Perjalanan.
Hujan semalam telah membasahi jalan setapak menuju lembah dan bukit.
Kuncup-kuncup bunga mawar merah merekah menebarkan wangi,
Kicau burung prenjak hinggap pada dahan-dahan pohon tinggi,
Menyambut pagi bersama jejak langkah kakiku.
Lihat,
Petani telah membajak sawah,untuk menanam bibit padi kehidupan.
Disana aku melihat Tangannya mencangkul bersamaTuhan.
Sekumpulan ibu-ibu berjalan beriring bersama menuju pasar pagi untuk menjual hasil ladang.
Disana aku melihat wajah-wajah suka cita hadir bersama senyum Tuhan.
Lima bocah bersepeda jengki,menuju sekolah,mengali ilmu.
Untuk menjemput masa depan.
Disana aku melihat Cinta Tuhan meliputi Jiwa-Jiwa mereka.
Disini, Aku melihat bayang tubuhku tersinari oleh matahari pagi.
Sekejap kubergerak hilang bayanganku.
Aku dan kau tak kekal adanya.
Keabadaian hanya MilikNya.
Karena aku adalah Wujud Majas dari Wujud HakikiNYa.
Melewati ujung jalan setapak ini ada sebuah rumah.
Hanya seorang laki-laki tua yang menghuninya.
Dimana ia selalu menembangkan nyanyian tentang perjalanan hidup.
Suaranya pelan,tapi sangat dahsyat menghantam ruang jiwaku.
Makanya setiap aku melintas didepan rumahnya,
Aku selalu memperlambat gerak kakiku.
Karena aku ingin menikmati sepuas-puasnya.
Karena lagu yang ia nyanyikan bagai mata air yang mengalir dari kedalaman jiwanya,
Menelanjangi diriku.
Setelah melewatinya,ada kelokan di ujung jalan ini.
Melawati ngarai sungai.
Dimana selalu aku rindu dengan suara gemerciknya.
Airnya jernih bagai batu Yakut.
Lalu,kubasuh wajahku,wajah yang telah usang oleh perjalan usia.
Inilah wajah Dunia.
Sebentar lagi senja.
Mata malam akan kembali pada titik tengahnya.
Dimana Jiwa-Jiwa yang diliputi oleh RahimNya,
Akan kembali menuju pada pintu keheningan.
Untuk merasakan dan menikmati nyanyian Surga yang terlantun dari Lembah Jabarut.
Langkah kakiku terhenti,Pada SurauMu.
Dan,dengan Cinta.
Sambutlah kecup bibirku untuk mencicipi kehangatan Rasa Cinta di BibirMU.
Beranda Surau Semampir.
. l a n g i t j i w a .

23 Nopember 2008 pada 15:12
“Lima bocah bersepeda jengki,menuju sekolah,mengali ilmu.
Untuk menjemput masa depan.
Disana aku melihat Cinta Tuhan meliputi Jiwa-Jiwa mereka.”
menarik…
23 Nopember 2008 pada 15:52
Saya benar-benar menyadari keseimbangan kebutuhan manusia antara kebutuhan duniawi dan uqrowi. Beberapa tahun terakhir ini aku benar-benar haus akan kebutuhan uqrowi. Boleh dibilang kebutuhan dunia tidak kurang tetapi tanpa terpenuhinya kebutuhan batiniah, kebahagiaan belum lengkapa adanya. Terimakasih mas Langit, puisinya indah sekali. thanks
23 Nopember 2008 pada 17:23
Mungkin saya bisa menangkap arti dibalik bait2 puisi di atas.
Pada intinya hidup itu adalah perjalanan yang maha indah…
Maaf kalo tebakan saya salah
23 Nopember 2008 pada 22:39
Salam ..
semua puisi di atas mungkin mengingatkan ,memberi tahu kepada kita
kita hidup dengan penuh liku-liku dan untuk menuju rumah yang indah kita wajib selalu berektiar dan berusaha demi mencapai kebahagian di dunia dan di akhiratnya ..
23 Nopember 2008 pada 23:28
Puisinya indah. Saya suka deskripsi pedesaannya.
23 Nopember 2008 pada 23:46
perjalanan hidup…akan berakhir di pelukannya Nya…siap kah kita?
24 Nopember 2008 pada 04:57
Sejauh apapun perjalanannya, menjadi sangat menyenangkan jika kita menikmatinya yaa mas. Tak lupa juga untuk bersujud jika waktunya tlah tiba….
24 Nopember 2008 pada 08:45
selalu aku beri satu bintang pujian untuk karya abangku ini.
salam hangat selalu
24 Nopember 2008 pada 11:02
Fotonya keren banget!
24 Nopember 2008 pada 22:49
sungguh indahnya…
25 Nopember 2008 pada 00:47
semua aktifitas kita ternyata bisa di ceritakan lewat puisi…..salut mas…salut..
btw, mas ada award buat mas di blog sy, sebagai bentuk persahabatn sesama blogger, diterima ya mas
25 Nopember 2008 pada 07:59
syairnya indah sekaliiiii…
saya jadi rindu masa kecil. di kampung. ada sawah. bersepeda. dan..melihat surau2 yang tak pernah sepi. selalu saja, ayat2 Al Quran dinyanyikan dengan indah…
25 Nopember 2008 pada 10:04
ada masa kita tersadar dalam kekosangan dan cuma sang Khaliq yang bisa mengisinya dengan abadi, buat langit jiwa aku ingin belajar memaknai hidup dalam tiap puisimu.
25 Nopember 2008 pada 10:52
Hamparan senja rebah mendekat.. Menanti malam kan sgera tiba.. Jiwa lara kan branjak lari.. Saat takbir mengena di hati..
Salam kenal ya
25 Nopember 2008 pada 10:57
selamat malam bang
selamat abang jadi yang pertamax juga hadirnya.
salam hangat selalu
25 Nopember 2008 pada 14:37
sebuah hamparan keindahan dr cintaNya yang terus menerus tercurahkan…smeoga abadi dijaga oleh umat2Nya
25 Nopember 2008 pada 16:05
Saya kira ini lukisan! Bagus sekali object dan technic nya
27 Nopember 2008 pada 19:21
Ketika sepeda itu dikayuh melaju kedepan.. ketika pengendara kemudian dihadapkan pada persimpangan dan jalan yang bercabang.. akan kemanakah pedal ini terus dikayuh?
ketika itulah pengendara mestinya terus bertanya dan mengharap ke Atas, manakah jalan yang terbaik? agar kayuhnya tidak sia-sia dan menyesatkan.. agar si pengendara selamat sampai ditujuan dan benar-benar mendapat kebarokahan dari upaya perjalanan-nya hijrah dari satu tempat ke berikutnya.. hanya mengejar ridha Illahi.
Salam hangat dari afrika barat.. dari saudaramu yang juga terus mengayuh.
28 Nopember 2008 pada 02:01
Tertegun.. dibalik jalan setapak menjelang Surau..
Kulihat seorang sahabat membasuh diri..
Lalu menikmati kedekatannya dengan Sang Pencipta..
Makasih ya sobat..
Bagus sekali..