IBSN : Suara Yang Membuat laki-laki itu Bersimpuh Pada Tanah Merah.

laki21
Wajah alam semesta kini telah begitu renta.
Auranya memancarkan kegelapan.Bersama Sejuta kegelisahannya ia tumpahkan bersama airmata hujan.
Airmatanya telah meluluh lantakan manusia-manusia beserta bangunan-bangunannya.
Meluluh lantakan bangunan-bangunan yang dibangun atas nama keringat dan cita-cita.
Dan orang tua kehilangan anak-anaknya,anak-anak kehilangan orang tua,sanak saudara entah dimana.
Manusia menangis,alam semesta tak sedikit pun ia menunjukan wajah berduka cita.

Lalu,terlihat seorang laki-laki sedang mengais-ngais sesuatu dengan sebuah batang ranting kayu mahoni.
Mencari apa yang dicari di reruntuhan bangunan rumahnya.Entah.

Sebelumnya laki-laki itu waras,
Bersama waktu yang terus berlari ia mulai berbicara untuk dirinya sendiri.
Marah-marah sendiri,tersenyum sendiri,merenung tak jelas.
Akhirnya laki-laki itu menjadi gila!
Gila,kehilangan harta benda. Gila,kehilangan orang-orang yang dicintai dan dikasihi.
Dulu laki-laki itu perlente, sekarang yang melekat ditubuhnya hanya pakaian compang camping.
Kumis dan janggutnya tak terpelihara.
Mulutnya mengeluarkan aroma tak sedap,bila ia tertawa terbahak-bahak terlihat deretan gigi-giginya yang kuning.

Tiba-tiba,laki-laki itu berteriak dengan lantang,sambil menunjukan jari telunjuknya keatas langit biru.

” Hai Tuhan ! Apa yang telah terjadi dengan diriku,beserta manusia yang ada di muka bumi ini.Dan apa salah kami.”

Tiba-tiba,deru angin menghantam wajahnya.
Awan gemawan menjadi hitam pekat.
daun-daun tertunduk,debur ombak terdiam,
Matahari redup.

Laki-laki itu menampakan wajah kegelisahannya.
Dan,terdengarlah suara begitu sangat lembut:

*” Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka (bumi). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Kedua kakinya bergetar.
Perlahan-lahan laki-laki itu menundukan kepalanya.
Akhirnya ia bersimpuh pada tanah merah,semerah luka pada jiwa dan hatinya.
Lalu,bagaimana dengan suara itu?
Hanya laki-laki bertubuh kecil itu yang tahu jawabnya darimana datangnya suara nan lembut itu.

l a n g i t j i w a.
*QS. 28 : 77.
Photo by; Vilhjálmur Ingi Vilhjálmsson

Iklan

26 thoughts on “IBSN : Suara Yang Membuat laki-laki itu Bersimpuh Pada Tanah Merah.

  1. bagaimanakah suara itu sobat???
    bagaimanakah dgn lelaki kecil itu??

    ******lj******

    laki-laki itu mati.
    Dan,suara nan lembut itu,telah kembali kepada KerajaaNya.

  2. Yg kt th Penguasa jagat raya punya, Maha Pengasih,Maha Penyayang dst.. tp mungkin jg kita tah pernah th Sang Penguasa punya, Maha… yg sama sekali asing bt kt…

    ******lj******

    sering kita melupakan itu,setelah terjatuh terlalu dalam dlam asa.

  3. Sayup-sayup masih terdengar suara Takbir bergema, perkenankanlah aku mengucap: Insya Allah dengan keikhlasan hati, saling berbagi, syukur nikmat dan Ridlo-Nya masih tetap terjaga dengan tali silahturahim diantara kita semua.

    Membaca bait pertama, benakku langsung melayang ke saudara kita yang tertimpa musibah, bergelut kegelisahan yang tak kunjung reda.

    Turut prihatin dgn korban Lumpur Lapindo, tapi apa yang bisa ku perbuat.

    Hanya Doa yang selalu teriring untuk rekan, sahabat dan sanak keluarga yang ada di sana.

    ******lj********

    Iya,saudara2 disini( para korban lumpur lapindo )hanya minta suatu kepastian,kapan cair uang pergantian itu,mereka sdh lelah dgn janji-janji! Terima kasih,sobat. atas perhatianmu kepada kawan2 di sana.

  4. Aku tertarik ngeliat gambarnya, itu co apa ce ya ?

    *******lj********

    jujur,sampai saat ini,aku masih bertanya2 cewe apa cowo? habis rambutnya panjang sich,jadi susah utk menebaknya,hahaha…..

  5. ew….. baru saja kubaca puisinya setelah berterimakasih ttg avatarku.

    pada akhir puisi, aku jadi merinding.

