Rindu
Bu,
rumah kami tak besar dan tak juga terlalu kecil
sederhana saja,tak ada yang mewah.
bila ibu ingin berkunjung kerumah kami
kami tunggu dengan senang hati.
karena sudah lima tahun ini ibu belum melihat cucu-cucu ibu kembali
dimana mereka sudah mulai lincah bermain
yang pertama perempuan,bu.
dan yang nomor dua laki-laki.
beberapa boneka dan mobil-mobilan
menghiasi pada kamar mereka
mengingatkan aku pada masa kecilku,saat aku menangis kencang untuk di belikan mobil-mobilan yang terbuat dari kayu.
sekarang harga mainan sudah terlalu mahal,bu.
satu boneka yang paling bagus seharga gaji pejabat
mobil-mobilan yang paling bagus pun sudah tak mau kalah harganya
bu,aku rindu ayah.
saat aku dipangku olehnya tepat dibawah pohon mahoni dibelakang rumah
sambil aku dibuatknanya mobil-mobilan terbuat dari kulit jeruk. indah sekali.
Bu,
kami disini baik-baik saja.
foto ibu masih terpajang dengan baik pada dinding rumah kecil ini.
Bu,
lidah ini rindu dengan masakan ,ibu.
Sayur lodeh dengan tempe goreng,dan sambal terasi. itu ciri khas ibu membuat masakan kesukaan aku dan adik-adik saat itu.
Bu,
tidak usah ibu repot-repot membawa oleh-oleh
ibu,sehat selalu kami sudah begitu bahagia sekali.
Bu,
bila ibu sudah tiba disini
nanti kita sama-sama kemakam ayah.
Kakek,dari anak-anakku
saat mereka terlahir wajah kakeknya tak pernah mereka tahu.
Hanya fotonya terpajang disamping foto ibu.
Bu,
bila ibu mau,ibu tinggal dengan kami disini
merajut hari tua bersama cucu-cucu ibu.
Bu,
Di setiap malam pada kesunyiannya,
aku selalu merindukan ibu. Maka terciptalah tulisan ini dari jari-jemariku
bersama malam yang telah menjadikan jiwaku merindukan telaga mataair kasihmu.
Dan malam ini senyum ibu hadir pada langit-langit jiwaku
Tiga puluh tahun yang lampau,kau belai rambut ikalku dengan tangan kecilmu
membelai malam,membelai diriku hingga aku terlelap tidur pada pangkuan tubuhmu
kau angkat aku pada ranjang tidurku.
Lalu,bersama mata bulan ibu menjagaku hingga fajar tiba.
Nak,hari ini,kehidupan yang baru telah dimulai kembali.
Berdoalah,nak.
Bu,
kata-kataku sudah tak ada,yang ada hanya kata-kata jiwa yang terucap dari rasaku
terimalah,bu. rasa jiwaku pada hamparan rasa jiwamu
karena kata-kata jiwaku sudah mengalir dan menghujam dengan keras pada kerinduan kita dimalam ini.
Yah,kata-kata jiwa kita akan terbaca dengan sangat jelas pada hati kita masing-masing,bu.
Dengan Bahasa Qalbu kita melepas rindu.
l a n g i t j i w a

8 September 2008 pada 18:27
Semoga ibu selalu sehat. Bertemu kembali dengan anak-cucu yang merindukan.
***********lj**********
maaf,baru bisa saya membalas komen pak suhadi,dikarenakan ada sesuatu yg hrs diselesaikan.
dan baru mlm ini kembali saya bisa berinteraksi dgn bpk dan tmn2 di dunia maya ini.
salamku
8 September 2008 pada 23:57
ahh, aku jadi teringat pula ibuku …….., oh ibu, aku merindukanmu ……
semoga engkau selalu dalam lindunganNya.
*********lj********
ibu,tak akan pernah habis kita mengenangnya,menulisnya pd lembaran kertas puith kita ini,dan tak akan pernah habis pd ingatan hati kita,tak akan pernah.
9 September 2008 pada 00:57
Hasil jepretannya koq bagus banget.
Kira-kira memakai kamera apa ya?
********lj********
nach itu dia ,mas.
kalau mau dilihat silakan kunjungi http://photo.net.com
cari R. Prakasa
9 September 2008 pada 02:33
saya langsung nangis melihat gambarnya..
ingat ibu mertua saya..
dan saya semakin menangis membaca isinya…
terima kasih sudah menulisnya…
**********lj********
dan terima kasih sekali sdh berkunjung keblog ini lg,mbak may.
9 September 2008 pada 03:24
terima kasih mas..
salam Kenal,
http://galeter.wordpress.com
*****lj******
salamkenal kembali,mas
9 September 2008 pada 05:31
Kirain membahas tentang saya kang …. *ditendang*
*****lj*****
hehehehe..
9 September 2008 pada 06:00
Wihhh… aku juga jadi rindu sama ibu… tunggu lebaran ya!
********lj*******
kalau mau mudik hati2 dijalan,kang.
9 September 2008 pada 08:32
tuh Rindu GeeR Kang
******lj******
heheehe….
9 September 2008 pada 09:34
uhh jadi kangen ibu..
*******lj*******
memang kasih ibu selalu meliputi dimnapun kita berada
9 September 2008 pada 11:57
secara fisik ibu saya sudah dimakamkan. jadi, hanya sebagian dari dirinya yg selalu tinggal bersama saya.
