jendela ini mungkin ingin abadi
untuk selalu terbuka lebar
pada setiap waktu yang semakin berputar cepat
kini,sudah saatnya jendela ini kututup segera
tak harus untuk selalu terbuka
karena ada sejuta mata
mengintip dari balik remang cahaya bulan purna
mungkin,salah satu dari mata itu
ingin merampok sepasang matamu dan mataku!
aku masih pingin baca-baca puisi disini
tapi mataku masih ingin bermanja – manja pada setiap kata dalam puisimu. jendela ini.
kenapa jendela terkatub
bila hatimu ada di sudut
paling tulus dari handaimu
lalu kan kaubiarkan langitmu tak lagi menjiwa?
Puisinya keren mas. HEhehe…
Kok pake ditutup segala to mas, jendelanya. Lha sayanya gak bisa lagi ngintip, mas. Di dalam sana ada sejuta kata yang ditambang 100 tahun tak kan habis.
walau tertutup rapat masih dapat kudengar nada2 indah dan merdu di dalam sana….
Apa kabar mas Andra….???
waduh…ada rampok toh mas….sini ta bantuin tutup jendelanya,sisain dikit mas….buat aku ngintip..
malamkah rasanya jika awan menggelantungkan pekatnya hitam?
selamat memberi sintesa pada air di dekat jendela seni kita ya,boz
selamat malam minggu ach!
Jendela itu kini sudah rapuh
Mungkin rayap telah malalapnya
atau mungkin angin, panas, dan hujan yg terlalu kuat menerpanya..
Hatiku mungkin tak selebar daun jendela
Karena hatiku ini selebar daun pintu yg terbuat dari besi
Jadi rayap ga’ mungkin doyan..
*bagusan mana hayow…
Saya nyesalin tema blognya diganti warna putih. Bagusan yang dulu, mas, blackleather
ow psi yng menghayutkan…
biarkan jendela puisimu selalu terbuka
banyak mata melihat keindahan kata
di sana .
takut aQ kehilangan pandangku…
-sarah-