KEPADA:BUNDA,CINTAKU PADAMU MAHA

purnama telah hadir di atas kepalaku
ia seperti kekasih tiba di stasiun tak bernama
telanjang kaki menyusur lorong waktu
memungguti helai demi helai kenang
yang teronggok di atas meja loket tak bertuan
tak ada jadwal berikutnya di wajah dunia yang memerah membara.panas
setapak tapak usia sejengkal maut
bila tahu begini ingin kembali menjadi bayi
dalam rahim ibu mendekap tubuh Tuhan
malam semakin letih
desau angin menusuk mata jendela kamar
dinding kamar pucat tergores tanda demi tanda.lurus
ini tanda ke 13 dari ujung matapena bunda
setetes tinta jatuh ke lantai
gema bunyinya mengusik jiwa sepi
kau sibak rambut panjangmu
menarinari di wajahku
kucium wangi rambut emasmu dalam pangkuan rasa
kau tersenyum:senyummu merontokan angka-angka dalam kalender
pada angka 14 pada kalender tua
ada makna yang tersirat dan tersurat
kau membaca,mengeja katakata tergaris tebal
setebal doa pada malam-malam sepi
dan tubuh kecilmu terkulai pada hamparan sajadah biru
sajadah menampung tetes-tetes cinta
yang menjadikan air bah mengulung semesta
hanyut dalam pelayaran yang maha jauh
jauh…mengarungi samudera hidup
melawan gelombang meninju kilat
menampar asa membanting keluh
gelas-gelas perjamuan pecah menghantam dinding karang
serpihannya terbang melesat menancap mata bulan
bulan menangis,tetes demi tetes airmata
aku tampung dalam bejana
aku bawa berlari sambil menyusur jejak-jejak langkah kakimu yang terukir di bebatuan,hamparan pasir,di tinggi pepohonan,pada luas padang ilalalang
di awan gemawan,lembah-lembah,gununggunung
pada hamparan padi menguning gading tak aku temukan
ketika senja jejak kakimu menjadi cahaya
menyeruak ke angkasa berkelebat membakar bima sakti
maka aku katakan itulah:cahaya jiwa
rasaku mengejar di gugusan galaksi
terhisap di empat kiblat
di pusat kiblat dalam hening menjaring kesadaran
aku cium dalam rasa yang maha
bibirku mengatup tak dapat berkata
dengan bahasa kalbu aku berbicara dalam titik kekosongan
dalam kosong aku menjadi lebur,untuk aku temukan cahaya cintamu itu
maka,aku temukan cahaya cinta itu dalam tujuh lapisan hatiku,kekasih
cahaya cintamu tak jauh dari aku berdiri,duduk,berjalan,diam,dalam aku tertidur,pada setiap desah nafas,pada setiap kedipan mata.cahaya itu meliputi jiwaku
ia ada disini!
ia ada di sini!
di dalam hatiku!
kekasih,semua sudah aku persiapkan
pada perjamuan malam ini
di hari kelahiranmu
inilah: darahku dan tubuhku
anggur dan rotimu
mendekatlah jiwamu untuk aku cium
agar kau tahu betapa maha cinta dan kasih sayangku padamu.
(ah! ini jabang bayi semakin besar dalam kandungan
bergerakgerak kaki menendangnendag.bisik ibu nuranah,21 tahun yang lalu)
photo by:Wojtek Aleksandrowicz
14 Juli 2009 pada 13:43
Luar biasa, bahasanya begitu membius, ibu adalah segalanya.
14 Juli 2009 pada 13:46
Kunjunganku mencari sahabat yang hilang tapi tak jua ditemukan. Membaca sajakmu jadi teringat ibu yang jauh di sana, semoga ia dalam dekapan kasihnya.
14 Juli 2009 pada 22:52
makin kubaca, makin aku tenggelam
15 Juli 2009 pada 04:49
selalu membuatku terpaku
lalu
kutanya dalam haruku
kapan kubisa seperti inimu?
