Celengan Kata:
KUTULIS PUISI DIMATA KECILMU
Inginku tulis puisi cinta,dimata kecilmu.
Agar terbaca pada setiap waktu,
Kala kau terkukung sepi dan rindu.
langitjiwa.28 Desember 2008
INGSUN
Kalau kau berlari meninggalkan sangkarmu
Aku tubuh tak bertuan.
Hilang pada jalan tak berpentunjuk menuju Jabarut Sang.
Tetaplah kau disini,dalam sangkarmu.
Bawa Jiwaku menembus titian makna dan hakiki.
Dan biarkan Ingsun,
Menari..
Menari..
Bersama Lafadz Sang.
Lebur…..
*Beranda Surau.Feb.2008*
CINTA PUTIH
Hanya sebuah puisi yang kuselipkan di jendela kamarmu ini.
Saat kau membacanya nanti,aku sudah pergi jauh meninggalkan kampung halaman.Untuk mengejar cita-cita di tanah rantau.
Bila kau rindu padaku,
Bacalah kembali kata puisiku.
Rasakanlah,
Resapilah.
Sampai bergetar dinding rasa hatimu.
Bersama jejak langkahku,
aku dapat merasakan getaran itu.
Walaupun aku berada pada ujung dunia ini!
2712208.
MATA AIR KATA.
Pagi ini aku tidak akan menulis puisi yang berapi-api.
Yang akan membakar jiwamu,merontokan rasamu.
Pagi ini hanya sebuah rangkaian kata puisi sederhana,
Dimana bunga kata kupetik dari ladang hatiku.
Kuncup bunga kata mekar dan berkembang,menebarkan wangi bersama sinar matahari yang menusuk tajam pada mata jendela kamar hotelku.
Jauh darimu,ku tulis puisi sederhana ini.
Dengan Kata-katanya yang tak akan pernah habis,Tak akan habis! Untuk menulis tentangmu.
Ia akan selalu terus tumbuh dan berkembang.
Karena kau adalah; Mata air kata yang selalu mengalir membasahi ladang kata di hatiku.
langitjiwa.221208
(Selamat Hari Ibu,Istriku.)
Untuk Istriku dan Kedua Anakku (Puan Dan Pelangi);
Berpisah denganmu, bagai mata tak berair pada telaga kerinduanku. Sungguh, terhempas aku pada celah sunyi malam yang tak terobati.
221208.
MALAM PENGANTIN
Deru nafas mengulung-gulung,
Menghantam dinding ranjang.
Kaki ranjang patah,
Dua batang tubuh terkapar!
211208
RINDU AYAH
Melihat fotomu,ayah.
Ada kerinduan yang membasahi hatiku.
Saat inginku tulis tentang dirimu,
Penaku bergetar,
Kata-kataku menangis.
191208
LITURGI
Selamat datang malam.
Ini tubuh dan jiwaku.
Bawalah menuju keheninganmu.
Walau jalannya terjal dan mendaki.
Mungkin,akan sedikit sulit,dan membutuhkan perjuangan bathin.
Tak peduli seberapa jauh perjalanan ini.
Oh..malam.
Ini tubuh dan jiwaku.
Yang telah menjadi Anggur dan Roti.
Pada altar perjamuanmu malam ini.
Amin.
181208
MABUK
Mabuk aku!
Mendengar kata-kata yang memecah Jiwa
Yang mengelegar menembus Qalb.
Melayang jiwaku……
Tanpa kata,
Tanpa suara.
Hanya kesadaran Rasa
Aku menikmati
Kata dan suara.
Hening………..
14 1208
UNTUKMU
kamar ini tak begitu luas.
Di kamar ini pula anak-anak sajak lahir dari rahim malam.
Setelah anak-anak sajak lahir,di rawatnya dengan baik.
Diberinya susu kata agar menjadi anak-anak sajak yang montok dan tentunya mengemaskan.
