Aku,anak muda dari dusun Semampir

Laki-laki tua itu berkata kepadamu,dengan suara yang sangat pelan dan begitu lembut.
kalau kau ingin mengembara mencari ilmu kesejatian hidup,coba kau tatap matahari yang telah terbit pada tanah bumi ini.Di mana ia memancarkan cahayanya dari belahan ujung bumi ini.lihat! Ia telah terbit dari Timur dan ia akan tengelam pada barat tanah bumi ini.
kalau kau benar-benar ingin mencari ilmu kehidupan yang hakiki,maka pergilah dan menujulah pada timur tanah bumi ini. Yang dimana ada di suatu tempat seorang guru yang mengajarkan murid-muridnya tentang Ilmu kesejatian hidup,ia seorang laki-laki dengan berambut panjang yang melebihi pada pundaknya. Dan laki-laki itu selalu menghabiskan sisa waktunya untuk pergi ia memancing pada sebuah tambak yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Kalau kau memang sudah mempunyai tekad teguh dan berusaha untuk mencari laki-laki itu untuk kau jadikan gurumu,maka pada waktu inilah saat yang tepat bagimu untuk pergi mencari ia pada ujung tanah negeri ini,ia berdiam pada suatu tempat yang dinamakan tanah timur. Dimana perjalanan menuju tempat tinggalnya kau akan menemukan berbagai macam godaan yang akan selalu menguji ketahanan mental pada jiwa dan hatimu.

Wahai anak muda,hanya ini yang bisa aku beri padamu sebuah petunjuk yang datang dari getaran pada rasa jiwaku dimana sebuah getaran yang datang dari dasar samudera lembah Qalbku.
Sudahlah jangan terlalu banyak kau bertanya wahai anak muda,inilah saatnya bagimu untuk menyelami lautan IlmuNya,pada samudera TahuidNya.

***#***

Aku seorang anak muda yang telah berkumbang penuh dosa dengan meluluh lantakan lawan-lawanku dengan sebilah parang yang telah menjadi saksi perjalanan hidupku yang begitu hitam pada setiap jejak-jejak langkahku pada tanah bumiNya ini.
bersama parangku kutikam,kubabat habis musuh-musuhku yang hendak mengambil lapak parkirku tempat mengais rejeki di rimba kota ini,kota dengan berjuta muka iblis yang setiap saat akan menerkamku hidup-hidup!
Dimana hukum tak ada,yang ada hanya hukum rimba pada hutan kehidupan jalanan.

Saat aku terlahir dari Rahim suci ibuku.keadaan ayahku sedang berjuang melawan penyakit yang menyerang paru-parunya,dan meregang nyawa pada sebuah rumah sakit di ibukota ini. Yang dimana ayahku hanya seorang kuli bangunan yang telah ditempatkan pada bangsal kelas tiga tanpa pelayanan yang baik.

Tanpa ada biaya yang menunjang ayahku tetap dirawat dengan kartu tanda miskin,disaat itulah ayahku menungu hari-harinya dengan doa,memohon padaNya agar kelak bila ia mati,anak-anaknya di beri kekuatan pada jiwanya agar kuat menahan kedahsyatan gelombang kehidupan. Yang dimana setiap saat debur ombaknya akan menghantam dengan keras pada perjalanan mengarungi samudera lautan kehidupan ini.

Satu batang rokok telah habis bersama senja yang telah berganti malam.
lampu-lampu mercury telah menerangi pada jalanan kota ini,menerangi setiap langkah kakiku menuju tempat aku mengais rejeki,mencari sesuap nasi.
Kutatap dalam-dalam hutan kota ini dengan gedung-gedung pecakar langitnya,melihat seorang bocah menyanyikan lagu cinta pada lampu merah di perempatan jalan Yos Sudarso ini.Dari balik kaca jendela mobil mewah itu terlihat jari-jari lentik seorang gadis memberi selembaran uang kertas untuknya.
Bocah itu tertawa girang,sambil ia berlari menghampiri warung nasi yang terletak di seberang jalan.
Lampu menyala hijau,sehijau usia bocah pengamen itu.
Teruslah kau nyanyikan tembang cinta,karena sebuah cinta sangat mahal harganya pada saat ini.
nyanyikanlah,bersama hatimu,nyanyikanlah.
Mari kita lupakan sejenak kebutuhan barang rumah tangga yang melambung tinggi,sampai kita menatapnya pun tak mampu lagi.

Kaki ini terus dengan cepat melewati beberapa kelokan jalan,bersama bayangan wajah ibu yang menari-nari pada langit-langit rasa kerinduanku, Sudah,sudah tiga hari ini aku belum sempat melihat ibu di kampung halamanku.
Bila selepas shalat magrib,ibu selalu menemaniku pada beranda didepan rumah,sambil ia menjahit pakaian pesanan dari para langganan ibu,menjahit seribu nasib,yang membawa aku dan ibu harus menghadapi hari-hari esok untuk yang lebih baik lagi.

