Ingsun

Kalau kau berlari meninggalkan sangkarmu
Aku Jiwa tak bertuan.
Hilang pada jalan tak berpetunjuk menuju Jabarut Sang.
Tetaplah kau disini,dalam sangkarmu.
Bawa Jiwaku menembus titian makna dan hakiki.

Dan biarkan Ingsun,
Menari.
Menari,
Bersama Lafadz Sang.
Lebur.

*Beranda Surau.Feb.2008*

11 thoughts on “Ingsun

  1. sangkar membuatku terjebak
    seolah hanya menjadi budak
    dan saat itu aku bukan ingsun
    membawakan tarian yang tak berhati
    tak bermakna dan tak hakiki
    bagaimana aku akan menuntunmu ?

    biarkan aku lepas
    menggapai langit mengelus bumi
    bersenyawa
    menuntun jiwa
    : Jabarut Sang

    *ngopi bareng, beranda belakang, des 2008*🙂

  2. Membaca puisi ini mengingatkan aku pada konsep sufistik ‘Manunggaling Kawula Gusti’, peleburan Aku diri dengan Sang Maha Aku.
    pencapaian tahap manunggaling kawula gusti ini merupakan puncak tertinggi dalam dunia sufistik. Sehingga orang yang akan mencapainya akan menemui ekstase kenikmatan yang hakiki.
    Ini digambarkan oleh bait puisi LJ dengan kalimat Dan biarkan Ingsun,/Menari../Menari..//

    Namun sayang puisi LJ kali ini juga masih seperti puisi-puisi lainnya yang masih terdapat banyak kesalahan dalam penulisannya. (Sangat disayangkan kalau penulisnya kemudian bilang dalam puisinya masih ada salah ketik). Coba saja perhatikan kata berpentunjuk itu seharusnya berpetunjuk

    Saya juga belum menemukan makna dari penggunaan tanda titik (.) pada bait puisi LJ kali ini. Dalam EYD, penggunaan titik hanya dikenal satu titik (.) untuk tanda akhir, tiga titik (…) bahwa kalimat itu masih ada kelanjutan, atau empat titik (….) bahwa kalimat yang masih berkelanjutan itu diakhiri oleh si penulis. Namun LJ menuliskan titik pada baitnya hanya dua titik (..) dan lima titik (…..) pada akhir puisi.

    Apakah ini juga licencia poetica?

    Hanya Dia yang Maha Tahu!

  3. Bisakah Ingsun melepaskan jiwa
    Dan berjalan sendiri
    Atau jiwakah yang meninggalkan Ingsun
    Dan berjalan sendiri
    Lalu keduanya menari sendiri-sendiri..?
    Entahlah
    Yang pasti aku tak suka sangkar itu..

  4. Ingsun yg sejati iku bukan pikiran juga bukan perasaan,ingsun yg sejati adlh keberadaan hakikat semua yg ada,yg terlihat maupun yg ghaib.
    jika sudah mencapai kesadaran ini maka kita adalah satu,tdk ada pihak lain selainNYA,tunggal.itulah MANUNGGALING KAWULA ING GUSTI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s