************lj**************
memang rasa itu tak akan pernah hilang,mas
9 September 2008 pada 22:26
hasil jepretannya mantep banget……, juga foto-foto yang lain…..
sae pisan !
*********lj**********
iya,berbicara sekali hasil jepretan dari R. Prakasa ini.
10 September 2008 pada 01:41
simple but meaningful..
cool..!
********lj*******
terima kasih,mas
sdh berkunjung kembali ke blog langitjiwa ini
10 September 2008 pada 17:34
Wow!!! Fotonya dahsyat betul! Keren! Apalagi setelah ditingkahi sajak itu. Sempurna!
********lj********
hallo,kang.
makasih udh berkunjungkembali di blog ini.
iya,bercerita sekali hasil foto dari R. Prakasa ini
10 September 2008 pada 19:21
mantabbbsss…gambar dan rentetan kata-katanya…
ibu..tak tergantikan…
******lj******
iya,ibu selalu tak akan pernah habis utk diceritakan atau dengan apapun.
10 September 2008 pada 23:36
aku jadi inget ibuku…
*******lj*******
kalau begitu segeralah pulang,mas.
11 September 2008 pada 02:26
aduh fotonya bagus banget .. ajarin dong
doaku untuk ibuk2 semoga tetep menjadi ibu terbaik bagi suami, anak, dan orang2 di sekitarnya ameeeeeeen
*************lj***********
hehehehe..
minta ajarin sama mas R. Prakasa yach.krn itu hasil karya dari beliau.
11 September 2008 pada 05:27
wah…aku mau pulang….
miss you much mom…
*******lj*******
segeralah pulang.
hati2 dijalan yach
11 September 2008 pada 07:28
kuerreeennn bgt pic nya…
penuh makna, berbicara lebih
*******lj******
betul ,indah sekali mkna yg teruang daru hasil karya R. Prakasa ini
11 September 2008 pada 18:36
Om, yang kaya begini apa juga bisa disebut puisi? Bagi Anthin yg ginian ini mudah dingarti dan tak kalah indah dengan puisi Om yang lain. Kayaknya Anthin bisa deh buat yang kaya gini …tuh, di blog gw…cuma ya ..keindahan dan maknanya kali yang masih dangkal! Yg penting Anthin udah coba berbuat spt nasihat Om …harus pake perasaan mendalam! Anthin http://teensdreams.wordpress.com
*********lj*********
teruslah menulis,dek.
saya juga msh dlm pencarian bentuk.
mari sama2 kita berkarya.
tetap semangat yach
salamku
12 September 2008 pada 02:45
[...] terutama dalam tulisan bahasa inggrisnya. 3. Norjik, tutorial linuxnya sangat membantu. 4. LangitJiwa, yang mempunyai penjiwaan terhadap puisi. 5. WaterBomm, yang ingin menjadi Proggrammer Profesional. [...]
********lj***********
mas,terima kasih atas awardnya
12 September 2008 pada 03:02
Bagus banget blognya, btw foto siapa tu?
*******lj*******
terima kasih,mas. sdh berkunjung ke blog ini.
itu foto hasil karya dari R. Prakasa
13 September 2008 pada 00:16
Saya dekat sekali dengan mama, gak terbayang bagaimana suatu hari nanti saya berpisah dengan beliau….
***********lj********
sudahlah,mas.
birakan waktu saat ini kita sykuri,dan biarkanlah waktu yg akan datang hanya Tuhan yg tahu.
nikmatilah,mas.
13 September 2008 pada 04:04
kang saya jadi inget ibu saya…
maafkan aku ma..
MAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AKU SAYANG EMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
***********lj************
saya pun begitu,mas.
13 September 2008 pada 19:23
Mak, saya rindukan emak dalam setiap nafasku..
********lj*********
ibu,sampai aku tak bisa membalas komenmu ini,mas.
14 September 2008 pada 12:37
Fotonya ko’ uniq-uniq yaa pencahayaannya bikin suasana hati berbaur disana hehe…
Ibu di ajak bersama aja, kasian kalo tinggal sendirian.
************lj*************
hehehe…
mbak Rita koq tahu sich,bila ibu sy sedang menuju rumah kecil tempat tinggalku ini
15 September 2008 pada 12:42
kerinduan itulah yg telah memperkosa perasaan ku pada malam malam yg sepi ini bang.pada cahaya kasih yg ada disembaran langit langit bayangan orang orang yg ku sayangi. selamat malam dan salamhangat selalu bang.
15 September 2008 pada 15:20
rindu itu pasti, tapi sebentar lagi aku pulang, ikut menyemarakan hajatan nasional………………MUDIK
16 September 2008 pada 02:53
Ibu …. Malaikat cinta saya ….
everything lah pokoknya …
16 September 2008 pada 02:54
Fotonya bener-bener HIDUP
16 September 2008 pada 05:35
mas pie kabare???
16 September 2008 pada 12:12
Hatimu besar, jernih dan teguh
Pikiranmu menorehkan pahatan cemerlangnya kebaikan
Bercahaya dan menerangi seperti emas berlian
Kemanapun tetap bersinar
meski dalam semak bahkan dalm lumpur
akan terasa dan terlihat kamu langitjiwa menyatakannya.
Sukses selalu. sahabatku meski belum perna jumpa.
17 September 2008 pada 04:49
Tulisan ini bener² membuat saya terenyuh, bangga sekaligus rindu untuk pulang kampoeng bersama orang tua dan saudara² tercinta.
Nggak sabar untuk segera mudik dan lebaran di rumah…
[Salam kenal...]