Tiba-Tiba Aku Membunuh Diriku Sendiri

Posted in Sajak on 22 Agustus 2009 by langitjiwa

membaca matamu malam itu
seperti melihat pusar gelombang yang maha dahsyat.
mataku terhempas jauh dari tepian matamu.
dan tubuhku basah oleh derai airmata
isakmu menghancurkan dinding jiwa
pecah! kepinganya menancap mata bulan.

yah…aku lakilaki yang belum baik dan benar
tak apa kau sebut aku lakilaki pengecut
karena mencintaimu adalah sebuah anugerah
lantas? apa harus di selimuti kepura-puraan? merawat cinta yang sedang tumbuh untuk berbuah.

bila tiba waktunya kita berpisah
aku hanya inginkan darimu
sesering mungkinlah kau berdoa untukku
di gudukan tanah merah
di mana dapat kau lihat keping-keping jiwa yang berhamburan
bersama 7 rupa bunga yang luluh lantak bersama katakata!
yah..katakata yang belum sempat menjadi sajak terakhir untukmu

malam semakin sekarat
desau angin menampar semesta
seorang penyair terkulai dengan matapena menancap di dada kiri
darahnya membentuk segurat kalimat : Ruhku bersemayam di matamu!

CORETAN DI UJUNG MALAM

Posted in Sajak on 14 Agustus 2009 by langitjiwa

hawa dingin merangkul semesta
tubuh kita mengigil di pucuk
bungabunga aldewis di puncak gunung arjuna
meringkuk dalam tidur
tetes demi tetes embun jatuh basahi tanah bumi
jiwaku merapat pada jiwamu
aku rebahkan bibirku pada bibirmu
kita kayuh bersama
menuju pulau sejuta rasa
di sana aku minum anggur dari celahcelah telaga rahimmu

l a n g i t j i w a

kepada: Pelangi Anakku

Posted in Sajak on 17 Juli 2009 by langitjiwa

andra
dinding tergores warna-warni krayon anakku
garis memanjang,patah-patah
lingkaran,putus-putus,titik-titik

pada sudut kamar lemari jati tua diam seribu waktu
di atasnya tergantung foto ayah terbingkai kenang
mata ayah terukir pada matamu
mata yang siap menatap kejam dunia

kamar ini tak terlalu luas
serupa sangkar berjeruji duri kawat
ah..! itu dinding pucat!
sebelum aku lempar kwas penuh dengan warna-warni rasa

Pelangi anakku,tunggu bapakmu
sedang menampung tetes-tetes rejeki
untuk membelikan mobil-mobilan terbuat dari kayu nangka
Bapakmu ini hanya seorang kuli angkut kata

*ketika aku menulis ini subuh dini hari nyanyian pejalan cinta melantun memanggil jiwa-jiwa untuk segera membasuh jiwapancindera yang sudah semakin berkarat
- ayah-170709

KEPADA:BUNDA,CINTAKU PADAMU MAHA

Posted in Sajak on 14 Juli 2009 by langitjiwa

3992903-md

purnama telah hadir di atas kepalaku
ia seperti kekasih tiba di stasiun tak bernama
telanjang kaki menyusur lorong waktu
memungguti helai demi helai kenang
yang teronggok di atas meja loket tak bertuan
tak ada jadwal berikutnya di wajah dunia yang memerah membara.panas
setapak tapak usia sejengkal maut
bila tahu begini ingin kembali menjadi bayi
dalam rahim ibu mendekap tubuh Tuhan

malam semakin letih
desau angin menusuk mata jendela kamar
dinding kamar pucat tergores tanda demi tanda.lurus
ini tanda ke 13 dari ujung matapena bunda
setetes tinta jatuh ke lantai
gema bunyinya mengusik jiwa sepi

