Catatanku,30 November 2008.

Pukul sepuluh malam,
Malas untuk menulis.
Rokok,asbak,dan gelas bekas kopi di penuhi semut.
Menyalakan Televisi.
Siapa tahu ada acara yang menarik.
Klik!
Hi! ada mata King Kong
Menatap tajam dari balik layar Televisiku.

l a n g i t j i w a.

**Waktu menyalakan televisi pas acaranya layar lebar di Trans TV,King Kong

Sudi Mampir

Kalau nanti ada waktu,mampir kerumah.
Ada minuman sari buah anggur kata-kata.
Yang telah aku endapkan,agar sarinya dapat kita minum bersama-sama.
Dengan sarinya akan membuat kita mabuk.

Yang akan membawa kita menuju negeri kata-kata.
Tinggal pilih mana kata-kata yang kau suka.
Setelah itu,kita masukan kedalam gelas perjamuan malam.
Agar terberkahi dari pancaran jiwa.
untuk kita ciptakan sajakmu sajakku.

Maaf,menganggu.
Apa betul ini rumahmu?

l a n g i t j i w a

Sajak Buat Emak.

Aku hanya sebuah wajah lautan yang gelisah.
Yang terhempit di celah dinding karang kerinduan.
Kerinduan akan peluk kasih dan cinta Emak.

Dengan jari-jarinya ia membelai kepalaku.
Menenangkan Jiwa yang gelisah.
Aku terharu,
Melihat Emak dengan sabar,berusaha dan terus berdoa
untuk merajut seribu nasib.

Ku hampiri Emak,
Kurebahkan tubuh kecilku,
Didalam pelukan Emak.
Menetes air mataku membasahi kain kemben Emak.

Ku rangkul kaki kecilnya.
kubasuh dalam bejana.
Ku raup airnya,untuk membasuh wajahku.

Lama Emak memandangiku,lalu
Kedua tangannya membelai kepalaku.
Sambil Ia terus berdoa,
Aku merasakan ada yang mengalir di samudera jiwaku.
Menenangkan wajah lautan yang gelisah pada diriku.

l a n g i t j i w a

Perjalanan.

gkawi
( Foto by : Jeff Lieberman )

Hujan semalam telah membasahi jalan setapak menuju lembah dan bukit.
Kuncup-kuncup bunga mawar merah merekah menebarkan wangi,
Kicau burung prenjak hinggap pada dahan-dahan pohon tinggi,
Menyambut pagi bersama jejak langkah kakiku.

Lihat,
Petani telah membajak sawah,untuk menanam bibit padi kehidupan.
Disana aku melihat Tangannya mencangkul bersamaTuhan.
Sekumpulan ibu-ibu berjalan beriring bersama menuju pasar pagi untuk menjual hasil ladang.
Disana aku melihat wajah-wajah suka cita hadir bersama senyum Tuhan.

Lima bocah bersepeda jengki,menuju sekolah,mengali ilmu.
Untuk menjemput masa depan.
Disana aku melihat Cinta Tuhan meliputi Jiwa-Jiwa mereka.

Disini, Aku melihat bayang tubuhku tersinari oleh matahari pagi.
Sekejap kubergerak hilang bayanganku.
Aku dan kau tak kekal adanya.
Keabadaian hanya MilikNya.
Karena aku adalah Wujud Majas dari Wujud HakikiNYa.

Melewati ujung jalan setapak ini ada sebuah rumah.
Hanya seorang laki-laki tua yang menghuninya.
Dimana ia selalu menembangkan nyanyian tentang perjalanan hidup.
Suaranya pelan,tapi sangat dahsyat menghantam ruang jiwaku.
Makanya setiap aku melintas didepan rumahnya,
Aku selalu memperlambat gerak kakiku.
Karena aku ingin menikmati sepuas-puasnya.
Karena lagu yang ia nyanyikan bagai mata air yang mengalir dari kedalaman jiwanya,
Menelanjangi diriku.

Setelah melewatinya,ada kelokan di ujung jalan ini.
Melawati ngarai sungai.
Dimana selalu aku rindu dengan suara gemerciknya.
Airnya jernih bagai batu Yakut.
Lalu,kubasuh wajahku,wajah yang telah usang oleh perjalan usia.
Inilah wajah Dunia.

Sebentar lagi senja.
Mata malam akan kembali pada titik tengahnya.
Dimana Jiwa-Jiwa yang diliputi oleh RahimNya,
Akan kembali menuju pada pintu keheningan.
Untuk merasakan dan menikmati nyanyian Surga yang terlantun dari Lembah Jabarut.

Langkah kakiku terhenti,Pada SurauMu.
Dan,dengan Cinta.
Sambutlah kecup bibirku untuk mencicipi kehangatan Rasa Cinta di BibirMU.

Beranda Surau Semampir.
. l a n g i t j i w a .

Taubat

Lama ia pandangi air ditelaga Cinta.
Lalu,pelan-pelan ia celupkan tubuhnya,
Terus dan terus ia lakukan.
Sampai Tangan Tuhan mengangkat kembali tubuh kecilnya,
Untuk Ia pakaikan Baju yang telah Tuhan jahit dengan Rahmat dan RahimNYa.

Pagi ini Tuhan membasuh dan mencuci jiwa panca inderanya untuk menuju fitriNYa.

l a n g i t j i w a

Jadilah Gila.

Sajak ini telah lama aku tulis.
Lama kuendapkan.
Dengan membacanya kembali,rasanya ada yang kurang kata-kata didalam sajak ini.
lalu aku pun mengutak-katiknya dimalam sepi.
Agar kata-katanya bercahaya.

Lalu,kembali aku membacanya lagi.
Berulang kali,Yah,berulang kali.
Lalu,
Aku teringat seorang Penyair berkata kepadaku sore tadi.
Jadi Gila dulu baru kau akan mengetahui rahasia hakikat kata-kata.
Penyairku,
Malam ini aku sudah menjadi gila oleh kata-kataku.
lalu,kau mau apa!

l a n g i t j i w a