Mbah Lanang

Jendela kamar dengan catnya yang sudah mulai luntur kita biarkan terbuka dengan lebar.Dan hati kita berdua memandang luas langit malam melihat pertunjukan rincik hujan menari-nari pada helai-helai daun pohon mahoni.
Tubuh kecilmu semakin merapat dalam pelukanku.
Matamu terus melihat ayah memahat kata-kata.
Menatap matamu,nak.Ada senyum mbah lanang hadir mengisi ruang hatiku,rindu ayah akan mbahmu.Yang sudah meninggalkan kita tiga tahun yang lalu.
Aku kembali teringat ketika kau masih dalam kandungan ibumu,ayah berdiri dari balik kaca ruang ICU melihat si’mbah terbaring lemah.
Kepala ayah bersandar pada kaca yang bening,mata ayah tak kuat menampung bulir-bulir airmata,akhirnya menetes jatuh.Serupa,daun yang letih tergantung pada ranting yang rapuh,lepas tertiup angin terbang melayang,jatuh pada hamparan tanah bumi.

Saat menulis ini
Kau sudah terlelap tidur dalam pangkuanku.
Membawa kenang pada masa kanak-kanakku dulu.
Dipangkunya aku,dibuai oleh nyanyian tombo ati terlantun dari bibir mbah Lanang sampai akhirnya aku terlelap tidur bersama kedamaian jiwaku.
Dimana kini kenangan itu tinggal sepenggal kisah yang tersimpan dalam catatan hatiku.Selamanya.

kamarkata.030109.

26 thoughts on “Mbah Lanang

  1. kenapa ya..membaca tulisan2mu tentang keluarga, selalu membuatku seperti tertohok. ada cuplikan kecil yang diungkap dengan tebal rasa di sana, ada setangkup jiwa yang mengisi tiap kata, mungkin itu yang membuatnya jadi melangut…

    *******lj*******

    hehehe
    mungik kali ini lagi feel aja nulisnya,enath utk hari2 esok.haha

  2. aku pernah juga menulis sambil mangku bungsuku.
    dan aku pernah juga, di pangku bapak ketika beliau sedang melukis…

    **********lj*********

    ah,kenangan yg tak akn pernah hilang dari hati kta.haha

  3. koneksi batin memberikan inspirasi memahat kata-kata berbalut memori kenangan masa lalu.

    **********lj***********

    iya,itu salah satu jalan utk berlatih menulis apapun itu bentuknya.

  4. Mas, membaca syair puisi terakhir saya teringat belasan tahun yang lalu, dengan setting kampung halaman saya. Masih banyak saya dengar lantunan gendhing jawa keluar dari mulut lelaki tua tanpa baju, kulit yang keriput terbakar panas matahari. Aku rindu suasana itu….

    ********lj********

    semua kenangan memang tdk akan pernah kita lupakan.walau sekecil apapun.
    selamat datang diblogku ini,mas.
    dan terimakasih atas kunjungannya.
    hati2 bila sedang berpatroli.
    salamku.

  5. Puluhan tahun yg lalu, saat usia msh sgt dini, pd puncak malam hari, ditemani lampu teplok mini, kududuk b2 dg alm kakek.

    Sambil mendengarkan beliau bercerita dan berhikayat.
    Alkisah di suatu negeri antah berantah, hiduplah seekor kambing taktian, beraknya emas, taiknya intan. Dianggap hina oleh sekalian insan. Tak disangka tak dinyana, ternyata dianya adalah titipan. Untuk dijaga dan dititipkan kepada setiap pimpinan. Yg berlaku jujur dg akhlaq pujian..Lalu mengalirlah cerita dari mulut tuanya, ibarat air sampai ke tujuan…

    Ah, senyum dan tawanya msh menghias di kepala.
    Dg jenaka beliau tak pernah marah, walau kami cucunya selalu saja cari gara2.

    Cerita itu selalu terulang, warisan dari generasi ke generasi. Dari kakek mengalir ke ayah, tak kenal lelah. Lalu ke cucunya,sering x dijadikan salah kaprah 🙂

    ********lj********

    hahaha.
    sebuah kenangan yg indah sekali.
    saat kakek mas bercerita tentang taiknya inta,beraknay emas.haha
    salam kenal selalu.

  6. tulisan ini mengingatkanku pd masa kecil saat bapakku memangkuku dan mendongeng kisah rekaannya sendiri. aku selalu memegang erat jemarinya yg gempal & putih. lucunya jemari itu selalu saja beraroma roti yg gak bisa kulupa hingga kini. roti=bapak

    ********lj*******

    hahahahaha
    baunya kini masih melekat tentunya,haha

  7. … dan pada raga yang renta itulah tersimpan gemerlap jiwa penuh vitalitas. semangat yang menyala, kenyang perjamuan pengalaman yang tak pernah menyuntukkan batin untuk selalu berjuang dan berjuang demi anak cucu.
    Akupun merindukan mbah lanangku yang tak pernah kutau seperti apa raut wajahnya….

    **********lj*********

    iya,mengapa orang2 tua dulu selalu mempunyai pengalaman bathin yg lusa sekali.
    dan,tak pernah habis walau kita meminta terus.

  8. kenangan yang tak pernah terlupakan …..sang penyair yang serba bisa

    ***********lj**********

    hahahaha
    saya hanya seorang yg mencari sari kata.
    blm menjadi seorang penyair.hahaha

  9. melihat judulnya Mbah Lanang, aku tak sanggup meraba-raba bagimana kira-kira wajah mbahku itu karena memang belum pernah bertemu.

    **********lj*********

    sungguh…
    tak bisa aku berkata,mas.
    aku iktu merasakanya.

  10. hanya doa yang terbaik untuk keluarga dan kerabat kita.

    *********lj*********

    betul itu,mas.
    hanya untain doa kita bisa saling memberi pada kalbu kita masing2

  11. aku jadi ingat mak uwo (nenek) ku. dulu aku sering di ajak jalan2 sekitar komplek rumah. dia suka makan permen dan cemilan lainnya, jadi kami sering diam2 makan berdua di dlm kamarnya. tapi sekarang aku sudah tidak punya nenek lagi. 😦

    ***********lj*************

    hahaha
    apa masih kuat gigi2nya makan yg manis2,hehe

  12. sungkem kagem mbah lanang ya mas… dimanapun dia kini… pasti keriputnya menguntai banyak kasih yang lekat di tubuhnya

    *********lj**********

    iya,mbak
    masih terasa kecupnya pada kening ini.hehehe
    selamat tahun baru,mbak ika

  13. wuih..kamarkata…pasti dah penuh dengan huruf-huruf di sana..tinggal caplok saja kan? hehhehe

    **********lj*********

    hahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s