AIR MANI

kelopak bunga mawar ini tak pernah berdenyar
masih terus kau ciumi dan membaui
biarkan mekar di antara helai-helai rambutmu
padang ilalang yang selalu tabah di hantam badai
meliuk gontai mabuk minum air hujan semalam
menyebut-nyebut namamu dengan nyaring
mati sia-sia dalam selembar tisu

ADA SENYUM TUHAN DI LESUNG PIPIMU

Jangan menangis aku tak mau airmata menjadi lautan lahar panas di cekung matamu. Jangan menangis untuk aku ,karena ruhku sedang menarinari di antara bidadari-bidadari dari langit menyambut dalam genggam tangan yang merindu

Aku terbang seperti sehelai dedaunan melayang tanpa tenaga jatuh perlahan pada musim yang tak batas,
karena aku hidup dalam doa-doa yang tercurah dari bibirmu.
Dan tersenyumlah selalu untukku, karena ada senyum Tuhan hadir disana

LAKU BATU


aku katakan kepada malam
berapa jarak kesunyian yang akan tergali
hingga menembus batas waktu?
ketika kesadaran terbang tinggi
meninggalkan sangkar jati dan kita hanya terdiam.menikmati
lidah api menjilat tubuh dan kita luruh menjadi debu

aku katakan kepada senja
berapa jauh rasa jiwa menyusur
menuju lembah,ngarai, padang ilalang
dan pasir-pasir yang berbisik menyebut-nyebut namamu
dan kita seakan tak peduli

aku katakan kepada diri
ingin menjadi batu,dari benda yang ada
dan kini aku terlontar jauh….