Mbah Lanang
Jendela kamar dengan catnya yang sudah mulai luntur kita biarkan terbuka dengan lebar.Dan hati kita berdua memandang luas langit malam melihat pertunjukan rincik hujan menari-nari pada helai-helai daun pohon mahoni.
Tubuh kecilmu semakin merapat dalam pelukanku.
Matamu terus melihat ayah memahat kata-kata.
Menatap matamu,nak.Ada senyum mbah lanang hadir mengisi ruang hatiku,rindu ayah akan mbahmu.Yang sudah meninggalkan kita tiga tahun yang lalu.
Aku kembali teringat ketika kau masih dalam kandungan ibumu,ayah berdiri dari balik kaca ruang ICU melihat si’mbah terbaring lemah.
Kepala ayah bersandar pada kaca yang bening,mata ayah tak kuat menampung bulir-bulir airmata,akhirnya menetes jatuh.Serupa,daun yang letih tergantung pada ranting yang rapuh,lepas tertiup angin terbang melayang,jatuh pada hamparan tanah bumi.
Saat menulis ini
Kau sudah terlelap tidur dalam pangkuanku.
Membawa kenang pada masa kanak-kanakku dulu.
Dipangkunya aku,dibuai oleh nyanyian tombo ati terlantun dari bibir mbah Lanang sampai akhirnya aku terlelap tidur bersama kedamaian jiwaku.
Dimana kini kenangan itu tinggal sepenggal kisah yang tersimpan dalam catatan hatiku.Selamanya.
kamarkata.030109.
3 Januari 2009 pada 05:41
kenapa ya..membaca tulisan2mu tentang keluarga, selalu membuatku seperti tertohok. ada cuplikan kecil yang diungkap dengan tebal rasa di sana, ada setangkup jiwa yang mengisi tiap kata, mungkin itu yang membuatnya jadi melangut…
*******lj*******
hehehe
mungik kali ini lagi feel aja nulisnya,enath utk hari2 esok.haha
3 Januari 2009 pada 06:11
aku pernah juga menulis sambil mangku bungsuku.
dan aku pernah juga, di pangku bapak ketika beliau sedang melukis…
**********lj*********
ah,kenangan yg tak akn pernah hilang dari hati kta.haha
3 Januari 2009 pada 07:55
kenangan itu pasti akan tetap tersimpan di dalam hati…
indah…
**********lj**********
selamanya.
3 Januari 2009 pada 08:17
koneksi batin memberikan inspirasi memahat kata-kata berbalut memori kenangan masa lalu.
**********lj***********
iya,itu salah satu jalan utk berlatih menulis apapun itu bentuknya.
3 Januari 2009 pada 13:17
Mas, membaca syair puisi terakhir saya teringat belasan tahun yang lalu, dengan setting kampung halaman saya. Masih banyak saya dengar lantunan gendhing jawa keluar dari mulut lelaki tua tanpa baju, kulit yang keriput terbakar panas matahari. Aku rindu suasana itu….
********lj********
semua kenangan memang tdk akan pernah kita lupakan.walau sekecil apapun.
selamat datang diblogku ini,mas.
dan terimakasih atas kunjungannya.
hati2 bila sedang berpatroli.
salamku.
3 Januari 2009 pada 13:58
The Dark Blog… Nice…
Salam kenalll….
*********lj********
salam kenal kembali,sobat.
senang rasanya sdh berkunjung ke blog ini.
salamku
3 Januari 2009 pada 14:58
Wah… ternyata memang bener2 penyair..
*********lj********
hehehe
penyair jadi2an.haha
3 Januari 2009 pada 16:19
Puluhan tahun yg lalu, saat usia msh sgt dini, pd puncak malam hari, ditemani lampu teplok mini, kududuk b2 dg alm kakek.
Sambil mendengarkan beliau bercerita dan berhikayat.
Alkisah di suatu negeri antah berantah, hiduplah seekor kambing taktian, beraknya emas, taiknya intan. Dianggap hina oleh sekalian insan. Tak disangka tak dinyana, ternyata dianya adalah titipan. Untuk dijaga dan dititipkan kepada setiap pimpinan. Yg berlaku jujur dg akhlaq pujian..Lalu mengalirlah cerita dari mulut tuanya, ibarat air sampai ke tujuan…
Ah, senyum dan tawanya msh menghias di kepala.
Dg jenaka beliau tak pernah marah, walau kami cucunya selalu saja cari gara2.