15 Juli 2009 pada 22:20
bunda… sosok yang selalu ku rindu,
semoga beliau tenang di alam kubur.
16 Juli 2009 pada 02:31
memungguti helai demi helai kenang…
jiah, keeerrrreeentttzzzz
mas langitjiwa, saya mau tanya. bagaimana cara menciptakan frasa yang belum pernah ada?
salam
tukeran link mas dg rumah saya yg ini
http://rumahdanmimpi.blogspot.com/
16 Juli 2009 pada 23:41
Bunda adalah segalanya buat kita sebagai anak..
lama tak berkunjung kesini, masih exist dg syair dan untaian kata² indahnya…
salam hangat dan silaturrahmi…
apakabarnya mas..???
biar g lupa saya injin untuk tukar link ya mas..
salam, ^_^
16 Juli 2009 pada 23:44
kata²nya indah sekali… ingin belajar seperti yg empunya blog ini..??
salam kenal
22 Juli 2009 pada 00:40
TANGISKU DUKAKU
23 November 2007
..aku mencintaimu ayah..
..namun kaki ini sudah tak mampu lagi melangkah..
Untukmu Ayah Bapa Segala Bangsa
Bapa Semua Orang Beriman
Bila tembok Berlin yang memisahkan
Jerman Barat dan Jerman Timur
telah dapat diruntuhkan
…
Lalu .. bilamanakah
tembok Jordan
yang angkuh
terbuat dari baja kebengisan nafsu manusia
yang telah memisahkan anak-anak Ibrahim
dapat diruntuhkan?
sungguh aku berduka untukmu
wahai Ayahku
di hari tuamu
waktu istirahatmu dalam keabadian
yang seharusnya terengkuh dalam kedamaian..
anak-anakmu saling berbunuhan
seharusnyalah bagi seorang putra
mempersembahkan doa dan air pelepas dahaga
bukan mempersembahkan api, darah dan air mata
di haribaan ayahanda tercinta
hanya demi pengakuan palsu
pewaris berkah cinta ayahanda
sungguh aku berduka untukmu
wahai Ayahku
tangis dan airmata
mengeringkan kedua mata
rintih kelu menyayat kalbu
hanya itu..
aku sudah tak mampu
hanya itu..
persembahan tanda cintaku
maafkan aku Ayah..
maafkan aku..
22 Juli 2009 pada 00:45
…panggrantesku sundul ngawiyat…
tangising ati saya ora kuwat ngglawat
andeleng bocah sekolah nganggo sragam pramuka
kanthi asesuka ngibarake gendera
kumlebet amerbawa Sang Saka Merah Putih
den aras angin ing tangan-tangan ringkih
sujudku di telapak kakimu Ibu
pendurhaka memohon Surgamu
bila selama ini kututup mataku
liarkan getar nafsu
hati kelam membatu
sujudku di telapak kakimu Ibu
sesal marah membakar jiwaku
telah kubiarkan durjana dursila
memperkosa menjarah bumi sucimu
sedang kami anak-anakmu
pecandu peluru berbalut madu
sujudku di telapak kakimu Ibu
…
sayup kudengar kembali kidung merdumu
yang dikala kecilku dulu
membawaku lelap dalam embanan kasihmu
tak lelo lelo ledung
cup menenga Ngger sun emban sun kekidung
pun Bapa arsa anetepi dharma
paring sesuluh myang kang nandhang rubeda
tak lelo lelo ledung
rep sireping wayah ratri
anakku Ngger tansah sun pepuji
dibisa dadi tepa palupi
1 Agustus 2009 pada 23:33
perfect dra……….BRAVO!!!!!
6 Agustus 2009 pada 04:56
Met siang Bang…apa kabar..??
tak salah aku belajar dari tulisanmu dan semua sahabat pun mengakuinya…maaf Bang jika aku banyak ikuti stylemu…
-salam- ^_^
13 Agustus 2009 pada 05:29
BRILLIANT..
10 September 2009 pada 02:06
bagus…..^_^