancap mata bulan
bulan menangis,tetes demi tetes airmata
aku tampung dalam bejana
aku bawa berlari sambil menyusur jejak-jejak langkah kakimu yang terukir di bebatuan,hamparan pasir,di tinggi pepohonan,pada luas padang ilalalang
di awan gemawan,lembah-lembah,gununggunung
pada hamparan padi menguning gading tak aku temukan

ketika senja jejak kakimu menjadi cahaya
menyeruak ke angkasa berkelebat membakar bima sakti
maka aku katakan itulah:cahaya jiwa
rasaku mengejar di gugusan galaksi
terhisap di empat kiblat
di pusat kiblat dalam hening menjaring kesadaran
aku cium dalam rasa yang maha
bibirku mengatup tak dapat berkata
dengan bahasa kalbu aku berbicara dalam titik kekosongan
dalam kosong aku menjadi lebur,untuk aku temukan cahaya cintamu itu
maka,aku temukan cahaya cinta itu dalam tujuh lapisan hatiku,kekasih
cahaya cintamu tak jauh dari aku berdiri,duduk,berjalan,diam,dalam aku tertidur,pada setiap desah nafas,pada setiap kedipan mata.cahaya itu meliputi jiwaku
ia ada disini!
ia ada di sini!
di dalam hatiku!

kekasih,semua sudah aku persiapkan
pada perjamuan malam ini
di hari kelahiranmu
inilah: darahku dan tubuhku
anggur dan rotimu

mendekatlah jiwamu untuk aku cium
agar kau tahu betapa maha cinta dan kasih sayangku padamu.

(ah! ini jabang bayi semakin besar dalam kandungan
bergerakgerak kaki menendangnendag.bisik ibu nuranah,21 tahun yang lalu)

photo by:Wojtek Aleksandrowicz