kau sibak rambut panjangmu
menarinari di wajahku
kucium wangi rambut emasmu dalam pangkuan rasa
kau tersenyum:senyummu merontokan angka-angka dalam kalender
pada angka 14 pada kalender tua
ada makna yang tersirat dan tersurat
kau membaca,mengeja katakata tergaris tebal
setebal doa pada malam-malam sepi
dan tubuh kecilmu terkulai pada hamparan sajadah biru
sajadah menampung tetes-tetes cinta
yang menjadikan air bah mengulung semesta
hanyut dalam pelayaran yang maha jauh
jauh…mengarungi samudera hidup
melawan gelombang meninju kilat
menampar asa membanting keluh

gelas-gelas perjamuan pecah menghantam dinding karang
serpihannya terbang melesat menancap mata bulan
bulan menangis,tetes demi tetes airmata
aku tampung dalam bejana
aku bawa berlari sambil menyusur jejak-jejak langkah kakimu yang terukir di bebatuan,hamparan pasir,di tinggi pepohonan,pada luas padang ilalalang
di awan gemawan,lembah-lembah,gununggunung
pada hamparan padi menguning gading tak aku temukan

ketika senja jejak kakimu menjadi cahaya
menyeruak ke angkasa berkelebat membakar bima sakti
maka aku katakan itulah:cahaya jiwa
rasaku mengejar di gugusan galaksi
terhisap di empat kiblat
di pusat kiblat dalam hening menjaring kesadaran
aku cium dalam rasa yang maha
bibirku mengatup tak dapat berkata
dengan bahasa kalbu aku berbicara dalam titik kekosongan
dalam kosong aku menjadi lebur,untuk aku temukan cahaya cintamu itu
maka,aku temukan cahaya cinta itu dalam tujuh lapisan hatiku,kekasih
cahaya cintamu tak jauh dari aku berdiri,duduk,berjalan,diam,dalam aku tertidur,pada setiap desah nafas,pada setiap kedipan mata.cahaya itu meliputi jiwaku
ia ada disini!
ia ada di sini!
di dalam hatiku!

kekasih,semua sudah aku persiapkan
pada perjamuan malam ini
di hari kelahiranmu
inilah: darahku dan tubuhku
anggur dan rotimu

mendekatlah jiwamu untuk aku cium
agar kau tahu betapa maha cinta dan kasih sayangku padamu.

(ah! ini jabang bayi semakin besar dalam kandungan
bergerakgerak kaki menendangnendag.bisik ibu nuranah,21 tahun yang lalu)

photo by:Wojtek Aleksandrowicz

PUKUL SATU DINI HARI

Posted in Sajak on 19 Juni 2009 by langitjiwa

gendang sepi pecah
di campak murka
jarum jam menusuk mata
bola mata meledak!
serpihannya menancap jiwa
jiwa berlari tertatihtatih menuju barat
merangkak menjilat timur

jaringjaring terkoyak
kesadaran terbang
melalang pada semesta raya
seperti dedaunan terbang melayang tanpa tenaga

kita tinggal tubuh kosong tak bertuan
si penjilat yang lupa untuk kembali pulang
sampai pada akhirnya merayap menuju pintu Tuhan
bukalah!
bukalah!

Ciuh..!!!

segumpal dahak iblis meleleh pada wajah kusam
menjadi segurat kalimat: compang camping jiwa rasakan!teriak iblis suka cita
ja…ja…ja…jaaaaaa….

Jadwal Keberangkatan

Posted in Sajak on 30 Mei 2009 by langitjiwa

bunyi pluit panjang dari masinis
memberi tanda pada lokomotif
sudah tiba waktunya berangkat
membawa gerbonggerbong penuh sesak orangorang mati

lalu,seorang lakilaki bertubuh kecil mati tadi pagi bertanya:
“kemana kita akan hendak di bawa?”
” Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Kau dan aku akan berangkat menuju padang luas mata jauh memandang.”ucap seorang ibu tua lirih

mereka yang hidup melambai tangan: Selamat Jalan
menunggu jadwal keberangkatan berikutnya
dengan tiket tanpa hari,tanggal,bulan,tahun,dan jam tak di tentukan

