Kepada Tuanku

dukamu
dukaku
duka kita bersama

airmata habis sudah
kering pada jiwa
tandus pada hati

Ketika sebuah tragedi pasuruan membuat jiwaku terhenyak hilang entah kemana. Kesadaran pada diriku lepas.
Apa yang telah terjadi saat pembagian zakat itu,
begitu hebatnya antrian,sampai pada akhirnya kematian yang menjemput,tepat di bulan Ramadahan ini. Melihat seorang ibu tua berusaha menahan beban ratusan tubuh yang lambat laun menghimpit tubuh kecilnya,aku membayangi bila sang Ibu itu sedang melaksanakan ibadah puasa di bulan Mulia ini.
otomatis tenaga yang ada akan berkurang.
atau sang ibu sedang mengalami suatu penyakit sesak nafas atau penyakit yang sangat rentan pada seusia ibu-ibu tua ini.

Atau seandainya bila kordinasinya teratur tidak mungikn akan terjadi tragedi itu. Aku tak mau seandainya,seandainya dan seandainya!

Karena takdir sudah terjadi.
keputusan sang Pencipta telah final pada hari itu,pada jam itu,pada detik itu juga.
lalu,kemana saja hikmah dan pelajaran yang didapat oleh pemerintah sekarang ini?apa tidak berkaca pada kejadian-kejadian yang telah lalu.

21 korban telah meninggal,menuju Sang Khalik.
menuju pada keabadaian CintaNYa.
berlayar di bulan RamadahanNYa.

Setelah itu kemana saja dari hari-hari yang lalu wahai Tuan Penguasa?
apa bila sudah jatuh korban sebanyak ini,baru engkau mengistruksikan para pejabat-pejabat yang berwenang untuk menyusun kembali bagaimana memberi zakat yang baik dan benar bagi para pemberi zakat oleh kaum yang berada.
lalu,kemana saja selama ini engkau Tuanku?
Bukankah Tuhan sudah memberi tanda-tandanya pada Tuanku?
Atau Tuan lalai,dan mengabaikan isyarat Tuhan,yang Tuhan beri pada hati Tuan?
lalu,bagaimana bisa sampai Tuan tidak bisa membaca arti dari kejadian yang Tuhan beri pada saat-saat yang lalu?
apa hati Tuan telah berlari,
meninggalkan sangkar pada jiwa Tuan?

kepekaan pada kedalaman hati Tuan,di uji oleh Tuhan Semesta Alam.
untuk melihat tanda-tanda yang Ia berikan,
agar Tuan lebih memperhatikan nasib berjuta rakyatmu.

Sudahlah Tuan,
aku hanya ingin mengucapkan selamat malam bagimu.
doaku semoga engkau baik-baik selalu.

selamat malam,Tuanku.

aku,
rakyatmu.

19 thoughts on “Kepada Tuanku

  1. ” Tuhan punya rancangan yang lebih baik bagi 21 saudari-saudari kita yang meninggal kemarin, Tuhan akan meringankan beban kehidupan duniawi yang disandangnya selama ini, dengan memanggilnya lebih awal, karena Tuhan tidak menghendaki umatNya menderita lebih lama”
    Syalom…

  2. Ada yg bertaya. Darimana datangnya duka?
    Siapa Ibunya derita? Dari apa air mata duka tercipta?
    Ada tetesan air mata Yang membawa cerita
    Tentang duka yg membuat suka lebih bermakna
    Tentang derita yg jadi gurunya jiwa
    Tentang air mata sebagei balasanya cinta
    Ke sanakah air mata membawa semua manusia?
    Teriring doa semua korban.

  3. Kenapa yang bagi zakat itu gak nganter ke rumah-rumah saja langsung. Ini kesannya juga arogan sekali. Orang disuruh antri, trus dibatasi jam. Ini bayar zakat atau apa?

    Maaf, kalau kata-kata saya kasar. Tapi gak bagus juga ngasih sedekah atau zakat dengan cara seperti ini. Saya sedih sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s