Jendela kamar dengan catnya yang sudah mulai luntur kita biarkan terbuka dengan lebar.Dan hati kita berdua memandang luas langit malam melihat pertunjukan rincik hujan menari-nari pada helai-helai daun pohon mahoni.
Tubuh kecilmu semakin merapat dalam pelukanku.
Matamu terus melihat ayah memahat kata-kata.
Menatap matamu,nak.Ada senyum mbah lanang hadir mengisi ruang hatiku,rindu ayah akan mbahmu.Yang sudah meninggalkan kita tiga tahun yang lalu.
Aku kembali teringat ketika kau masih dalam kandungan ibumu,ayah berdiri dari balik kaca ruang ICU melihat si’mbah terbaring lemah.
Kepala ayah bersandar pada kaca yang bening,mata ayah tak kuat menampung bulir-bulir airmata,akhirnya menetes jatuh.Serupa,daun yang letih tergantung pada ranting yang rapuh,lepas tertiup angin terbang melayang,jatuh pada hamparan tanah bumi.
Saat menulis ini
Kau sudah terlelap tidur dalam pangkuanku.
Membawa kenang pada masa kanak-kanakku dulu.
Dipangkunya aku,dibuai oleh nyanyian tombo ati terlantun dari bibir mbah Lanang sampai akhirnya aku terlelap tidur bersama kedamaian jiwaku.
Dimana kini kenangan itu tinggal sepenggal kisah yang tersimpan dalam catatan hatiku.Selamanya.
kamarkata.030109.




















