Duhai kekasih Allah..Duhai junjungan

Yaa..Rasulullah
kau bawa khabar berita kepada kami
tunjukan jalan Cinta padaNya.
kau bawa risalah Tuhan semesta alam
agar tersirami kami punya hati dan jiwa.
Dimana agar kami mengetahui rahasia Cinta Allah.

Yaa..Rasulullah
kau beri kami Cinta penuh makna dan arti
dimana kata terucap saat kau melepas kehidupan.
Umati…Umati…Umati…
begitu indah.

kami disini ditanah bumi ini
melantunkan segala puja dan puji
kepada kau yaa..Rasulullah
dan kami haturkan shalawat pada malam ini
Duhai..kekasih Allah
Duhai..Junjungan kami.

* surabaya,maret 2008.*langitjiwa…..
(
nominator lomba menulis puisi Cinta Rasul pada bulan maret di webersis )

Iklan

sajadah itu

malam ini,malam penghabisan bagi dirinya. dimana sudah terlalu lelah ia bermain dengan kegilaan malam. banyak kisah tercantum dengan jelas pada kehidupan dirinya.
kembali ia pulang dari pengembaraannya,untuk kembali melihat kamar yang sudah terlalu lama ia tinggalkan.
terlihat sajadah tergantung pada dinding kamar bercat hijau.sudah terlalu lama ia terpajang pada dinding kamar itu.dibukanya jendela kamar agar terganti oleh udara malam ini.
menatap lama sekali ia pada sajadah yang tergantung itu.

melangkah ia pada sajadah itu.lalu dihamparkannya pada lantai bumi.
satu langkah ia berlutut pada hamparannya.
lama terdiam pada sajadahnya. dimana sudah sangat merindukannya berdua-dua dengan sajadahnya itu

lalu…,terdiam sejenak pada dirinya,menata bathin dan jiwanya. agar tak berlari kesana kemari kesadaran rasa pada dirinya.
langkah kedua ia memulai kata-kata doa tobat. dimana sudah terlalu banyak kerak pada jiwa panca inderanya.dimana terdengar lamat-lamat lafadz dzikir

Hu..Allah
Hu..Allah
Hu..Allah

biarkan..!
biarkan..!
” terbakar habis kerak-kerak itu Ya Robbi,”pintamu pada doa-doa

langkah ketiga kau bersimpuh dan menangis pada relung Qalbmu
menjerit pada langit jiwamu.

langkah keempat kau terdiam.
lalu…..,hening
kau hilang didalam samudera lautan dzikir.
lebur……………

mentari pagi tiba sudah,bernyanyi burung prenjak pada alam semesta. daun-daun menari diterpa angin pagi ini.
kembali sudah ia pada pengembaranya.
terlihat ada cahaya cinta pada dirinya,dimana yang selama ini hilang ditelan oleh gelombang kegilaan malam.
kaupun tertidur pada tanah bumi.terlihat tenang pada wajahmu,
aku melihat ada senyum pada dirimu.

langitjiwa……………………..

tobat…! wak haji…! tobat…..!

gelap sekali dan dingin sekali
apa nama tempat yang aku diami ini?
belum aku tersadar,apa nama kampung ini?
melihat kau menangis tepat dibawah aku terbaring…
oh…! sudahkah aku melepas kehidupan pada jiwakku?
ah..! tidak..!!!
ssttt…..jangan kau teriak-teriak..!
ini malam kau terjatuhi buah duren,saat kau mengendap-ngendap pada gelap malam
saat itu kau terjatuhi olehnya tepat pada batok kepalamu
makanya jangan kau mencuri,
masih untung tak pecah batok kepalamu menjadi dua
atau disangka kepalamu duren montong

tobat..! wak haji…
tobat…! wak haji…

hai..! kekasihku..!
ini celana dan bajumu…….

terus ia berlari,dan menghilang pada kelokan jalan……………..

rindu…..

satu hari aku tak bertemu kamu
lalu setelah hari ini terlewati oleh sinar mentari pagi,aku mencoba mencarimu pada langit hatiku.
sudah dua puluh empat jam ini,aku tak mendengar suaramu dari ujung telepon genggamku.
rindu…,yang ingin aku ucapkan padamu.
pada malam aku ingin bercerita banyak tentang perjalananku pada siang itu hingga senja tiba.
ditengah perjalananku,aku terhenti sejenak. coba kumelihat dari balik jendela mikrolet dimana terlihat dengan indah setangkai bunga berwarna merah.
iya..itu kesukaanmu bunga berwarna merah itu. walau kadang menusuk tajam duri-durinya,pada lenganku ini. itulah walau ia berduri tetap saja aku suka mencarinya pada taman belakang rumahku.
cepat kusimpan setangkai bunga berwarna merah itu,agar tak layu terkena terik sang surya.
aku ingin ia tetap terjaga keindahannya dan tentu juga hijau daun-daunnya. maka aku simpan ia baik-baik pada tas coklatku ini.
dik…..
terik matahari semakin panas,tepat ia berada di tengah-tengah kepalaku.
ingin segera aku tiba,dimana kamu sudah menungguku disimpang jalan itu.
aku merasakan kau pun gelisah menungguku.
tepat dibawah papan reklame dimana tergambar tentang iklan pewangi.
atau jangan-jangan kau tulis pula kata rindu itu di papan reklame itu.
” rindu…aku padamu..!”
ah..! janganlah,dik…
nanti aku malu pada orang-orang yang berlalu lalang pada simpang jalan itu.
bila kata ‘rindu’ sangat jelas terpampang pada papan itu.
aku ingin kata rindu itu tersimpan baik pada prasasti hatimu.
dan terpahat dengan sangat indah oleh tinta emas dari jiwamu.dik.

langitjiwa……

sang copet

berlari kencang sekali kau,
secepat kilat bak kijang hutan
sesekali kau membasuh peluh yang jatuh sangat deras membasahi tubuhmu.
wajah terhias berwarna pucat pasi
berdegub keras jantungmu,
mengelegar pada bumi.
copetku..!
berlarilah terus.
berlarilah….
atau kau nanti jatuh pada gelombang tinju berpuluh anak-anak manusia.
lalu kau hilang…..
ditelan keangkara murkaannya.
doaku semoga kau cepat berlari pada doa tobat.

langitjiwa……..

kembang pete

sebentar lagi aku akan tiba didepan rumahmu,
dimana bercat warna biru langit.
dan tak lupa aku rapihkan rambutku ini,agar tampak keren.
lalu sesekali kulihat wajahku di kaca spion sepeda motorku
ah..!
masih ada yang kurang rupanya
lupa bila ketinggalan sudah setangkai kembang pete
tanda sayangku padamu.

langitjiwa……

kakiku…

kaki’ku..
menempuh jalan kita bersama
berjalan dimalam dingin kita bersama
kemanapun dimanapun
kita bersama..
hari ini kaki’ku tak bisa berjalan
“ijinkan aku untuk melepas lelah”katamu
“dimana sudah terlalu sangat letih dimana usia kakiku semakin renta.”
“kalau begitu tolong kau pijat ini otot-otot yang sudah begitu kaku.”
“baik kakiku.” jawabku.