Kadang,anak-anak sajak selalu saja ada yang nakal.
Tak mau diberi susu kata.
Maka,Sang empunya harus bersabar untuk merawat dan mengasuhnya.
Agar kelak ia menjadi anak sajak yang baik.
Kadang juga bila nakalnya sudah keterlaluan,akhirnya saya melepaskannya untuk pergi ke mata para pembaca.
Maka,bila ada anak-anak sajak saya yang kurang susu kata dan mengalami kekurangan gizi kata,mohon sekiranya dimaafkan.
Karena saya yang mengasuh dan merawatnya,kadang tak sabar untuk melepaskannya pergi ke mata para pembaca.
Dan mohon untuk dimaafkan.
Salamku,
langitjiwa.
jendela kamar,14 Desember 2008.
SELINGKUH
Cintaku patah!
Bangunan kasih sayangku hancur.
Melihat kau bercumbu rayu,
Di depan mataku.
Menikam hatiku.
Kucabut,
Sakit!
l a n g i t j i w a.131208
IKLAN.
Saya Langitjiwa!
Akan mensejahterakan kepada rakyat kata,yang tertinggal di pedalaman sepi malam.
Memberi yang terbaik bagi bangsa kata.
Untuk menuju Masa depan Yang Gemilang.
Saya langitjiwa!
Bersama Partai Cangkem.
Akan membawa perubahan bagi negeri Kata yang Sejahtera,Adil dan Makmur.
Bersama Partai Cangkem!
Menuju Era Baru.
Hidup! Partai Cangkem!
Hidup! Partai Cangkem!
Merdeka!!!
Di ujung gang,seorang pemulung menonton iklanmu.
Tiba-tiba,ia berteriak dengan lantang;Cangkemmu,juga! Merdeka!!!
Sambil memungut botol plastik ia hilang dikelokan malam.
* *
Cangkem adalah istilah bahasa Jawa,
Asal kata Dicancang kon mingkem
(Diikat supaya diam/menutup) Tapi sekarang banyak Cangkem(Mulut) yang diumbar nge-jeplak (menganga).
l a n g i t j i w a. 121208
CACI MAKI
Terhempas aku oleh kata-katamu!
l a n g i t j i w a.111208

(Photo By: Dave Dube)
DIMATAHARI PAGI,AKU HUJAMKAN KATA-KATA PUISIKU
Lewat kata-kata kurangkai
Biar ia menjadi sebuah puisi.
Agar aku melipat bumi dengan kata-kata.
Samudera lautan sebagai tinta di mata penaku.
Dan, akan ku hujamkan kata kata
di matahari pagi.
Lalu,akan aku terbangkan kata-kata puisiku bersama gemuruh angin,
Agar menerpa rasa jiwamu.
Semesta bersinar sudah
Saat kau membaca kata-kata puisiku.
Dimana ungkap hati dan jiwa menjadi
Guru untuk menulis.
Yang telah menjadikannya sebuah puisi hari ini.
Dan biarkan kata-kata puisiku menari-nari bersama kicau burung-burung prenjak didalam hatimu.
Memasuki peredaran darahmu,
Dan berdiam pada lembah keabadian rasamu.
Bersama matahari pagi,
Akan aku ciptakan kembali kata-kata menjadi puisi Cinta untukmu.
l a n g i t j i w a.71208.
PESAN UNTUKKU.
Saat dosa dikutuk menjadi batu hitam pada hati
Tangis jiwa menjadi nyanyian keabadian dalam neraka jahanam.
Kekal selama-lamanya!
020109.
TAHAJUD.
Jiwaku kini serupa,
seraut wajah lautan yang gelisah,berlayar ditengah malam.
Jiwaku mengigil saatku sebut NamaMu.
MISA PERTAMA.
Atas Nama Bapa.
Dan,Putra.
Dan,Ruh Kudus.
Bapa,
Yang ada Di Surga,Di Muliakanlah NamaMu.