2 Hari 2 Malam

Posted in Sajak on 21 Mei 2009 by langitjiwa

di beranda rumah yang sumbang
aku duduk sendiri
menatap daundaun gelisah,derak ranting menahan luka
dan,gontai ilalang mabuk minum air hujan

ini sepi semakin panjang
aku tutup pintu:
menahan gemuruh angin yang gelisah
menampar wajah pintu jati

lapar datang,memasak sendiri
makan sendiri.meja makan lengang
bunyi sendok garpu mencubit piring di iringi
suara cecap mulut menjadi: nyanyian kelu

ranjang hitam
bantal guling kini serupa dirimu
aku dekap erat
nikmati saja
aku sepi iseng sendiri,kekasihku!

  • Photobucket
  • WarungPuisi
  • ">Page copy protected against web site content infringement by Copyscape
  • "Indonesians’
  • outils webmaster
    alternative media
  • Photobucket
  • Profil Facebook Langitjiwa Andra
  • Photo by: Raraindra Prakasa

    Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket
  • Galeri

    Daily Painters
    Art Gallery
    Contemporary original art for sale by painting a day artists and habitual painters, from the Daily Painters Art Gallery
    contemporary
    original art for sale

    www.dailypainters.com
  • Award From ;Alex

    Photobucket
  • Award Best Influence Blog From; GusTALKS( Semarangreview)

    Photobucket
  • Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.
  • free counter
    free counter
  • ip-location
  • menghitung hari :

    November 2009
    M S S R K J S
    « Okt    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • pasal 9 ayat : kata-kata

    "....menulis bagiku adalah ungkapan rasa pada jiwa dan hatiku.Dimana ia tersimpan pada langit-langit kesadaran rasa. kata-kata tercipta dari perenungan dan menyelam pada lembah hakekat kata.Walau tertuang dengan kata-kata sederhana.maka aku akan menyelaminya dimana kata-kata menjadi hikmah bagi diriku,walau itu hanya dengan satu kata-kata !" langitjiwa.
  • Cahaya Sajak

    Di bibir malam,kau menyalakan satu batang lilin kerinduan yang kau bakar dari api kata-kata sajak Cintamu Dengan kata-kata sajak cinta darimu telah menjadikan bintang-bintang di angkasa luas dan bulan purnama merah membara,dan terbakar. yang menjadikannya percikan bunga-bunga api kata-kata! Pada malam di hutan waktu yang telah menjadikan kata-kata sajakmu telah terbit dari cahaya jiwamu, dan terbaca pada matahatiku. Dan,menerangi pada ruang hatiku,selamanya! l a n g i t j i w a
  • Moon light
  • qizink la aziva

    ' ada tanda menunggu menjadi waktu'
  • Coretanku

    Berpisah denganmu, bagai mata tak berair pada telaga kerinduanku. Sungguh, terhempas aku pada celah sunyi malam yang tak terobati. l a n g i t j i w a
  • arsip

  • sahabat berkomentar:

    dobleh yang malang di TERMINAL KEBERANGKATAN
    azaxs di TERMINAL KEBERANGKATAN
    rrj di CORETAN DI UJUNG MALAM
    jee di TERMINAL KEBERANGKATAN
    sunarnosahlan di TERMINAL KEBERANGKATAN
    adi sucipto di IBSN : Suara Yang Membuat laki…
    adi sucipto di IBSN : Suara Yang Membuat laki…
    zeromask di TERMINAL KEBERANGKATAN
    fitri hermawati di Buku tamu:
    ceritapenulis di UNTUK KESEKIAN KALINYA AKU MEN…
    izmi di Aku Benci kamu!
    reki klewer di Menyapamu
    otakberpikir di Jalan Sufi
    atmakusumah di Buku tamu:
    rizkaaa di Rindu Ayah
  • Selamat Datang

    Terima-Kasih,sudah singgah dirumah kontrakan ini.Bila ingin melanjutkan perjalanan hati-hati di jalan Maya.
  • Subscribe in a reader
  • Brinks Home Security

    Sponsored by: Brinks Home Security
  • nasibmu..

  • kunjungan sahabat:

  • Meta