NATRUE – Samuel Taylor Coleridge -1772 – 1834

NATURE

It may indeed be fantasy when I
Essay to draw from all created things
Deep, heartfelt, inward joy that closely clings;
And trace in leaves and flowers that round me lie
Lessons of love and earnest piety.
So let it be; and if the wide world rings
In mock of this belief, it brings
Nor fear, nor grief, nor vain perplexity.
So will I build my altar in the fields,
And the blue sky my fretted dome shall be,
And the sweet fragrance that the wild flower yields
Shall be the incense I will yield to Thee,
Thee only God! and thou shalt not despise
Even me, the priest of this poor sacrifice.

( Samuel Taylor Coleridge -1772 – 1834 )

RANIA NARARYA

RANIA NARARYA

Rania Nararya, mana yang lebih dalam untuk kita selami
Laut di selatan itu atau di dalam dada sendat ini
Untuk sebuah cinta dalam kehidupan
Agar terlepas segala yang mengikat
Seperti akar-akar pohon pada hutan rimba mencengkram dunia
Melepaskan rasa sakit yang berabad-abad dari udara yang hitam

( Bono, 2012 )

PUISI-PUISI LANGITJIWA ANDRA DI RADAR SURABAYA. MINGGU, 12 FEBUARI 2012

SEPEDA TUA BAPAK

Tuhan, selama hidup masih patah mengeja namamu
Sedang usia terus mengayuh, ban gembos,
pedal copot, stang bengkok, kesadaran timpang, terlepas jok boncengan

Mati aku,Tuhan !
Tak utuh kembali padamu
Berceceran segala yang ada

AMARAHMU YANG API

Lukisan wajahmu
Debur ombak kemarahan

Kata- katamu cahaya matahari
Membakar habis rahasiaku yang angkuh

Setiup nafas,
Aku hilang di atas meja perjamuan

DOA

Dengan kerendahan hati
Belajar mengetuk pintumu
Berulang kali

Merasa
Merasai
Merasakan
Bergetar dalam dada

PENYAIR

Atas nama Bapa di surga
Waktu telah kau padamkan
Dengan selarik puisi

Wasiat tak tersampaikan
Pada bait terakhir
Penyair menghirup udara yang berkabut
Di bawah cahaya mata bulan yang magis

NYANYIAN MALAM

Kau kirim ruhmu kedalam tidurku
Menghadirkan mimpi demi mimpi
Dan kutetaskan di atas ranjang kelam
Menjadi sepotong kertas yang menyimpan rahasia tua

Seperti tumpukan piring kotor di atas meja makan
Sedang malam terus bernyanyi
Habis dipukuli beribu tanya

Menerjemahkan tanda
Untuk segera tergenapi

ANAKKU,

Mengarunglah menuju laut lepas
Seperti Isa mengajarkan hikmah ketabahan
Di atas perahu yang retak di hantam badai yang murka


SYEKH LEMAH ABANG

kemana gerak rasa dalam diri
ketika nafsu berkobar – kobar

habis menjadi debu luka
di hempas deru angin

kemana lagi jaring – jaring
akan mencari dan menjala

kita hanya penjilat
lupa untuk kembali pulang

MELOMPAT DENGANKU

Cinta,
Menemukan seseorang
Bersedia membuat lompatan denganku
Tidak setengah-cara untuk melompat
Aku hanya seperti metafora

Aku melihat langit tengelam,
Kita berpegangan tangan, tinju terkepal
Dan membiarkan pergi melambung
Kepala dibuang kembali, tertawa,
pakaian kita berkibar di tiup angin
Bagaimana kau dan aku bersenang-senang
dalam kebebasan itu !

MATA KITA SALING BERADU PANDANG

Menghantam kantung-kantung waktu dimataku
Meninggalkan mimpi-mimpi yang patah
Menancap pada pasir yang basah

LOL..

Lol, ini malam merajam
Jangan lari kau ke ujung sepi
Sebab sudah tergenapi aku tiba di hadapanmu
Tuntaskan rindumu dengan badik
Tikam sesuka rasamu, aku mati.
Lol, jangan kau jilati mayatku nanti
Jilati saja dustamu
Lol, kau semakin tolol !
Dunia rupa kembang tujuh warna
kau masih saja merasa, merasai, merasakan tak berwarna.

LOL…

Lol, ini malam merajam
Jangan lari kau ke ujung sepi
Sebab sudah tergenapi aku tiba di hadapanmu
Tuntaskan rindumu dengan badik
Tikam sesuka rasamu, aku mati.
Lol, jangan kau jilati mayatku nanti
Jilati saja dustamu
Lol, kau semakin tolol !
Dunia rupa kembang tujuh warna
kau masih saja merasa, merasai, merasakan tak berwarna.