Ini Jiwa dan Hati kami datang di Malam KudusMu.
Untuk mencium wangi Tubuh AnakMu dalam peluk Cinta Kasih Maria.
Bersama suka cita pada jiwa kami,sambutlah;
Lagu Pujian Raya,
Kudus NamaMU
Kudus Pada MalamMu
Kudus Bersama Bapa.
Amin.
BELUM ADA JUDUL.
Malam ini,
Mata mengajakku jalan-jalan.
Tubuh kecilku di paksanya untuk menemainya.
” Siapa tahu,nanti kita ketemu dengan arwah kata.” ucapnya.
” kalau begitu aku mau ambil korek dan rokokku.”
Kubakar satu batang rokokku kembali.
Ini korban yang ke empat untuk kuhisap.
Menghisap rokokku dalam-dalam.
Sambil menatap fotomu,Jane.
Ah! Sudahlah.
Puh!
kepulan asap keluar dari bibir hitamku ini,
Hitam bagai warna air Bir Guiness
Lagu ; Communication Breakdown terlantun dari Led Zeppelin
Menendang tubuhku untuk bergoyang.
Bergoyang kekanan,kekiri.
Bagai ilalang dimainkan sang angin.
Diatas sana,Bulan tertawa terkikik-kikik.
Melihat begitu tololnya aku.
Disudut kamar,
Detik jam mengalun bagai gelombang lautan
Menghantam dinding waktu.
Membuat aku terkapar di angka-angkanya.
lalu,
Mau kutulis apa judul sajak ini?
Rasaian! malam-malam buta masih sibuk mencari judul puisi.
lj.612008.
AKU DAN KAU.
Kematian,
Adalah sebuah kode rahasia yang Tuhan punya.
Kemarin,ada yang mati.
Jenasahnya ditandu dalam keranda untuk menuju peristirahatan yang terakhir.
Lalu,seorang laki-laki bertubuh kecil bertanya; Siapa didalam keranda itu?
Kenapa kau bertanya seperti itu.Jangan kau bertanya siapa dia.
Sebab,sesungguhnya dia adalah kita,Dia adalah aku dan kau.
lj.51208.
NATAL TAHUN INI IBU TANPA BAPAK.
Bu,
Natal untuk tahun ini ibu tidak merayakan bersama bapak. Tak usah Ibu bersedih.Aku tahu bagaimana perasaan ibu saat bapak berpulang ke rumah Bapa.
Aku berharap pohon natal yang dulu bapak beli di sebuah toko dekat stasiun Jatinegara masih tersimpan dengan baik,bu.
Hari itu ibu bersemangat sekali mengeluarkan pohon natal yang berada di atas lemari pakaian ibu.
Di buka ikat talinya,perlahan ibu keluarkan satu persatu.
lalu,dengan seksama ibu merangkainya untuk dijadikanya sebuah pohon natal yang indah.
Melihat ibu menghias pohon natal,airmatanya terjatuh.
Menetes,bersama lagu-lagu pujian.
Perlahan ibu bangkit,menatap foto bapak yang terletak pada sudut ruang tamu.Di pegangnya foto bapak,di peluknya erat-erat,tepat di tengah-tengah dadanya.
Melihat wajah ibu begitu meresapinya. Sampai bergetar jari-jari tanganya.
melalui bahasa kalbu ibu berbicara dengan bapak.
“Aku selalu merindukanmu bersama cintaku.
Dan aku merasakan kehadiran berjuta malaikat turun dari Langit Keabadaian pada malam ini.
Dan,dengan hamparan sayap-sayapnya,memeluk jiwa kita berdua.Erat-erat sekali.”
l a n g i t j i w a.3 Desember 2008.
*Lantunan Louis Armstrong;What A Wonderful World ,terus mengalir membasahi langit malam.
( Buat; Ibu di Bekasi,
Kami sekeluarga sehat-sehat selalu.)
