Kepalamu terkulai di dadaku
Bersama airmata yang tumpah
Mengulung semesta pada diriku
Bagaimana kata perpisahan harus di ucapkan,
Ketika jadwal keberangkatan tinggal menunggu waktu?
TERMINAL KEBERANGKATAN
Posted in Sajak on 10 November 2009 by langitjiwaUNTUK KESEKIAN KALINYA AKU MENDENGAR TANGISMU
Posted in Sajak on 10 Oktober 2009 by langitjiwa
aku yang terbaring sakit
tersentak dan terbangun pada pukul dua dini hari
lamatlamat terdengar bunyi butiran airmata
jatuh ke lantai kelam
menjelma lukisan dirimu
menarinari di langit kesadaranku
merayap pada urat nadi
bergelantungan di jantungku
sesudah itu meledak
mengetarkan kalbuku!
photo by : Novic Arman Zhenikeyev
Pukul 7.15 wib
Posted in Sajak on 21 September 2009 by langitjiwatiga potong kue dan coklat yang meleleh di atas meja jati tua
seperti air matamu pagi tadi.aku dekap erat tubuhmu yang kecil,dan aku bisikan pada dinding telingamu: maafkan aku..maafkan aku lahir dan bathin,
aku mencintamu seperti matahari mencintai semesta raya
LANGITJIWA MENGUCAPKAN:
Posted in jendela kamar: on 19 September 2009 by langitjiwa
KEBERANGKATAN TINGGAL MENUNGGU WAKTU,JIWA SUDAH MEMINTA SEGERA UNTUK TIBA DI HARI FITRI.
TUHAN,KENAKAN BAJU BARU PADA KAMI YANG ENGKAU JAHIT DENGAN RAHMAT DAN RAHIMMU
* SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN *
TAMAN BUNGA
Posted in Sajak on 17 September 2009 by langitjiwaketika qalb menyapaMU dengan maha lembut
tanganMU menarik jiwa
lihat! pada padang luas mata memandang tak ada batas
ini jabarutku
ini jabarutku
silakan masuk pada taman Cinta-KU
PERTEMPURAN PADA DUA KELOKAN
Posted in Sajak on 5 September 2009 by langitjiwa kanan kiri
kiri kanan
kanan-kanan
kiri-kiri
kanan ke kanan
kiri ke kiri
kanan ke kiri
kiri ke kanan
?
?
menari-nari
di antara tersirat dan tersurat
kanan ?
kiri ?
mampuslah kau!
AMELIA
Posted in Sajak on 31 Agustus 2009 by langitjiwadi cakrwala aku tulis namamu
pada lembah arjuna aku tanam namamu di telaga cinta
di padang ilalang namamu menarinari
di mata senja namamu bercahaya jingga
di semesta namamu abadi
aku berlari ke puncak gunung arjuna
bunga2 aldeweis luruh menahan getar gelombang derap lariku
di sana aku aku mengangkangi rahimnya,
dan aku bisikan dengan maha lembut: aku sayang padamu…
kembali aku berlari,berlari ke gigir pantai
pada samudera aku berteriak: kau maha bagiku
deru nafasku menghantam dinding karang
di ujung bibir tebing aku berdiri menghadap rembulan
aku bidikan matapena
agar kau tahu darah rembulan
tiba-tiba,matamu berkaca serupa kristal di puncak jiwa
butiran-butiran airmata jatuh kelantai bumi
bunyinya mengusik sepi malam
beri..beri…bibirmu
sebelum aku mati sebelum katakata terbang tinggi
dan kau..kau di ujung bumi
di barat cinta
aku berlabuh
kekasih,dalam haus sangat aku mau minum airmatamu





















