LOL..

Lol, ini malam merajam
Jangan lari kau ke ujung sepi
Sebab sudah tergenapi aku tiba di hadapanmu
Tuntaskan rindumu dengan badik
Tikam sesuka rasamu, aku mati.
Lol, jangan kau jilati mayatku nanti
Jilati saja dustamu
Lol, kau semakin tolol !
Dunia rupa kembang tujuh warna
kau masih saja merasa, merasai, merasakan tak berwarna.

LOL…

Lol, ini malam merajam
Jangan lari kau ke ujung sepi
Sebab sudah tergenapi aku tiba di hadapanmu
Tuntaskan rindumu dengan badik
Tikam sesuka rasamu, aku mati.
Lol, jangan kau jilati mayatku nanti
Jilati saja dustamu
Lol, kau semakin tolol !
Dunia rupa kembang tujuh warna
kau masih saja merasa, merasai, merasakan tak berwarna.

SAJAK-SAJAK WING KARDJO

SAJAK DALAM ANGIN

Beri aku mimpi
bagai seribu lilin,
tak putus-putus nyala
dalam malam-malam dingin

hingga kelam
tak mau lagi berbenah
di kamarku, ruang yang
tak kenal istirah, Maka kami

pun tak habis nyalang,
membuka mata menyanyikan
lagu-lagu riang tentang beribu-ribu

kenangan
tentang rindu yang
tak kenal bayang-bayang

05 Nyanyian

Junjungan. Aku tahu
Apa yang mesti kucintai, Hidup
Tetapi udara yang mesti kuhirup
Gemetar dan lapar
Tak sampai ikut membusuk. Arti
Cumbuan kuntum dan duri
Nyanyian surgawi, pedih
Dunia terancam dan pergi. Letih
Hanya hatiku. Jalan sampai badai
Nyanyi, walau tahu
Tinggal sunyi melambai
Junjungan. Aku tahu
Apa yang mesti kucintai. Hidup
Biar titik makin sayup

YANG JAUH

Seolah hidup harus hidup
kau yang jauh, makin jauh
saja, seakan hanya bayang-
bayang di bawah pohon teduh

Kau hilang dari pemandangan
tapi pula tak mati seperti mimpi.
Adakah yang kautunggu selalu
meskipun hari-hari terus berlalu?

Mungkin petang dan bayang-
bayang musim panas makin
panjang, makin cemas

daun-daun menguning mendekati
musim gugur. Hari makin pendek
saja. Nanti, nantikanlah!

WARUNG KOPI DAN CATATAN YANG TERTUNDA

Malam ini aku antarkan segera puisi yang aku tulis di warung kopi Sedati.

Warung kopi itu tak jauh dari lampu merah kedua setelah dari Bandara Juanda.

Hanya beberapa kalimat, kini aku sudah di depan pagar rumahmu.

Dua tiga kerikil kulempar kekaca jendela, tak ada tanda-tanda dari dalam kamarmu.

Tirai tak bergerak, anjing mengonggong, awan hitam dan bulan entah kemana.

Setengah malam kududuk pada tiang melintang, menunggu.

Pejamkan mata, kudiam. Aku seperti pertapa menyentuh kedalaman rasa.

Kuhantarkan rasa hati mengketuk pintu hatimu, lembut kapas.

Perlahan kau bangun, mata sayu senja yang jingga.

Kau kecup, luruh aku, menjadi kelopak bunga dibibirmu.

( 16, November 2011. langit )

PUAN

Jalanan lenggang, anjing mengongong
Penjaga malam memukul tiang listrik
Dua kali berdentang tiang bergetar
Seperti ada yang rubuh didadaku

Dari balik jendela
Sebatang pelepah daun pisang
Terkulai menyentuh tanah
Batang tua terukir angin
Merindukan air mata langit

Malam semakin tua
kabut semakin pekat
Puan mengigil, batuknya menggelegar !
Memecahkan suara penyiar televisi memberitakan tentang keadaan negeri ini
Bibir kecil meminta seteguk air dan sebutir obat
Cepat sembuh, nak
Bapakmu hanya seorang kuli angkut kata
Ini hidup adalah pelangi
berwarna warni duka dan suka

( Dusun Bono, 12 Sepetember 2011. langit menulis )