    *******lj*****

    ah,yg bener.hehehe…

  6. Puisinya bagus mas, sie menangkap sebuah ajakan dan kesadaran untuk menjaga alam sekitar..

    Diakui atau tidak, bencana yang kerap melanda tak lepas dari ulah segelintir manusia yang tidak bertanggung jawab.

    Allah menciptakan bumi dan isinya untuk kita jaga dan pelihara, namun rusak oleh manusia manusia serakah,
    Lalu ketika alam mulai marah, manusia marah dan menyalahkan Allah

    Astagfirullahhaladzim..
    Semoga Allah mengampuni hambaNYA yang khilaf..

    *******lj******

    terima kasih,Sie.
    Allah akan selalu mengampuni Hambanya.

  7. aku tak mau asal comand tuk sesuatu yang mengindahkan mata seni aku,bang?
    sejujurnya aku benar benar terpatri di dalam kesat mata yang penuh sinar kekaguman yang luar biasa atas suguhan ini,bang.
    Daya maqnet yang timbul lewat gambar itulah yang menjadi karya ini lebih hidup. Keren habis………

    salam hangat selalu

    *******lj********

    terima kasih,Blue.
    dan salam hangat selalu.

  8. monolog yg keren. saya suka banget pertanyaan dan juga jawaban lembut itu. luar biasa. reflektif.. ^_^

    ********lj*******

    matur suwun sangat,mas.

  9. diam….
    kagum….
    takjub….

    Malam bang…..

    *********lj********

    Malam kembali,mbak.
    tumben blm tidur?apa sdh kebiasaan,hehe….

  10. indah banget, tapi cayank keindahan itu telah dirusak. keindahan yang diciptakan oleh Nya untuk manusia, tapi karena kekokohan manusia pada keserakahhannya maka semuanya bisa lenyap dalam sekejap mata.

    ********lj********

    maka dari itulah ALLAH memberi umatnya cobaan.
    Dan,apa umatnya akan kembali menyakitiNYA?

  11. Apa kabar sobat…
    Har ini aku sangat menseriusi membaca karyamu ini. Aku ingin memberi apresiasi terhadap puisimu ini. Karyamu kali ini sebenarnya balada yang mengharukan dengan bahasa yang indah. Namun sayang, aku menemukan beberapa bait imaji puisimu bertentangan dengan logika.
    Aku kutipakn puisimu ini :

    Tiba-tiba,deru angin menghantam wajahnya.
    Awan gemawan menjadi hitam pekat.
    daun-daun tertunduk,debur ombak terdiam,
    Matahari redup

    deskripsi tentang cuaca ini sangat indah, namun patut dipertanyakan. Imajinasi puisimu sangat jauh dari logika. Pada saat angin kencang (itu kamu gambarkan dengan bait deru angin menghantam wajahnya , daun-daun seharusnya tak tertunduk. Ombak juga seharusnya dalam ilmu alam tidak terdiam pada saat angin kencang.

    Berpuisi memang bebas berimajinasi. Tapi apakah harus tak memakai logika?

    Salam…
    Gimana kabar isteri dan anakmu?

    *******lj*******

    *
    Sebelumnya nuhun pisan,kang.
    Atas koreksinya,setelah membacanya kembali memang ada yg menganjal dalam hati ini.
    Memang,puisi ini dalam pengendapanya belum begitu masak.
    Ibarat memasak nasi setengah matang.
    **
    Dan,utk kedepannya memang harus ditempa dahulu agar keluar inti sarinya,hehe…
    ***
    sekali lagi nuhun nya,kang.

  12. Aku juga tersentak…teriakan dan tangisan itu mampu membangunkanku
    Tapi apa yang bisa aku perbuat,hanya mampu mengirim sepenggal doa,semoga ini semua bukan murka dari yang Kuasa
    Tapi ini semua adalah teguranya supaya manusia lebih bijaksana
    dan kuharap tak membuat manusia menjauhi Nya tapi bisa lebih intropeksi diri

    salam …

    *********lj********

    yah,berintropeksi diri itulah,yg akan membawa pada perbuahan setiap jiwa-jiwa. Semoga.

  13. ya itulah

    dunia semakin hari semakin tua

    kita lupa dengan semuanya,kita dengan seenaknya menghancurkanya
    tanpa tau gimana cara semua isi alam semesta tercipta

    dan tak peduli dengan sang penciptanya

  14. ya ya ya…hmmmm…mungkin kita pernah merasakan hal seperti itu…atau mungkin juga kita ingin merasakan hal seperti itu…atau kita sama sekali belum pernah erbersit sedikitpun tentang hal itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s