
( photo By: Racianu Cosmin )
Bu,
Natal untuk tahun ini ibu tidak merayakan bersama bapak. Tak usah Ibu bersedih.Aku tahu bagaimana perasaan ibu saat bapak berpulang ke rumah Bapa.
Aku berharap pohon natal yang dulu bapak beli di sebuah toko dekat stasiun Jatinegara masih tersimpan dengan baik,bu.
Hari itu ibu bersemangat sekali mengeluarkan pohon natal yang berada di atas lemari pakaian ibu.
Di buka ikat talinya,perlahan ibu keluarkan satu persatu.
lalu,dengan seksama ibu merangkainya untuk dijadikanya sebuah pohon natal yang indah.
Melihat ibu menghias pohon natal,airmatanya terjatuh.
Menetes,bersama lagu-lagu pujian.
Perlahan ibu bangkit,menatap foto bapak yang terletak pada sudut ruang tamu.Di pegangnya foto bapak,di peluknya erat-erat,tepat di tengah-tengah dadanya.
Melihat wajah ibu begitu meresapinya. Sampai bergetar jari-jari tanganya.
melalui bahasa kalbu ibu berbicara dengan bapak.
“Aku selalu merindukanmu bersama cintaku.
Dan aku merasakan kehadiran berjuta malaikat turun dari Langit Keabadaian pada malam ini.
Dan,dengan hamparan sayap-sayapnya,memeluk jiwa kita berdua.Erat-erat sekali.”
l a n g i t j i w a.
*Lantunan Louis Armstrong;What A Wonderful World ,terus mengalir membasahi langit malam.
( Buat; Ibu di Bekasi,
Kami sekeluarga sehat-sehat selalu.)





















