PEREMPUAN PUISI

Wahai perempuan puisi kepada siapa kata harus diucapkan ketika mata pena melesat, menancap pada daun pintu yang sumbang.
Dan juga kepada kaki jalanan telah meminta untuk segera tiba di hadapanmu menjadi lukisan yang hidup, karena pertanyaan hati adalah bahasa kejujuran, atau aku tinggal debu diceruk matamu!

Wahai perempuan puisi, sekali tepuk tujuh lakilaki mati di tanganmu. Dan kota yang terbakar, gedunggedung runtuh ,anakanak sungai yang tersendat mengalir menuju laut, dan puingpuing kemarahan yang api meluluhkan batangbatang yang merangas.
Dan musim telah memberi khabar kalau kata harus di bangunkan sebelum matahari meledakkan dadamu !

Wahai perempuan puisi, pada rimbun cahaya mata bulan purna telah tersirat pada dzikirdzikir yang mengema menerbangkan dosa yang abu,tersurat sudah dimana kita seperti Adam dan Hawa tertulis untuk kisah kita sendiri

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s