Sesenyap apa yang menghujam
Ketika semesta tertidur dalam diri
Gemerisik dedaunan,gemertak ranting
Mengoda daun telinga
Dan desau angin menusuk tubuh berselimut
Oh…
Tangan siapakah ini?
Membelai sukma membawa pada negeri cahaya
Putih
Tak dingin
Tak panas
Senyap…
Merelung dalam dada
Kaukah puspa tajam itu?
Kalau iya bawa kedalam rahasia
Yang tersimpan sangat dalam
Terjemahkan perihal kedatanganmu pada malam seribu cinta
PERIHAL MIMPI
Posted in Sajak on 17 Januari 2010 by langitjiwaDESEMBER
Posted in Sajak on 1 Januari 2010 by langitjiwausia yang semakin usang
terkulai pada angka-angka kalender
wajahnya yang purba
mengelayut di ujung tahun
ringkih tubuh tertatihtatih
berjalan dari ruang ke ruang
pohon cemara plastik
terangkai dari jejemari kecil
gemuruh nafas menahan isak dalam dada
memperhatikan kerutkerut wajahmu serupa sketsa-sketsa
yang terus memanjang,mengulir,lingkaran,patah-patah
ada yang ingin kau ceritakan padaku yang duduk disampingmu
desau angin menyelimuti semesta raya,dingin.
segumpal halimun menghalangi cahaya matahari
padang ilalang gontai
jalanan lenggang
pintu-pintu membisu
jendela kamar mengigil
menahan gemeruh angin,menampar.
Di sudut ruang kamar tengah,di bawah
Pohon cemara dan kerlap kerlip lampu
Ibu berdoa menyambut pagi di bulan desember :
“ Bapa kami yang ada di surga di muliakanlah namamu,pada natal tahun ini aku tak bersama suamiku tercinta Ia telah meninggalkan aku pada tahun yang lalu,kini ia ada dalam pangkuanmu dalam dekap cintamu.
Bapa…,aku dapat melihatnya Ia tersenyum padaku di pagi ini.”
Dari balik bantal guling,aku melihat ibu bercakapcakap dengan ayah
Dengan bahasa kalbu mereka melepas kerinduan
BERBURU LAYANG-LAYANG
Posted in Sajak on 5 Desember 2009 by langitjiwakesunyian memberi khabar
tentang masa kecil
ketika memburu layang-layang
di padang ilalang yang basah sehabis hujan semalam
berlari kencang bagai kijang,meliuk-liuk seperti maradona
melewati tiga empat pemain musuh
layang-layang terbang melayang
menjauh dari pusat titik aku berdiri
menengadah kepalaku yang gundul
ada pitak tak jauh di atas daun telinga kiri
tergores kaleng susu terlempar dari adik tersayang
mengejar layang-layang,mengejar seribu kisah
yang akan aku ceritakan pada kakek
bagaimana saat aku melompati satu,dua,tiga gundukan tanah
hup…!
yah…
lakilaki itu harus melompat jauh,itu wejangan dari kakek
bila kelak aku sudah dewasa nanti
menerabas padang ilalang dengan mata setajam mata elang
menatap buruan: layang-layang bergambar hati dengan tinta merah
hati itu jalan menuju taman bunga cinta di sana,di surga sana
itu ucapan kakek ketika kami berdua memancing ikan lele di kolam belakang rumah
lalu?dapatkah aku melihat surga kelak?ketika hati hitam pekat seperti membaca
jejakjejak pejalan cinta yang terselimut kabut yang maha tebal
protes dalam hati
aku terjatuh,terjerembab
wajah dengan hidung serupa jambu bol
mencium tanah pertiwi
kau harus cinta tanah air
sejelek apapun ia tetap tanah airmu,
tanah bumi pertiwi,itu pesan kakekku
sambil ia mengusap mesra lencana-lencana yang tergantung pada baju doreng
yang selalu tersimpan dengan baik di dalam almari jati tua
aku menangis,menahan rasa sakit yang sangat
hidungku berdarah
dengkulku terkelupas
aku ingat pesan kakek: lakilaki itu tak boleh cengeng,karena kau akan mengalami
luka yang akan membuatmu sakit sangat
Ketika beribu anak panah dunia menghujami dirimu
karena kau adalah panglima bagi dirimu
senja memerah jingga
setapak demi setapak menyusuri
hamparan padi yang menguning gading
lima buah layangan hasil berburu di cakrawala
dengan galah dari bambu dan ranting-ranting kecil di ujungnya
yang selalu menghalangi cahaya matahari sepanjang hari
tersimpan baik di dalam lumbung padi
esok seusai pulang sekolah
aku ingin berburu kembali
setelah semua selesai
aku akan ceritakan di makam kakek
sudah berapa hasil buruanku untuk hari ini
catatan yang tertinggal pada sebuah rumah kecil di kota Bandung,
l a n g i t j i w a.