Tepat pukul delapan malam aku tiba di tempat lahan parkirku pada pusat kota ini.
angin malam telah menusuk pada kulitku,menusuk rasa pada diriku. Yang dimana bila sudah terkumpul uang lebih dari cukup aku akan pulang malam ini juga untuk segera melepas rindu pada samudera kasih ibu,aku ingin tertidur didalam pelukan berjuta kasihnya.

***#***

Kopi panas dengan sedikit gula,membawa aku pada waktu tengah malamnya. yang akan untuk membawa aku pulang menuju kampung halamanku.
Bersama malam yang telah menjadikan sepi pada jalanan kota ini,ku pacu laju sepeda motorku menebus sudut-sudut kota besar ini.

Perjalanan ini belum usai,
aku harus membuka jalan yang baru bagi sisa kehidupanku dan usiaku ini.
dimana Tuhan memakai laki-laki tua itu untuk menyentil rasa kesadaran pada jiwaku,bahwa jalan yang telah aku tempuh adalah sebuah jalan yang akan selalu membawa gundah dan gulana pada rasa kesadaran jiwaku.
Aku,anak muda dari dusun Semampir yang telah meluluh lantakan lawan-lawannya dengan sebilah parang bergagang gading,yang telah menjadikannya raja tega pada kehidupan malam.

Bersama malam ini,aku tanamkan sebilah parang bergagang gading dengan jejak masa silamku untuk kukubur selama-lamanya pada tanah merah ini,dan sepanjang jalan menuju kampung halamanku aku ingin memulai sebuah kehidupan baru.
Karena maut tak akan pernah kita tahu kapan ia akan datang, aku ingin merasakan nikmatnya bertobat
sebelum benar-benar sang maut menjemputku,entah kapan.

Karena hati telah bernoda hitam,yang telah menjadikannya keras.
tak ada yang mustahil bagiNya,Kun faya kun!

l a n g i t j i w a

22 thoughts on “Aku,anak muda dari dusun Semampir

  1. wah makin bagus aja puisinya. masih memberontak ? atau seperti chairil, yg menyadari : “hidup itu menunda kekalahan, makin terasing dari cinta sekolah rendah”

    *************lj***************

    hahahahahaha..
    tidak juga,sobatku uwiuw

  2. Taubatan nasuha sepertinya temanya kali ini ya Mas. Sungguh indah diresapi.

    **************lj**************

    terima kasih,pak Rafki
    sdh berkunjung kembali keblog langitjiwa ini

  3. ehmm mengguggah hati 8->
    salam kenal saja mas…

    ********lj**********

    salam kenal kembali mas Andif.
    senang rasanya sdh berkunjung keblog langitjiwa ini

    salamku

  4. ..seperti Perjalanan nabi Musa as yang belajar kepada nabi Khidir as ya..

    *************lj**************

    bisa juga seperti itu,mas.

  5. kayaknya guru yang dimaksud di sini adalah pemilik blog ini
    heheheh. soalnya rambutnya panjang sebahu.
    liatnya dari avatar
    hehhehe

    *************lj**************

    hahahahaha….hallo,mas Satya slmt sore

  6. ini nich blog yang slama ini aq cari…
    buat cari inspirasi thx

    ************lj************

    terimakasih sdh berkunjung keblog langitjiwa
    dan slm kenal dariku.

  7. makin keren blog nya..
    tulisan2 nya sangat 2 bagus
    pemilihan bahasa yang tepat..

    hehehe…
    dah lama saya tak berkunjung di blog ini..
    **********lj**************

    hai! mas Yakhanu apa kbhr?
    terimakasih,mas sdh berkunjung kembali keblog langitjiwa ini.

    salamku

  8. abng mantan preman insyaf yahh..semoga banyak preman yang seperti abang..biar lndak ada lagi perkelahian memperebutkan lapak parkir..salam hangat .

    **********lj**********

    hahahaha..bukanlah,salam kenal kembali dariku langitjiwa bang Ade.

  9. pilihan kata2nya begitu simpel dan membumi… salam mas..🙂

    ************lj**********

    terimakasih,mbak
    walau masih banyak yg kurang sekali dalam mengarap cerpen ini
    jadi harap maklum,hehehe…

    salamku

  10. Tulisanmu makin panjang saja… jiw..
    Tapi ingat, diksi dalam puisi harus bermakna! Gunakan kata-kata seefektif mungkin… sebagai contoh kamu menulis seperti “…yang akan untuk membawa aku pulang menuju kampung halamanku.”
    aku melihat masih ada kejanggalan dalam kalimat tersebut. Aku tak melihat substansi dari manfaat kata ‘untuk’ di kalimat itu. Sehingga kalau dibuang juga tak masalah. Dan aku menemukan hal-hal seperti itu pada kalimat lainnya… misalnya lagi Tepat pukul delapan malam aku tiba di tempat lahan parkirku pada pusat kota ini.. Kata ‘tempat’ pada kalimat tersebut tak efektif. Bukankah tempat dan lahan substansinya sama….
    Sorry jiw, kalau aku bikin koreksi seperti…
    Aku yakin di jiwa banyak inspirasi yang menunggu. Buncahkan saja… tapi perlahan dan jiwai…
    terus berkarya…

    sedang apa di rumah???
    ====qila===

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s