sepi di ujung mata
ada suara memanggil
menyentuh jiwa terasa sangat
menenangkan lautan yang gelisah dalam diri
meninanbobokan jiwa yang menangis
di ujung sepi
ada,yang berteriak: Ibu! Ibu!
mengetarakan 13 batang terali besi
sepi di ujung mata
ada suara memanggil
menyentuh jiwa terasa sangat
menenangkan lautan yang gelisah dalam diri
meninanbobokan jiwa yang menangis
di ujung sepi
ada,yang berteriak: Ibu! Ibu!
mengetarakan 13 batang terali besi
selembar wajah yang semakin purba
tergores sketsa garisgaris memanjang tak bertepi
dan usia pun kini semakin usang
serupa: dedaunan yang letih tergantung pada ranting yang rapuh
deru nafas berlari bagai lari kuda troy
mengejar imajinasi dan mimpi
cahaya lilin menjadi saksi bisu
mencatat perjalanan usia yang mabuk
muntah di atas sepiring kue tart!
saat cinta mengujam!
membuncahkan didih darah
yang sekian lama terpendam
kau dan aku tak akan pernah bisa
menahan gerak rasa dalam diri
terbawa gelombang yang maha dahsyat
terdampar kau dan aku dalam permainan gila
yang mengetarkan ke segala penjuru jiwa pancaindera
dan menenggelamkan semesta dalam diri
” kita jalani saja cinta terlarang ini.”ucapmu lirih
kini senja mengelayut di barat bumi
bayangan kita hilang di ujung langit
tergores pada waktu yang menjadikanya kenang abadi
nun jauh di sana ada yang menunggu dalam gelisah
menanti pada pintu rumah yang mengangga lebar
1/ Laki-laki Buaya Darat
Tiba-tiba laki-laki itu mencabikcabik tubuh wanita dihadapnya.Di makan hati,jantung,limpa,dan di telan bulatbulat kedua bolamatanya.
” Nikmat sekali hari ini.”Ucapnya.
2/ Sang Pemerkosa
Wajahnya berubah wujud menjadi wujud setan yang paling menakutkan di muka bumi.
Dari kepalanya menyembul tanduk di kanan kirinya.
Penisnya menjulur panjang,dengan tato tertulis: aku sang jejaka!
3/ Di Balik Buku
Begitu serius ia membaca buku pelajaran kimia
di balik buku itu ada sebuah buku berukuran kecil
Sebuah karya: Enny Arrow dengan judul: Birahi Malam.
cahaya bulan meleleh diatas kuburan
menjadi sketsa seraut wajah tanpa peta
sayup-sayup terdengar tawa panjang seperti rintih luka
menari-nari di atas pucuk pohon kamboja
di bawahnya sebongkah batu nisan tak bernama
teronggok dan berlumut hijau abadi
terjepit pada waktu,merintih!
aku sekarang berada pada kamar kerja yang letaknya di belakang,ada kamar mandi di samping kamar kerjaku untuk membasuh jiwa pancaindera yang setiap hari selalu dekil dengan segala macam dosa
kini,aku sendiri pada rumah ini
tinggal sepi di ujung mata
setiap kali melangkah,cicak di dinding mengejekku : mampus kau di koyak-koyak sepi!
aku teringat akan sajak chairil anwar
ada asap rokok mengepul di sudut kamar
kelebat bayang menyentuh terasa sangat bulu mataku
tinggal aku mengigil ketakutan
saat aku melihat sebungkus rokok
dengan kemasan masa lalu
tepat! di samping bungkus rokokku di atas meja jati tua
SEORANG PEREMPUAN, KEKASIH PEMAIN BAND
oleh :Kurniawan Yunianto
: untuk seorang teman, gitaris yang berbakat
di sebuah kamar kecil berdinding papan
kutemukan kau sedang sarapan
bersama perempuanmu
sosok tubuh tambun
hanya bercelana pendek dan kutang saja
di atas payudara ada tulisan biru tua yang tak rapi
hidupku menderita
derai tawanya
memaksaku tersenyum menyapa
sebelum kemudian ia bertanya
hai, bocah bagus, mau latihan band ya ?
dari sebuah studio musik
rock’n roll dan blues menyeruak berisik
sayatan gitarmu jalang dan genit
serupa jerat kehidupan yang kian rumit
menolak kuantar kepada perempuanmu
kau memilih turun di ujung gang
disambut senyum nakal perempuan muda, malam lengang
wajahmu berseri dan rembulan tersipu
pagi hari
judul berita di sebuah koran tak terkenal
seorang mucikari gantung diri
kerna sang kekasih bercinta dengan anak asuhnya
di ruang jenasah
perempuan bertubuh tambun terbaring
aroma anyir, jejak putus asa
kau, entah di mana