MALAM RAYA

Aku yang nanar menatap dalam matamu
Mata laut yang gelisah terbang diatas ombak yang bergulung. Menciptakan gelombang udara menghantam kesunyian.
Segala yang tersirat perlahan menyeruak, tersurat sudah untuk sebuah keputusan kita berpisah.
Dan semesta raya pun tertidur, rebah dalam peluk keabadian menyisakan mimpi-mimpi kita yang patah menancap pada pasir yang berbisik.

( Bono,2908211- langit )

Iklan

PEREMPUAN PUISI

Wahai perempuan puisi kepada siapa kata harus diucapkan ketika mata pena melesat, menancap pada daun pintu yang sumbang.
Dan juga kepada kaki jalanan telah meminta untuk segera tiba di hadapanmu menjadi lukisan yang hidup, karena pertanyaan hati adalah bahasa kejujuran, atau aku tinggal debu diceruk matamu!

Wahai perempuan puisi, sekali tepuk tujuh lakilaki mati di tanganmu. Dan kota yang terbakar, gedunggedung runtuh ,anakanak sungai yang tersendat mengalir menuju laut, dan puingpuing kemarahan yang api meluluhkan batangbatang yang merangas.
Dan musim telah memberi khabar kalau kata harus di bangunkan sebelum matahari meledakkan dadamu !

Wahai perempuan puisi, pada rimbun cahaya mata bulan purna telah tersirat pada dzikirdzikir yang mengema menerbangkan dosa yang abu,tersurat sudah dimana kita seperti Adam dan Hawa tertulis untuk kisah kita sendiri

CATATAN YANG BELUM TERSAMPAIKAN

1/ Begitu kabut sehabis percakapan malam ini meninggalkan sisa air hujan mengenang diceruk matamu

2/ Dari balik jendela yang rapuh aku memandangi dua pelepah pisang menjuntai mencium tanah

3/ Ketika ibu memberi lautan jiwa tak habis-habisnya kuberlayar sejauh mata memandang

4/ Di meja makan ini kita tidak sedang membicarakan siapa kamu, siapa aku juga kekasihmu

5/ Gema suaramu berkumandang di dalam dada membangkitkan jiwa panca indera di bulan yang purna pada puasa yang agung

6/ Seperti apa ketika rengkuh tak sampai ? Seperti mengapai timur dan barat. Seperti apa ketika dicintai dan mencintai ? Seperti rambut dibelah tujuh

7/ Inilah kesepian yang berjalan di atas rambutku
ketika kau curi mimpi-mimpiku
Dan juga membunuh doa-doaku

8/ Jeansnya belel, rambutnya gondrong dan tangan kanannya menenteng bulan yang terbelah

9/ Rasaku terikat di jala matamu yang penuh dengan mimpi-mimpi. Lalu, bagaimana akan terbang meraihnya. Dan, kita pun bertengkar di bawah hujan

10/ aku bersujud mencari jawaban pada kaki bumi

TIMUR DAN BARAT

Sesungguhnya, kita tidak bisa untuk di jauhkan
Di mana kepada jarak telah membuat kita belajar
Memahami kekuatan hati yang karang
Juga di satu sisi, kita ingin melipatnya
Untuk selalu dekat

Bono,3 Agustus 2011

KETIKA TINTA TAK CUKUP UNTUK MENULISKANNYA

Untuk sebuah mimpimu maka kuatkan itu, sebelum sebutir debu meledaknnya.
Dan memiliki keinginan pada hari ini adalah sebuah kebahagian.
Di mana mengibarkan rambut sambil merentangkan tangan melepaskan rasa hingga mengepakan sayap kesadaran.
Pada ketinggian di atas bukit di mana kaki berdiri untuk melihat dunia dengan segala rupa, berkelok jalan pematang sawah juga halimun di pucuk-pucuk dedaunan dan itu terlihat jelas di ujung mata.
Bagaimana memahami tindakan yang penuh dengan tantangan,
Pada hari ini pada musim yang rupanya seperti lukisanmu dimana kau lukis daun-daun yang berjatuhan.

( Langit, 28 Juli 2011 )