Cerita itu selalu terulang, warisan dari generasi ke generasi. Dari kakek mengalir ke ayah, tak kenal lelah. Lalu ke cucunya,sering x dijadikan salah kaprah
********lj********
hahaha.
sebuah kenangan yg indah sekali.
saat kakek mas bercerita tentang taiknya inta,beraknay emas.haha
salam kenal selalu.
3 Januari 2009 pada 16:43
tulisan ini mengingatkanku pd masa kecil saat bapakku memangkuku dan mendongeng kisah rekaannya sendiri. aku selalu memegang erat jemarinya yg gempal & putih. lucunya jemari itu selalu saja beraroma roti yg gak bisa kulupa hingga kini. roti=bapak
********lj*******
hahahahaha
baunya kini masih melekat tentunya,haha
3 Januari 2009 pada 18:46
… dan pada raga yang renta itulah tersimpan gemerlap jiwa penuh vitalitas. semangat yang menyala, kenyang perjamuan pengalaman yang tak pernah menyuntukkan batin untuk selalu berjuang dan berjuang demi anak cucu.
Akupun merindukan mbah lanangku yang tak pernah kutau seperti apa raut wajahnya….
**********lj*********
iya,mengapa orang2 tua dulu selalu mempunyai pengalaman bathin yg lusa sekali.
dan,tak pernah habis walau kita meminta terus.
3 Januari 2009 pada 22:11
kenangan yang tak pernah terlupakan …..sang penyair yang serba bisa
***********lj**********
hahahaha
saya hanya seorang yg mencari sari kata.
blm menjadi seorang penyair.hahaha
3 Januari 2009 pada 22:25
melihat judulnya Mbah Lanang, aku tak sanggup meraba-raba bagimana kira-kira wajah mbahku itu karena memang belum pernah bertemu.
**********lj*********
sungguh…
tak bisa aku berkata,mas.
aku iktu merasakanya.
4 Januari 2009 pada 01:22
hanya doa yang terbaik untuk keluarga dan kerabat kita.
*********lj*********
betul itu,mas.
hanya untain doa kita bisa saling memberi pada kalbu kita masing2
4 Januari 2009 pada 02:33
kengen si mbah ya mas…
*******lj*******
iya,mbak.hehe
4 Januari 2009 pada 03:58
Ah! Pengen rasanya dipangku
lagi
oleh siapa saja deh….
********lj********
hahahaha
mari sini,dik.
dipangku ama eke!? mau..?
4 Januari 2009 pada 06:11
kemaren kafka habis nganter mbahnya pulang kampung setelah berlibur!
***********lj**********
salam buat Kafka,kang.
4 Januari 2009 pada 22:44
aku jadi ingat mak uwo (nenek) ku. dulu aku sering di ajak jalan2 sekitar komplek rumah. dia suka makan permen dan cemilan lainnya, jadi kami sering diam2 makan berdua di dlm kamarnya. tapi sekarang aku sudah tidak punya nenek lagi.
***********lj*************
hahaha
apa masih kuat gigi2nya makan yg manis2,hehe
4 Januari 2009 pada 23:34
wah jadi ingat eyang kakung di solo…….
**********lj**********
cepat sana berkunjung,haha
5 Januari 2009 pada 02:21
sungkem kagem mbah lanang ya mas… dimanapun dia kini… pasti keriputnya menguntai banyak kasih yang lekat di tubuhnya
*********lj**********
iya,mbak
masih terasa kecupnya pada kening ini.hehehe
selamat tahun baru,mbak ika
5 Januari 2009 pada 02:46
sungkem kagem Simbah nadyan dereng riyaya
********lj********
sami-sami,mas.
betul gak itu jwbnya,haha
5 Januari 2009 pada 03:57
wuih..kamarkata…pasti dah penuh dengan huruf-huruf di sana..tinggal caplok saja kan? hehhehe
**********lj*********
hahahahaha
5 Januari 2009 pada 05:22
memoar yg masih nyata ya mas?
********lj*******
iya,hahaha
slmt dtg kembali sobat.
5 Januari 2009 pada 08:05
bang……….
apa cabar?
salam hangat selalu
nice banget bang
********lj*******
hai! Blue.
khbr baik selalu.
bagaimana dgnmu?
7 Januari 2009 pada 04:37
ungkapan sebuah kenangan takan pernah hilang ditelan zaman sekalipun salam kenal sobat..
7 Januari 2009 pada 06:28
jadi kangen sm mbah kung ku

udah lama ga ketemu.. terahir lebaran kemaren deng
salam mas… met sore hehehe..
21 Januari 2009 pada 14:58
Lebih dari sekedar kenangan, tapi ada semacam pelajaran hidup. Jadi inget bapak saya. nice post mas