Dibawah sumpah atas Nama Tuhan.
aku sematkan cincin emas dilingkar jari manismu yang terukir;namamu,namaku.
Kelak itu akan menjadi kenang
Di wajah senja yang memerah jingga kita berdua menikmati secangkir teh di beranda depan rumah,sesekali kita bertatapan tanpa ada yang mau kita katakan.Hanya dengan bahasa rasa dihati untuk memaknai percakapan mata kita.
Kini,wajah kita telah usang pada sisa usia yang semakin matang pada pohon kehidupan.
Helai demi helai rambut memutih,
serupa kapas pada pucuk-pucuk pohon randu.
Melihat dirimu pun aku harus sedekat mungkin.
Karena apa? Mata sudah tak awas daya pengelihatannya,seperti membaca peta buta dibola matamu
Rumah kecil ini menghadap pematang sawah
setiap pagi tiba,cahaya matahari menusuk jendela kamar bersama angin pagi yang menderu untuk membersihkan sisa-sisa nafas kita
( itulah salah satu kegiatan kau dan aku menikmati rasa syukur kepadaNya)
Rumah yang dulu ramai dan gaduh oleh tingkah anak-anak
Kini,tinggal sepi tergores pada dinding waktu.
Anak-anak telah menjalani kehidupannya masing-masing.
kita akan selalu merindukan kedatangan mereka bersama buah hatinya
Dimana pada rumah kecil ini sepi akan tercerai berai, oleh tingkah polah cucu-cucu kita yang selalu mengemaskan.
Kini,kau dan aku,Hanya bisa tersenyum kala
mengingat tiga puluh tahun yang lalu. Saat aku pinang kau dibawah sumpah atas Nama Tuhan untuk menjadi istriku dan eyang bagi cucu-cucu kita.
malam ini jari jemari tanganku menangis,bila saja kata-kata ini kutulis saat aku sudah uzur pada sisa usiaku.Semoga.
langitjiwa.





















