Jadwal Keberangkatan

bunyi pluit panjang dari masinis
memberi tanda pada lokomotif
sudah tiba waktunya berangkat
membawa gerbonggerbong penuh sesak orangorang mati

lalu,seorang lakilaki bertubuh kecil mati tadi pagi bertanya:
“kemana kita akan hendak di bawa?”
” Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Kau dan aku akan berangkat menuju padang luas mata jauh memandang.”ucap seorang ibu tua lirih

mereka yang hidup melambai tangan: Selamat Jalan
menunggu jadwal keberangkatan berikutnya
dengan tiket tanpa hari,tanggal,bulan,tahun,dan jam tak di tentukan

Iklan

2 Hari 2 Malam

di beranda rumah yang sumbang
aku duduk sendiri
menatap daundaun gelisah,derak ranting menahan luka
dan,gontai ilalang mabuk minum air hujan

ini sepi semakin panjang
aku tutup pintu:
menahan gemuruh angin yang gelisah
menampar wajah pintu jati

lapar datang,memasak sendiri
makan sendiri.meja makan lengang
bunyi sendok garpu mencubit piring di iringi
suara cecap mulut menjadi: nyanyian kelu

ranjang hitam
bantal guling kini serupa dirimu
aku dekap erat
nikmati saja
aku sepi iseng sendiri,kekasihku!

MELIPAT BUMI AKU DATANG PADA RINDUMU

derak hati.goyah.
rasa mengelora bagai debur ombak menghantam dinding karang

kau tahu,bila ada sayapsayap pada tubuh ini
aku akan terbang menuju kau.melesat!
di bawah cahaya sinar mata bulan purna
kepakkepak sayapku berkilau
cahayanya memedar pada semesta
barat dan timur

menjelajah langit malam
membelah jarak melipat bumi
untuk tiba pada taman bungamu
membawa aku tiba di sana
melihat kau duduk beralasan tikar biru
mata kita beradu pandang
diam. tak ada kata yang terucap
pada rasamu aku kirim gelora cinta membakar rindu

kata menjadi beku untuk mengucap: aku mencintamu seperti matahari mencintai semesta raya

airmatamu kini serupa: mataair cinta
membasahi pada rasa jiwa yang haus

bibirku rebah dalam hangat bibirmu

ini rindu membuncah!
mengulung dua tubuh
…………………………………..

WARUNG UJUNG

meja makan lengang
aku duduk sendiri
sambil menunggu seporsi tongseng
telepon genggam bergetar
klik! terbaca pesan singkat darimu: rindu kamu sangat

kini,aku mengigil sendiri
menahan rindu yang sama denganmu kekasih
ku balas dengan maha mesra
: sayang,tunggu.aku sedang merapikan sayapsayap jiwaku untuk terbang menuju pangkuanmu

hujan di luar menarinari
tarian hujan semakin mengila
kabut semakin pekat
kudekap gigil rindu.sabar

JAGONGAN SASTRA SUROBOYO-AN

Hari : Jum’at
Tanggal : 8 Mei 2009
Pukul : 18.30 – selesai
Tempat : Pelataran Taman Daun (Depan Ged. DOLOG) Jl. A. Yani, Surabaya

esok
( Performance perkusi dari komunitas “Jajan Pasar” Surabaya )

esok2
( Mbah yus )

esok3
( dsikusi )

esok4
( rombongan mas Iwan PAPER )

esok5
( Adi Toha ( jalaindra.wordpress), paklik Bono, mas Sigit )

esok6
( ki-ka : Paklik bono, Om sigit, Gita, Bang Adi Toha, Mas Puthut EA )

esok7
( para undangan )

esok8
( salam-salaman sebelum pulang, gerimis mengundang, pestanya bubar.hehe..)

esok9
( Penampilan dari mas Iwan PAPER Surabaya )

esok10
( Mbak Lan fang sedang memberikan pencerahan dalam diskusi )

esok11
( Performance dari Anak2 lingkungan lokal musikalisasi puisi yang berjudul Angin buah karya Gunawan Maryanto )

esok12
( Suasana diskusi )

esok13
( Radhika Pradhitya Soekamto, Zaul Haq , Gita Pratama , Sudi Ono, Iwani Ahmad, Zuraidah Abdul Aziz, Langitjiwa Andra /saya pakai topi,gayaku koq genit amat yah..! haha..)

Foto di culik dari facebook mbak Nisa

BUNGA JIWA

kita hanya dapat membaui wangi bunga cinta
yang mekar dan tumbuh pada ladang hujan di jiwa
kita hanya dapat merasakan merambat akarakarnya yang menyeruak ke segala penjuru pancaindera

ketika kita ingin meraihnya
bunga cinta entah hilang kemana?
hanya guguran kelopaknya
terbaring di depan jendela kamar kita
bersama cahaya matahari pagi yang menusuk tajam
pada celah mata jendela kamar yang mengangga lebar

kau dan aku hanya bisa duduk terdiam
sambil mengingat kembali apa yang telah terjadi pada mimpi semalam
ketika bunga cinta hanya memberi khabar melalui harum wangi yang menusuk rasa diri dan membakar jiwa
lalu,ia pergi kembali membawa kesadaran kita yang telah di hentakan dan di bangunkan oleh bunyi pluit panjang dari sang masinis dan memberi tanda pada lokomotif
sudah tiba waktunya berangkat menuju stasiun tanpa nama
membawa gerbonggerbong kosong tanpa mahluk
kita pergi entah kemana di bawanya
bersama setangkai bunga cinta pada genggam jarijari tangan

dan apakah akan menjadi abadi bunga cinta pada genggaman untuk sampai pada tujuan saat hati kita mendua?

mana akan abadi bunga cinta bila jarijari tangan setajam kulit bambu.Sembilu!
akhirnya menyayat kelopak demi kelopak
gugur pada kemarau duka di mana cahaya matahari membakar kelopak bunga cinta.fana

kelopak penuh luka
hati menjerit merobek cakrawala
airmata menghujam pada jantung waktu
sekarat,kita tinggal debu yang berterbangan bergesekan dengan energi negatif dan positif pada semesta raya