titik-titik malam ( tamat )

” ya,kalau memang abang sudah bertekad untuk kembali kepada kampung halaman,kenapa tidak.”
” memang sudah saatnya abang kembali,aku yakin ibu dan kedua adik abang sudah sangat merindukan,abang.”
” tunggu apalagi,berangkatlah,bang”
” ini ada bekal sedikit buat,abang.bawalah.”
” tak usah simpan saja,buat keperluanmu,aku tidak ingin merepotkanmu.dan bagaimanapun aku sudah mengumpulkan dari jauh-jauh hari penghasilanku selama ini.” ucapmu kembali
” hmm..baiklah kalau itu memang kemauan abang.”
” jadi kapan abang berangkat?” tanyaku
” nanti malam aku akan meninggalkan kota ini.” jawabmu

kau menatapku. aku hanya bisa menyelami sorot matamu itu.
” kenapa begitu cepat dan tiba-tiba kau ingin kembali pada kampung halamanmu ?”tanyaku pada hati ini.
awan sore ini mulai menampakan warna gelapnya. desir anginpun menerpa tubuh-tubuh pada ujung jalan ini.

lampu mercury menyinari malam sepi,dingin menusuk persendian tulang-tulangku.sesekali kubenahi syal yang melingkar pada leherku.
cepat kulangkahkan kakiku. dua kelokan jalan sudah terlalui.
jauh terlihat ada sekumpulan orang-orang berkerumun membentuk lingkaran.
” hmm..kenapa ramai sekali? ada apakah ini?” membathin aku pada diriku.
berlari aku,untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
menyeruak aku pada sekumpulan orang-orang itu
hah..!
terdiam aku sesaat
” ah..bang.!!!”
” apa yang terjadi denganmu,bang..!”
berdarah bajumu,ada sobekannya tepat diulu hatimu. cepat aku meraih badanmu. terdengar nafasmu tersengal-sengal.
” tertikam aku malam ini,dek. oleh babi-babi tuan gila itu. dimana mereka menagih jatah uang lapak pada pak somad.”
” tapi tak apa,biarkan aku menikmati kehidupan yang tersisa sedikit ini dengan melakukan kebaikan dimana sudah terlalu hitam pekat aku berkumbang pada hitamnya dunia beserta kisah gilanya.”
” aku hanya ingin sekali membela pak somad dari gangguan para babi-babi itu.”
” bang,bertahanlah sebentar lagi ambulance datang.”
” bertahanlah,bang..!?” pintaku padamu

” bang,jangan kau tinggalkan aku.!?”
” jangan,bang..!?”
” aku tak akan pernah meninggalkanmu,tak akan pernah..!?”jawabmu
” aku akan selalu berada disisimu,biarkan jasadku hancur ditelan tanah bumi. tapi jiwa dan hatiku tak akan hancur. aku hanya kembali pada kampung halamanku.dimana ibu dan kedua adik-adikku sudah menunggu pada pintu rumah kami dengan catnya berwarna putih itu.”
” bang..!!!” berteriak jiwaku mencabik-cabik langit malam
” hai…! bulan mana sinarmu..! berilah cahayamu, jangan beri gelap pada malam ini..!” protesku padanya
” bang..! jangan kau tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku..!?”

menatap abang padaku,seakan kau ingin bercerita banyak tentang rumahmu yang bercat putih itu.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada padamu,kau mengulurkan tanganmu.kulihat ada secarik kertas berlumur noda darahmu. cepat kuraih tanganmu.
lalu,dengan perlahan terkulai tanganmu.

kugenggam secarik kertas itu. lalu kubuka,

sobat….,
jangan pernah kau takut dengan kehidupan yang ada sekarang ini. ini hanya sebagian dari perjalanan kehidupan itu sendiri.dimana kita akan berlabuh pada hakekatnya. yah..disana tempat kampung halaman itu: kampung keabadian.
kampung halaman tak akan pernah ada yang ada kampung halaman disana itu.
yah..disana,ditanah Tuhan,ia bernama surga dan neraka.
maka kau benahilah jiwa dan hatimu dengan doa-doa tobat.

salamku,
abang

rembulanpun menangis
angin terdiam
hening….
sunyi….
kumelihat kau tersenyum diatas langit malam. tepat dititik-titik malam ini

langitjiwa……………
( dibawah pohon mahoni 17 april 2008 )

Iklan

One thought on “titik-titik malam ( tamat )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s