
Wajah alam semesta kini telah begitu renta.
Auranya memancarkan kegelapan.Bersama Sejuta kegelisahannya ia tumpahkan bersama airmata hujan.
Airmatanya telah meluluh lantakan manusia-manusia beserta bangunan-bangunannya.
Meluluh lantakan bangunan-bangunan yang dibangun atas nama keringat dan cita-cita.
Dan orang tua kehilangan anak-anaknya,anak-anak kehilangan orang tua,sanak saudara entah dimana.
Manusia menangis,alam semesta tak sedikit pun ia menunjukan wajah berduka cita.
Lalu,terlihat seorang laki-laki sedang mengais-ngais sesuatu dengan sebuah batang ranting kayu mahoni.
Mencari apa yang dicari di reruntuhan bangunan rumahnya.Entah.
Sebelumnya laki-laki itu waras,
Bersama waktu yang terus berlari ia mulai berbicara untuk dirinya sendiri.
Marah-marah sendiri,tersenyum sendiri,merenung tak jelas.
Akhirnya laki-laki itu menjadi gila!
Gila,kehilangan harta benda. Gila,kehilangan orang-orang yang dicintai dan dikasihi.
Dulu laki-laki itu perlente, sekarang yang melekat ditubuhnya hanya pakaian compang camping.
Kumis dan janggutnya tak terpelihara.
Mulutnya mengeluarkan aroma tak sedap,bila ia tertawa terbahak-bahak terlihat deretan gigi-giginya yang kuning.
Tiba-tiba,laki-laki itu berteriak dengan lantang,sambil menunjukan jari telunjuknya keatas langit biru.
” Hai Tuhan ! Apa yang telah terjadi dengan diriku,beserta manusia yang ada di muka bumi ini.Dan apa salah kami.”
Tiba-tiba,deru angin menghantam wajahnya.
Awan gemawan menjadi hitam pekat.
daun-daun tertunduk,debur ombak terdiam,
Matahari redup.
Laki-laki itu menampakan wajah kegelisahannya.
Dan,terdengarlah suara begitu sangat lembut:
*” Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka (bumi). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Kedua kakinya bergetar.
Perlahan-lahan laki-laki itu menundukan kepalanya.
Akhirnya ia bersimpuh pada tanah merah,semerah luka pada jiwa dan hatinya.
Lalu,bagaimana dengan suara itu?
Hanya laki-laki bertubuh kecil itu yang tahu jawabnya darimana datangnya suara nan lembut itu.
l a n g i t j i w a.
*QS. 28 : 77.
Photo by; Vilhjálmur Ingi Vilhjálmsson





















