berlutut aku di kaki kecilmu

Azan shubuh mengiringi kakiku untuk meninggalkan rumah. Setelah berkemas tadi malam aku hanya membawa satu tas rangsel berwarna coklat ini. Hanya seadanya yang ada didalam tas rangsel yang aku bawa.

Masih gelap diluar sana.

cepat aku memeluk Ibu,lama,lama sekali aku memelukmu,bu.
walau bagaimanapun aku tetap harus meninggalkan Ibu.
Memang setelah kematian Ayah,kami begitu kehilangan satu pijakan. Masih teringat saat Ibu menumpahkan curahan hatinya padaku saat di ruang tamu. Ibu bagai kehilangan satu sayapnya dimana ia begitu mencinta Ayah.
Sudahlah,bu.aku yakin Ayah selalu menemani kita bersama di dalam rumah ini dan di dalam hati kita. Karena aku yakin Cinta dan kasih Ayah meliputi kita,bu.

Sebelum aku melangkah untuk pergi dan meninggalkan Ibu,cepatku raih kembali tangan ibu. lalu jatuh dan berlutut aku di kaki kecilmu.
Doakan aku,Untuk sebuah cita-cita.
Ibu meraihku,
menatapku lama,lama sekali.
Ibu tersenyum,kulihat ada senyum Tuhan menghias pada wajah Ibu.
Doa Ibu selalu ada didalam dirimu,nak.

kakiku mulai melangkah meninggalkan Ibu,kampung halaman,dan begitu juga rumah cintaku ini.

Kepada Bunda

Ketika fajar menyingsing,
kaki ini telah mengembara pada sebuah cita.
Bersama burung-burung prenjak dan sapuan angin pagi ini,ingin’ku selalu datang dan memberi khabar tentang diriku.
Dan jiwaku pun selalu berada didalam kelembutan hatimu.

langitjiwa

( Pelangi dan Puan sehat-sehat,bu )

Iklan

9 thoughts on “berlutut aku di kaki kecilmu

  1. 😦 dan seperti siang itu, 9 Januari 2008, diriku melangkah meninggalkan air mata ibuku, meninggalkan aroma khas tanah basah setelah hujan, meninggalkan belai hangat ibu kala aku sakit, meninggalkan semua yg ada di kesejukan tatap mata ibu, dan mulai melangkah dan terus melangkah untuk menggapai cita tuk bekal masa depan 😦

    I miss U mom

    ***********************lj*********************

    sdhkah hari ini kau tlpn Ibu,mas?

  2. “Syurga berada di telapa kaki ibu”, begitulah nilai spiritual yang masih kuat kuingat dari petuah ustad saya waktu kecil. semoga kita tak menjadi malin kundang yang dengan amat sadar durhaka kepada ibunya. *sok tahu*

    *******************lj*******************

    betul sekali itu,pak.

  3. Salam
    Bunda dalam restumu kuayunkan langkah, dan ku yakini doamu kuatkan hatiku 🙂

    ********************lj******************

    amin..amin
    terimakasih,mas.

  4. Memangnya mas pergi kemana tho?
    Kenapa tidak dirumah saja nemenin ibu mas.

    [pertanyaan ini sebenarnya untuk diri saya juga?]

    jadi inget bapak mas ….

    *******************lj*******************

    pergi merantau,mas.
    sama dgn aku ingat bapak( sdh meninggal)

  5. Kalau menurut agama menolak euthanasia, ya alasannya karena yang menentukan mati hanya Tuhan.
    —————
    Tentang puisi di atas, kalian harus menyempatkan diri bersyukur, karena masih ada kedua atau salah satu orang tua yang masih hidup. Coba kalau kita sudah berstatus “yatim piano”. mmmm… mmmmm….

  6. ^_^ Jadi inget saat dulu mau merantau ke Jakarta..! Duh.. jadi kebayang wajah bunda. Yang jelas, apa yang kita rasakan mungkin sama persis. TRIMS sudah berbagi memori yang manis.

  7. Ibuku adalah harta termahalku saat ini, melebihi arti istriku.

    Berbahagialah dan berbanggalah jika kita masih hidup bersama ibu. Berikanlah apa pun dan berapa pun untuk ibu kita.

    Salam buat ibu-ibu terbaik bangsa ini.

    Tabik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s