TARIAN JIWA.
Hu Allah.
Hu Allah.
Hu Allah.
Allah
Allah
Allah
lj. 21208.
MANCE.
Lengang lengong berjalan di panggung trotoar.
Terlihat kakimu terbalut stoking berwarna putih pudar.
Bibir merah tersapu gincu Merk terkini.
Belahan payudaramu terlihat montok.
Tak apa,walau silikon tertanam didalamnya.
Mata mengerling,kau goda aku.Genit.
Kau kibas rambut panjangmu.
Tersenyum aku,
Melihat kau punya rambut terkait ranting pohon.
Jatuh sudah kau punya wig.
Aih,sialan..!? Terucap darimu.
Pasang kembali,
Rapihi.
Bersama malam dan hawa dingin.
Kau terus menelusuri panggung trotoar.
Yang tak akan pernah habis untuk kau jalani.
* Bundaran waru.08*
l a n g i t j i w a
TAUBAT NASUHA.
Aku menangis,
Menjahit luka-luka dosaku.
lj.301108.
SUDI MAMPIR.
Kalau nanti ada waktu,mampir kerumah.
Ada minuman sari buah anggur kata-kata.
Yang telah aku endapkan,agar sarinya dapat kita minum bersama-sama.
Dengan sarinya akan membuat kita mabuk.
Yang akan membawa kita menuju negeri kata-kata.
Tinggal pilih mana kata-kata yang kau suka.
Setelah itu,kita masukan kedalam gelas perjamuan malam.
Agar terberkahi dari pancaran jiwa.
untuk kita ciptakan sajakmu sajakku.
Maaf,menganggu.
Apa betul ini rumahmu?
lj.291208.
MAK.
Aku hanya sebuah wajah lautan yang gelisah.
Yang terhempit di celah dinding karang kerinduan.
Kerinduan akan peluk kasih dan cinta Emak.
Dengan jari-jarinya ia membelai kepalaku.
Menenangkan Jiwa yang gelisah.
Aku terharu,
Melihat Emak dengan sabar,berusaha dan terus berdoa
untuk merajut seribu nasib.
Ku hampiri Emak,
Kurebahkan tubuh kecilku,
Didalam pelukan Emak.
Menetes air mataku membasahi kain kemben Emak.
Ku rangkul kaki kecilnya.
kubasuh dalam bejana.
Ku raup airnya,untuk membasuh wajahku.
Lama Emak memandangiku,lalu
Kedua tangannya membelai kepalaku.
Sambil Ia terus berdoa,
Aku merasakan ada yang mengalir di samudera jiwaku.
Menenangkan wajah lautan yang gelisah pada diriku.
lj.25 Nopember 2008.
PERJALANAN
Hujan semalam telah membasahi jalan setapak menuju lembah dan bukit.
Kuncup-kuncup bunga mawar merah merekah menebarkan wangi,
Kicau burung prenjak hinggap pada dahan-dahan pohon tinggi,
Menyambut pagi bersama jejak langkah kakiku.
Lihat,
Petani telah membajak sawah,untuk menanam bibit padi kehidupan.
Disana aku melihat Tangannya mencangkul bersamaTuhan.
Sekumpulan ibu-ibu berjalan beriring bersama menuju pasar pagi untuk menjual hasil ladang.
Disana aku melihat wajah-wajah suka cita hadir bersama senyum Tuhan.
Lima bocah bersepeda jengki,menuju sekolah,mengali ilmu.
Untuk menjemput masa depan.
Disana aku melihat Cinta Tuhan meliputi Jiwa-Jiwa mereka.
Disini, Aku melihat bayang tubuhku tersinari oleh matahari pagi.
Sekejap kubergerak hilang bayanganku.
Aku dan kau tak kekal adanya.
Keabadaian hanya MilikNya.
Karena aku adalah Wujud Majas dari Wujud HakikiNYa.