foto by : Raraindra Prakasa
CATATAN NOVEMBER
Posted in Sajak on 1 Desember 2009 by langitjiwaGemuruh petir mencubit daun telinga
Kaca-kaca bergetar,jalanan lenggang
Pintu-pintu membisu,dedaunan terbang melayang tanpa tenaga
aku duduk dibibir jendela yang mengangga lebar
membaui aroma tanah basah di siram air hujan
bersama usia yang semakin usang
Dan kerut-kerut wajah yang mengelayut
tinggal menunggu jatuh pada musim musim berganti
Kayu jendela pucat
Ada embun di balik kaca,wajahmu menarinari
Berkejaran bersama imajinasi dan hinggap
Dipucuk-pucuk pepohonan,aku menunggu
Mimpi-mimpi yang terjatuh
Lalu terkulai di ujung jejarum jam
Tik toknya seperti detang jantung
Berlomba bersama gemuruh petir
Tujuh kuntum bunga mawar merah bermekaran di bola matamu
biarkan bermandi air hujan agar merontokan debu debu yang melekat
begitu pun jiwa panca indera kita yang selalu rindu untuk dibasuh
Yang telah sekian lama berkarat
Hujan di bulan November,hujan pertama
ada keberangkatan yang tinggal menunggu waktu
Menjemput kau bersama cinta
Yang terbangun dari puing-puing asa dan harap
Bola mataku menatap dinding kamar kusam
ada sebuah lukisan yang tergantung mengambarkan empat kiblat
Memandanginya seperti mengaji diri,mengaji rasa membongkar keakuan.
Tiba-tiba aku mengigil kudekap tubuh dengan kedua tangan,meringuk
Pukul dua dini hari ranjang hitam meminta tubuh
Selamat tidur….selamat tidur….
Kesadaran melalang buana ke segenap penjuru semesta pada diri
Untuk menyambut hari yang baru dengan persoalan
dan permasalahan yang baru pula
Di sana pula aku berusaha mematahkan ketakutan-ketakutan dalam diri
>Kamar tengah,20 November 2009
TERMINAL KEBERANGKATAN
Posted in Sajak on 10 November 2009 by langitjiwaKepalamu terkulai di dadaku
Bersama airmata yang tumpah
Mengulung semesta pada diriku
Bagaimana kata perpisahan harus di ucapkan,
Ketika jadwal keberangkatan tinggal menunggu waktu?
UNTUK KESEKIAN KALINYA AKU MENDENGAR TANGISMU
Posted in Sajak on 10 Oktober 2009 by langitjiwa
aku yang terbaring sakit
tersentak dan terbangun pada pukul dua dini hari
lamatlamat terdengar bunyi butiran airmata
jatuh ke lantai kelam
menjelma lukisan dirimu
menarinari di langit kesadaranku
merayap pada urat nadi
bergelantungan di jantungku
sesudah itu meledak
mengetarkan kalbuku!
photo by : Novic Arman Zhenikeyev
Pukul 7.15 wib
Posted in Sajak on 21 September 2009 by langitjiwatiga potong kue dan coklat yang meleleh di atas meja jati tua
seperti air matamu pagi tadi.aku dekap erat tubuhmu yang kecil,dan aku bisikan pada dinding telingamu: maafkan aku..maafkan aku lahir dan bathin,
aku mencintamu seperti matahari mencintai semesta raya






















