Malam ini aku antarkan segera puisi yang aku tulis di warung kopi Sedati.
Warung kopi itu tak jauh dari lampu merah kedua setelah dari Bandara Juanda.
Hanya beberapa kalimat, kini aku sudah di depan pagar rumahmu.
Dua tiga kerikil kulempar kekaca jendela, tak ada tanda-tanda dari dalam kamarmu.
Tirai tak bergerak, anjing mengonggong, awan hitam dan bulan entah kemana.
Setengah malam kududuk pada tiang melintang, menunggu.
Pejamkan mata, kudiam. Aku seperti pertapa menyentuh kedalaman rasa.
Kuhantarkan rasa hati mengketuk pintu hatimu, lembut kapas.
Perlahan kau bangun, mata sayu senja yang jingga.
Kau kecup, luruh aku, menjadi kelopak bunga dibibirmu.
( 16, November 2011. langit )
I like this artikel
kunjungan perdana dari saya.
Sekalian tukaran link.
Salam Persahabatan.
wah ini teman lama kang cuman ganti blog….back link ke kita dung…sekarang aku kerjanya ngeblog jadinya blog walking lagi deh
mama ale jo