bermain

berlari kecil,
telusuri jalan setapak pada pematang sawah.
lalu duduk kita berdua di saung terbuat dari bambu.

” lihat! Ada layang-layang putus!”teriakmu.

terbang
melayang
mengoda kaki kita untuk mengejarnya.

Hup!
secepat kijang kau melompat,
berlari mengejar layang-layang.
Belum sempat aku mengejar dan mengikutimu.
tiba-tiba…
Bruk!!!
terlihat dirimu terjatuh dan terjerembab,
pada lumpur sawah.

Hi..!!!
wajahnya penuh dengan lumpur.
bola matamu melalang buana mencari sendal yang tertanam
dicoklatnya lumpur sawah.

malam ini seorang bocah lelap tertidur sambil memeluk erat bantal gulingnya,
merindukan duduk berdua kembali.
Pada saung bambu,
tepat di tengah-tengah pematang sawah.

kerinduan menusuk pikirannya,
terbawa kerling mimpi.

langitjiwa

12 thoughts on “bermain

  1. Aku suka puisi-puisimu, Mas langit…
    Jujur, aku nggak terbiasa basa-basi, yang akan memberi pujian pada karya-karya orang lain kalau memang menurutku patut dipujikan.Sulit kututurkan alasannya, karena aku bukan kritikus sastra 🙂

    ***************lj**************

    terimakasih,bang suhu.
    dan sdh berkunjung keblog langitjiwa ini

  2. Nostalgia memang indah. Pesonanya bisa membuat hati yang gundah menjadi tentram.

    ********************lj**********************

    betul itu,pak. selalu begitu bila kita asyik mengenang masa2 kecil. ah.! indah sangat,pak.

  3. ah…jadi inget
    momen ngejar layang-layang
    terus rebutan 😆

    *****************lj******************

    hahaha…wah! tomboy juga ternyata mbak weny ini dulu.

  4. Salam
    its remind me, pada masa kanak2 sering bermain layang dilapangan bola with my dad di sore hari setelah seharian dari ladang ngambil kayu bakar, akh

    ****************lj*******************

    mantab! sangat indah yah,masa2 itu

  5. Tadi pagi anakku minta layang-layang… Beberapa menit kemudian, layang-layang itu dirobeknya… anakku sudah pinter untuk menghancurkan permainan… 😀

    **************lj**************

    hahaha..asal jgn menhancurkan perabotan rumah aja,kang( canda..ah)

  6. Romantis… Dan kuanyam batang-batang bunga rumput… Lalu, kulingkarkan cincin pertanda cinta monyet itu di jari kecilmu…

    *****************lj*******************

    di atap KeAgungan cinta itu ya,pak.

  7. ketika congkaknya metropolitan menggerus kita yang kecil..
    hanya pematang sawah yang bisa mendamaikan hati..seperti mengejar layangan putus…kita kumpulkan tenaga yang tersisa tuk mengejar kerinduan itu lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s