CATATAN PADA SEBUAH BUKU BERWARNA COKLAT

Sudah delapan tahun aku meninggalkan Ibu,adik-adikku dan dirimu. Merantau pada kota ini,untuk merajut nasib ,mengejar cita-cita dan meraih masa depan yang lebih baik

Dan,sampai detik ini masih berbekas jejak airmata ibu pada hatiku.

Sehabis shalat subuh,ibu mengantarkan aku sampai pada ujung desa.
Tas besar aku taruh pada pundakku.
Didalamnya terisi; Ijasah,empat lembar celana panjang,enam buah kaos,salah satu dari kaos itu bertuliskan: “Ariel,Vokalis Peterpan!”,itulah kaos yang paling aku.Dan,dua stel kemeja warna putih,ditambah handuk beserta perlengkapan mandi,dan beberapa celana dalam yang sudah sedikit terkoyak pada tampilan belakangnya.
Belum berat beban yang tidak nampak barangnya
Yaitu:berat meninggalkan tanah kelahiran,
meninggalkan ibu berserta dua adikku,
Dan tentunya meninggalkan dirimu,kekasihku.

Ibu dan aku sudah tiba pada ujung desa ini
kuraih tangan kecil Ibu,kucium.
aku tak kuat menahan gejolak rasa hati dan jiwaku
jatuh airmataku menjadi bayang wajah ayah yang sudah meninggalkan kami empat tahun yang lalu.
Aku melihat senyum ayah hadir bersama senyum Tuhan.Serasa Ayah berbicara kepadaku; Berangkatlah,nak. Berangkatlah,raih masa depanmu dan cita-citamu.

langitjiwa,
ruang kamar dan jendela yang mengangga lebar. Sidoarjo.10.feb.2009

Iklan

30 thoughts on “CATATAN PADA SEBUAH BUKU BERWARNA COKLAT

  1. sudah beberapa kali aku menyimak, sepertinya kamu tengah diperantauan merajut nasib
    di kota manakah itu?
    dan rajutan itu…akankah segera tuntas?
    tentunya kau rindu anak-istri…

  2. airmata ibu jgn sampai meleleh ke pipi sobat…..sebab dukanya ibu adalah dukanya dunia dan hidup kita……..teruskan sobat,,,,,

  3. perasaan tertusuk tatkala meninggalkan wajah yang penuh ketabahan membesarkann kita hingga dewasa…senantiasa semoga Ibu diberikan umur yang panjang dan sehat dan terkadang saya berharap jika diberikan kesempatan jadikanlah saya sebagai penebus segala dosa dosa ibu saya…

    hhmm jadi sedih saya

  4. adalah makna yang bertahta pada setiap peristiwa
    tetapi selalu ada perih yang tertinggal di langit jiwa
    entah kenapa…masih kubertanya
    Mengapa ini yang mesti dilalui

    …..

  5. Jadi ingat alm ibu…yang aku tak ingin mengantarkanku ke stasiun KA, karena menjadi aku sulit meninggalkan kotaku…..
    Ibu pasti meneteskan air mata di pipinya yang keriput, melambaikan tangan pada anaknya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s