Melewati ujung jalan setapak ini ada sebuah rumah.
Hanya seorang laki-laki tua yang menghuninya.
Dimana ia selalu menembangkan nyanyian tentang perjalanan hidup.
Suaranya pelan,tapi sangat dahsyat menghantam ruang jiwaku.
Makanya setiap aku melintas didepan rumahnya,
Aku selalu memperlambat gerak kakiku.
Karena aku ingin menikmati sepuas-puasnya.
Karena lagu yang ia nyanyikan bagai mata air yang mengalir dari kedalaman jiwanya,
Menelanjangi diriku.
Setelah melewatinya,ada kelokan di ujung jalan ini.
Melawati ngarai sungai.
Dimana selalu aku rindu dengan suara gemerciknya.
Airnya jernih bagai batu Yakut.
Lalu,kubasuh wajahku,wajah yang telah usang oleh perjalan usia.
Inilah wajah Dunia.
Sebentar lagi senja.
Mata malam akan kembali pada titik tengahnya.
Dimana Jiwa-Jiwa yang diliputi oleh RahimNya,
Akan kembali menuju pada pintu keheningan.
Untuk merasakan dan menikmati nyanyian Surga yang terlantun dari Lembah Jabarut.
Langkah kakiku terhenti,Pada SurauMu.
Dan,dengan Cinta.
Sambutlah kecup bibirku untuk mencicipi kehangatan Rasa Cinta di BibirMU.
Beranda Surau Semampir.
. lj.23 Nopember 2008.
IDUL FITRI.
Lama ia pandangi air ditelaga Cinta.
Lalu,pelan-pelan ia celupkan tubuhnya,
Terus dan terus ia lakukan.
Sampai Tangan Tuhan mengangkat kembali tubuhnya.
Untuk Ia pakaikan Baju yang telah Tuhan jahit dengan Rahmat dan RahimNYa.
Pagi ini Tuhan membasuh dan mencuci jiwa panca inderanya untuk menuju fitriNYa.
lj. 22 Nopember 2008.
JADILAH GILA.
Puisi ini telah lama aku tulis.
Lama kuendapkan.
Dengan membacanya kembali,rasanya ada yang kurang kata-katanya
lalu aku pun mengutak-katik dimalam sepi.
Agar kata-kata kembali bercahaya.
Lalu,aku membacanya lagi.
Berulang kali,Yah,berulang kali.
Dan,aku teringat seorang Penyair berkata kepadaku sore tadi.
Jadi Gila dulu baru kau akan mengetahui rahasia hakikat kata-kata.
Penyairku,
Malam ini aku sudah menjadi gila oleh kata-kataku.
lalu,kau mau apa!
lj.201108.
Selamat datang malam,
kau selalu mengodaku untuk mengetahui rahasia di balik tubuhmu.
Entah,apa yang ingin kau tunjukan lagi pada diriku.
Malam,
Aku selalu merindukanmu,
Karena dititikmu aku menemukan kata-kata yang tersimpan didalam tubuhmu.
Selamat Datang Malam,
Yang telah membuat aku terjaga sepanjang malammu.
Berdiam diri dalam hening.
Menikmati sinar cahaya bulan Purna
Yang menyinari ruang kataku,Malam.
Selamat Datang malam,
Yang telah membuat kedua bola mataku
Jelalatan sepanjang malammu.
Dan,
Tubuh kecilku terkapar,
Menahan ngantuk sepanjang malammu.
Setelah bercumbu dengan kata-kata di ruang kamarku ini.
Ugh!























6 Februari 2009 pada 05:24
puisine apik-apik mas….salam yoo
9 Maret 2009 pada 09:37
selamat malam bang
q baca yang biasa q baca diantara bacaan yang bisa aku baca
salam hangat selalu
13 Maret 2009 pada 08:27
celengannya berbobot sekali…