saat aku menulis ini
matamu menatap penuh arti kata-kata yang kugoreskan.
kau mengeja kata demi kata dalam rasamu untuk mencapai puncak bunyi.
(mengingatkan aku kembali pada masa kanak-kanakku dulu.Membaca dan mengejapun masih aku lakukan sampai saat ini)
sayangku,apa yang kau baca pada kata-kata puisiku,masih dalam proses mencari bentuk dan masih jauh perjalanannya.
kau tersenyum
Lalu,kau mengusap peluh yang membasahi kerut-kerut diwajahku.
wajah yang kini hanya sepenggal kisah,usang disisa usia.
serupa:dedaunan yang letih tergantung pada ranting yang rapuh.
lihat,cahaya lampu kandil membuat bayangan tubuh kita menjadi lukisan dinding pada rumah kecil ini dengan ladang hujan yang tak terlalu luas dibelakangnya,disana kau menghabiskan waktumu untuk menyulam helai demi helai benang wol untuk kau jadikan sebuah celana kecil bagi jabang bayi kita kelak.
Semoga bola matanya mirip dengan bola matamu yang indah
yang selalu bercahaya menerangi setiap langkah perjalanan hidupku.
malam yang semakin sunyi kuakhiri kata puisiku
dimana kata yang selalu kutemui dan kuambil pada celah-celah batu yang tersembunyi dihatiku.
lembaran demi lembar kertas putih sudah kulipat dengan rapih dan
kusimpan dalam keranjang.
Esok malam akan kutulis kembali kata puisiku
yang akan membuat bergetar hatimu,merontokan rasamu.
hingga kau tertidur dalam pelukan kata-kataku!
langitjiwa





















