KAU MEMANGGIL HUJAN DAN AIRMATA MEMADAMKAN RASAKU YANG API

percakapan sudah tak meminta rasa untuk kembali berkobar
padam di gerimis yang luka untuk sebuah mimpi yang lekas
dan kita selalu saja bertanya kapan menjadi hari yang bertudung emas
meminta segala di saat rengkuh jiwa tertatihtatih

kita tersentak tentang percintaan ini
yang telah melahirkan beribu bayangbayang
terbang bersama burungburung pulang
jauh ke dalam dada kita,lubang semesta yang mengangga lebar

Dan di matamu yang tandus menyiratkan kemauan
kau lontarkan kepada bola mataku yang abu
kini kau ciptakan jarak
pada rasa yang bergerak
terjatuh di bibir secangkir kopi
pahit manis mencecap gejolak jiwa

inikah yang kau mau,untuk sebuah percintaan
yang tertetesi darah perawan maria,untuk sebuah kesucian?
telah aku belah rambutmu menjadi tujuh
kucelupkan pada tujuh mataair,dan
percintaan ini telah meminta duka
kau memanggil hujan dan airmata
memadamkan rasaku yang api

langitjiwa andra – 6 april 2011

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s