menjalani titik-titik malam ( I )

aku mengenalnya empat tahun yang lalu,dimana waktu itu masih dengan rambutnya yang gondrong sedikit urakan bila berpakaian.tepat malam itu kita menikmati kopi diwarung pinggir jalan sambil menikmati sinar bulan dan bintang,sesekali terdengar canda anak-anak manusia dibawah lampu mercury. jalanan adalah rimba kota dengan berjuta hukum tak jelas,siapa kuat ia menang.
kau melihat kearahku dengan sedikit mata menatap tajam tepat jatuh pada titik tengah dadaku,bergetar dan terasa gelombang sinar matamu.hmm….
tersenyum aku padamu,lalu kutawarkan sebatang rokok sebagai tanda aku ingin mengenalmu,dan untuk lebih jauhnya bisa juga dibilang seperti itu.
sambut tanganmu menerima sebatang rokok tanda kau mau menerima aku sebagai temanmu pada malam ini,cepat kunyalakan pematik korek pada tanganku,buss…! terlihat api membakar ujung rokoknya. nikmat sekali dari cara kau menghisapnya,inilah bila usia kehidupan lambat laun akan terhisap oleh usia zaman,dimana kita akan menjadi sahabat alam tercipta,kau dan aku hanya sebagaian dari asap-asap yang tercipta itu. asap ada ia tercipta dari api,lalu hilang tertiup angin….
tergantung mau dibawa kemana melayang asap itu dan terhirup oleh hidung siapa,dan dimana ia akan berdiam. atau ia berdiam pada kelembutan hakekat hidup pada pencari jalan Tuhan?. atau ia terjebak pada hidung-hidung dimana berdiam pada sekumpulan para pembual dengan badan bau dan wajah tak tersinari oleh lembutnya sang surya.?”suaramu berat dan bergetar,menusuk dinding jiwaku.dimana kau membuka obrolan malam itu.

” itulah kau dan aku ada,dimana tercipta lalu kembali pada tanah suci,itupun bila kau dan aku mengetahui alamatnya dengan jelas,mudah-mudahan kau dan aku tak tersesat pada belantara hutan rimba dimana kita tak tahu itu tanah siapa dan negeri apa namanya ?moga-moga tidak…yach.”

aku hanya bisa memandangi wajahmu,ada kelembutan pada hatimu,walau nampak sekali dari wajahmu memancarkan garis-garis ketegasannya,dan sekumpulan anak-anak malam menyebutmu dengan si’abang dari kota tak bernama.apa kau datang kedunia tanpa kelahiran pula?
” ah..! sudahlah kau tak usah perlu tahu aku berasal darimana,tempat lahirku dimana,tapi kalau kau tetap memaksa keingin tahuanmu itu bolehlah aku beritahu padamu,tanah lahirku pada alam semesta ini dimana berasal dan tercipta dari Sang Cinta.nama kotaku..?nama kotaku tak mempunyai nama,ia ada dimana-mana sesuka aku singgah dan merebahkan badan ini.

iya aku rindu denganmu pada malam ini,hanya sepi tanpa angin.sudah cukup lama kita tak berjumpa pada pertemuan dititik-titik malam seperti biasanya ini ,dimana kau selalu membawakan makanan kesukaan bocah-bocah penyanyi jalanan dimana sudah menunggumu tepat disamping warung kopi kita biasa menghabiskan malam bersama.memberi sedikit uang hasil jerih payahmu pada wanita-wanita tua beralas kardus pada pojok toko sepatu itu.teringat aku saat kau melangkahkan kakimu terlihat ada sobekan pada celana hitammu dan berdarah pada wajahmu, saat kau tiba dipersimpangan jalan dimana saat diriku hendak melangkahkan kaki untuk kembali pulang,kau hanya berbisik padaku.” ini hanya sebagaian dari permainan kecil ,merebut lahan gila dimana terkuasai oleh bos gila pula,tak apa.! akan aku tunggu babi-babi pesuruhnya,biarkan mata pedangku akan berbicara lebih gila lagi.!”katamu

itulah pertemuan kau dan aku malam itu,tepat ditengah-tengah titik malam sepi tanpa angin mendesir pada lipatan-lipatan kulit kita.bergerak malam semakin cepat ia berlari.hendak berteriak malam mengadu pada rembulan kalau malam sudah tak betah pada hari-hari malamnya.

( tulisan ini belum proses edit,jadi harap maklum bila ada kata-kata yang kurang,salamku: langitjiwa…)

7 thoughts on “menjalani titik-titik malam ( I )

  1. aku terbawa dalam buaian kata-kata.. terhenti dalam tanya ketika kubaca kata-kata “bersambung…”
    Yup saya tunggu sambungannya, jangan lama-lama yah..😆

    kalau begitu awas tertikam nanti oleh kata-kata..hehehe, okay akan aku coba yach untuk melanjutkan tulisan ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s